Bolehkah Makanan Bayi Diberi Perasa?
Wednesday, September 5th, 2007Bolehkah Makanan Bayi Diberi Perasa?
18-Juli-2007
Oleh: dr Handrawan Nadesul
Makanan bayi tentu saja tidak boleh disamakan dengan makanan orang
dewasa. Selain saluran pencernaan bayi belum siap menerima segala
jenis menu orang dewasa, susunan gigi-geligi, dan sejumlah organ yang
terkait dengan pengolahan (metabolisme) makanan yang dikonsumsi belum
tentu sudah cukup matang untuk menerimanya. Termasuk segala jenis
perasa dalam makanan. Masih bolehkah bayi menerimanya?
KALAU ditanya apakah boleh, jawabannya tentu saja sebaiknya tidak.
Lebih baik tidak menambahkan segala sesuatu sehingga menambah beban
tubuh bayi, selain kemungkinan tidak menyehatkan.
Beban memikul asupan garam dapur (NaCl) yang melebihi kemampuan
ginjal bayi yang belum kuat memikulnya. Fungsi ginjal bayi belum
cukup matang untuk menyisihkan kelebihan mineral dalam garam dapur.
Maka segala jenis menu dengan kandungan garam dapur, apalagi yang
berlebihan, sebaiknya dijauhkan dari menu harian bayi.
Natrium sudah mencukupi dari bukan garam dapur
Tubuh memang membutuhkan mineral natrium yang dapat diperoleh dari
garam dapur. Namun tak perlu mengonsumsi khusus garam dapur jika
natrium yang terkandung dalam bahan makanan alami sudah mencukupi.
Hampir semua produk laut, secara alami sudah mengandung unsur
natrium, tanpa perlu menambahkan garam dapur sekalipun. Maka semakin
beragam menu bayi (setelah mulai diberikan nasi tim), semakin kecil
kemungkinan tubuh bayi terancam kekurangan unsur mineral natriumnya.
Betul. Tubuh tidak boleh sampai kekurangan natrium yang melakukan
perannya pada otot dan jantung juga. Sama halnya seperti akibat yang
ditimbulkan pasca diare, tubuh mengalami kekurangan unsur natrium
yang ekstrim, sehingga bisa saja terjadi renjatan (syok). Maka esktra
natrium dari larutan gula-garam atau oralit pada kasus diare memang
suatu keharusan. Kekurangan natrium berpengaruh buruk pada tekanan
darah juga. Namun kelebihan natrium dalam tubuh, sebagaimana terjadi
pada budaya makan serba asin, sama tidak menyehatkannya.
Tubuh rata-rata orang modern, akibat budaya makan asin, cenderung
kelebihan natrium dalam tubuhnya sehingga berisiko meninggikan
tekanan darah. Darah tinggi orang dengan budaya makan asin, terjadi
akibat natrium dalam darah melebihi normal.
Membentuk bukan lidah asin
Lidah seseorang dibentuk sejak kecil. Jika dari bayi tidak dibiasakan
mengonsumsi cita rasa asin (banyak takaran garam dapurnya),
seterusnya lidah tidak terbiasa menerima rasa asin. Ambang asin lidah
terbentuk lebih rendah, sehingga menolak dan merasa tidak nyaman
menerima menu yang terlampau asin.
Sebaliknya apabila sejak bayi lidahnya sudah dibentuk cita rasa asin,
menu yang dipilih akan cenderung lebih asin dari rata-rata menu
normal. Keadaan begini yang dinilai tidak menyehatkan karena akan
terbawa sampai sepanjang hayat.
Membiasakan bayi cenderung menerima menu yang lebih asin, atau
membubuhi garam dapur lebih banyak, akan melahirkan orang dewasa yang
lidahnya menagih asin. Kebutuhan garam dapurnya mungkin tiga atau
empat kali lipat lebih besar dari orang normal.
Normal, dalam budaya makan asin, tubuh menerima kelebihan garam dapur
rata-rata lebih dari tiga kali lipatnya. Kelebihan garam ini yang
harus tubuh buang lewat ginjal, selain harus memikul akibat
meningginya tekanan darah.
Orang yang berdomisili di pedalaman, suku Eskimo, Indian, Dayak, yang
menu hariannya tanpa garam dapur, tidak ditemukan kasus-kasus darah
tinggi. Demikian pula suku-suku berumur di atas seratus tahun
(centenarian), menu hariannya sepi dari garam dapur. Dan itu yang
sesungguhnya menyehatkan tubuh.
Waspadai camilan
Kita tahu hampir semua camilan dan jajanan cenderung membubuhi garam
dapur yang melebihi kebutuhan tubuh. Sehari tubuh hanya membutuhkan
natrium kurang dari 5 gram garam dapur. Kalau dihitung, asupan garam
dapur rata-rata orang dengan budaya makan asin sekitar 15 Gram
seharinya. Dan itu berasal dari hampir semua menu di luar rumah. Menu
restoran, khususnya restoran China, aneka camilan, dan jajanan, garam
dapurnya cenderung melebihi kebutuhan tubuh.
Maka seberapa bisa, mengolah menu sendiri di rumah yang ditakar garam
dapurnya. Pemerintah Singapura membatasi pemakaian garam dapur pada
semua restorannya, sehingga memang cenderung lebih tawar dibanding
menu restoran di Indonesia. Dan cara menyehatkan itu yang menjadi
program nasionalnya.
Kita tahu garam dapur dalam kecap, kendati namanya kecap manis,
kandungan garam dapurnya juga melebihi kebutuhan tubuh. Padahal
kebiasaan makan orang kita cenderung tiada hari tanpa kecap. Maka
dari itu, jangan mulai membiasakan bayi berkenalan dengan serba kecap
kalau tidak mau nantinya terbiasa menyukai yang serba asin. Apalagi
kecap asin. Sekadar saus tomat dan sambal botol pun sudah lebih dari
sekadar asin.
Garam sodium rendah
Ya, ada baiknya cita rasa asin, yang memang menambah gurih cita rasa
makanan, bisa disiasati dengan membubuhi bukan garam dapur (NaCl),
melainkan memilih jenis garam yang kadar natriun (sodium)-nya rendah
saja (low sodium salt).
Gula pasir juga tidak menyehatkan
Ya, selain garam dapur, manis dari gula pasir tidak lebih menyehatkan
daripada manis dari madu atau gula merah (gula jawa). Maka kalau pun
perlu diberikan manis juga, biarkan manis itu berasal dari bahan
alami.
Air tebu sebagai bahan pembuat gula pasir memang pilihan yang
menyehatkan. Namun ketika air tebu diolah dan dicampurkan bahan
kimiawi untuk membentuk kristal gula pasir, itulah yang menjadikannya
tidak menyehatkan lagi. Maka lebih baik memilih gula merah (dari
enau, atau kelapa) yang proses pengolahannya tidak menambahkan bahan
kimiawi apa pun, selain lebih baik memilih madu.
Soal kaldu, sebetulnya tidak mengapa kalau diberikan untuk bayi.
Namun mitos hebatnya kaldu untuk bayi harus dihapus, oleh karena
kandungan kaldu hanyalah didominasi oleh kandungan lemak.
Lebih penting memberikan daging ayam, atau daging sapinya ketimbang
hanya memberikan kaldu ayam, atau kaldu daging sapinya. Tidak juga
cukup hanya memberi ceker ayam, yang juga karena mitos, anak
kehilangan kesempatan mendapat protein dari daging ayamnya. Ceker
ayam hanya berisi urat dan lemak belaka, kecil saja proteinnya.
Padahal yang bayi butuhkan justru protein pada dagingnya.