Kampanye ASI da Makanan Home Made nih ceritanya…

KORAN TEMPO
Minggu, 15 Juli 2007

 

Laporan Utama

 

Saatnya Kembali ke Alam

 

"Susu boleh (dikonsumsi), tapi tidak perlu."

 

Sejak dini Sisilia Pujiastuti membiasakan
putrinya, Damai Gayatri, mengkonsumsi hampir semua makanan alami. Sisil
menyusui sendiri bayinya tanpa susu formula dan makanan olahan. Ia
memilih beras merah sebagai sumber serat. Ikan, telur, dan daging
sumber protein. Buah serta sayuran sebagai sumber vitamin.

Untuk camilan si kecil yang kini 15 bulan, Sisil juga tidak
memberikan biskuit seperti orang tua masa kini lazimnya. Sebagai
gantinya, pekerja perusahaan swasta di Jakarta Selatan itu memberikan
buah dan sayuran rebus. "Dia doyan karena tidak pernah merasakan
enaknya biskuit," ujarnya seraya tergelak.

Lantaran telah terbiasa, Damai juga suka makan ikan. Padahal
ibunya bukan pencinta makanan laut. Tapi Sisil berusaha menyukai ikan
untuk memberikan contoh kepada anaknya. "Kami harus konsisten," ujar
Sisil. Makanan olahan pabrik yang diberikan sejauh ini hanyalah pasta
dan keju, yang dikonsumsi sesekali sebagai variasi.

Pendeknya, semuanya diusahakan alami. Berkat ketekunan ibunya,
Damai tumbuh sehat. Paling banter terserang pilek yang biasanya hanya
beberapa hari. Selain putrinya sehat, Sisil juga tak pusing ketika
harga susu formula melonjak. Anggaran belanja tak guncang oleh kenaikan
harga susu.

Langkah Sisil ini sejalan dengan anjuran dokter Utami Roesli.
Menurut Utami, tubuh manusia sejatinya butuh makanan dengan gizi yang
seimbang antara karbohidrat, vitamin, protein, dan mineral. Utami
menganjurkan agar masyarakat tidak terpaku pada prinsip empat sehat
lima sempurna yang mewajibkan susu dalam asupan makanan sehari-hari.

"Susu hanyalah salah satu sumber protein dan kalsium," ujar
dokter spesialis anak itu. Tapi bukan satu-satunya. Dengan gizi
seimbang, kata Utami, tubuh manusia sejatinya tidak butuh susu sapi,
apalagi susu yang mahal. Alam telah menyediakan banyak sumber vitamin,
protein, dan mineral. Telur, makanan berbahan dasar kedelai seperti
tempe dan tahu, daging, serta ikan adalah sumber protein yang baik.

Akan halnya kebutuhan kalsium, yang selama ini diyakini banyak
terkandung dalam susu, ada dalam semua sayuran berwarna hijau. Ikan
teri dan ikan-ikan kecil yang disebut Utami sebagai "ikan balita", yang
bisa dimakan berikut tulangnya, juga tidak boleh diabaikan. Di balik
tampilannya yang kurang menarik dan anggapan makanan murahan, teri dan
ikan balita sangat kaya protein serta kalsium, bisa diandalkan untuk
memasok kalsium.

Utami tidak menganjurkan para ibu mengencerkan susu untuk
mengakali mahalnya harga. Cara ini akan membuat asupan protein untuk
anak berkurang. Ia juga melarang pemberian air tajin. Air tajin, yang
tampangnya memang mirip susu itu, penuh karbohidrat, bukan protein.
Akibatnya, kata Utami, anak akan jadi bodoh karena gizi yang diberikan
justru tidak seimbang.

Menu keluarga dengan gizi seimbang sudah bisa dikonsumsi
anak-anak berusia dua tahun atau lebih, selepas masa menyusu yang
dianjurkan oleh pakar kesehatan dan Al-Quran. Setelah usia dua tahun,
kata Utami, anak-anak dan orang dewasa tidak perlu lagi minum susu.
Apalagi susu hasil olahan pabrik, yang kandungan protein dan kalsiumnya
banyak berkurang akibat proses produksi. "Sapi yang sudah bisa makan
rumput saja nggak mau minum susu induknya, kenapa malah diberikan kepada anak manusia?"

Akan halnya anak-anak dalam masa menyusui dianjurkan agar
kembali ke air susu ibu (ASI). ASI adalah makanan dan pembentuk otak
paling baik bagi bayi. Khasiatnya tidak tergantikan oleh apa pun. ASI
mengandung semua bahan pembentukan otak: lemak ikatan panjang yang
menjadi cikal-bakal AA dan DHA, talin, kolesterol, serta laktosa
lengkap beserta lipase yang berfungsi menyerap semua bahan pembentuk
otak itu. Sedangkan susu formula, kata Utami, tidak memiliki lipase.
Inilah perbedaan mencolok antara ASI dan non-ASI.

Soal kasus banyaknya ibu yang tidak bisa menyusui karena
beberapa alasan seperti bayi tidak bisa menyusu pada ibunya atau
minimnya ASI bisa diatasi dengan kemauan keras. Caranya, memberikan ASI
sedini mungkin begitu bayi lahir. Secara alami bayi sudah bisa mencari
puting ibunya begitu ia lahir. "Persis seperti anak kucing," kata
Utami.

Urusan memberi peneng, menimbang, dan mendata bayi setelah
kelahiran akan menjauhkan bayi dari ibunya. Akibat yang lebih fatal:
membuat bayi tidak tahu bagaimana cara menyusu. Utami menyarankan agar,
begitu lahir, bayi diletakkan di atas perut ibunya dan segera disusui.

Alam telah menyediakan semua bahan penting bagi tubuh manusia.
Belum lagi keuntungan tambahan seperti jaminan bayi tidak tersedak, dan
"hemat energi". Tidak perlu meluangkan tenaga untuk menyeduh susu
dengan air yang suhunya mesti disesuaikan dengan suhu tubuh. Dengan
sederet keuntungan itu, kata Utami, tidak ada alasan untuk tidak
kembali ke alam.

Indah Suksmaningsih, pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia, menganggap tindakan kembali ke alam ini merupakan jalan
keluar yang tidak hanya ampuh untuk menghindari guncangan kantong
akibat harga susu, tapi juga efektif melawan kedigdayaan produsen susu
yang sedikit-banyak mempengaruhi perekonomian keluarga. "Jangan
menyerahkan hidup kepada pasar." ENDRI KURNIAWATI

Leave a Reply