ASI..ASI..ASI!

http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=300561&kat_id=150

Selasa, 17 Juli 2007
Hadiah Berharga Pertama Bagi Kehidupan
    Konsep pemberian makan bayi usia 0-6 bulan adalah ASI, ASI, dan ASI.

      

 

Sebentuk
bayi mungil yang masih merah, rambut basah, dan mata merem tampak
tengkurang di atas dada ibunya. Cukup lama dia di sana tanpa aktivitas
yang berarti. Pemandangan seperti itu yang terkadang membuat dokter dan
suster atau bidan tidak tahan sehingga cepat-cepat mengambilnya, dan
menyerahkan pada ibunya agar disusui pertama kali.

Namun,
setelah 20 menit, tampak bayi yang baru beberapa menit itu lahir mulai
menggerakkan kepalanya, lalu hidung dan mulutnya mulai mengendus-endus
dada ibunya ke arah kanan. Dia mencoba mencari-cari sumber air susu ibu
(ASI). Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC dari Sentra Laktasi Indonesia
(Selasi) memindahkannya menjauhi arah kanan. Tak lama kemudian sang
bayi ‘merangkak’ kembali ke arah kanan mencari puting ibunya.

Pemandangan
itu bukan rekayasa. Melainkan salah satu video rekaman yang
menggambarkan bagaimana bayi yang baru lahir bila diletakkan di dada
ibunya akan mencari sumber ASI. Bayi tersebut lahir dari seorang ibu di
pedalaman di sebuah desa di Bantul, DIY.

Dan benar. Tak sampai
satu jam, sang bayi bisa menyusu ASI dengan lahap. Pemandangan tersebut
membuat trenyuh siapa pun yang menyaksikan. ”Jadi, beri waktu bayi
yang baru lahir satu jam pertama kehidupannya untuk mengenal dan
mendapatkan ASI,” tutur Utami.

Itulah yang disebut inisiasi
dini, yaitu menyusui langsung setelah bayi lahir. Sayang, tidak jarang
bayi yang lahir langsung ditimbang lalu dimandikan dan baru kemudian
diserahkan ke ibunya. Lalu sang bayi coba diberi ASI.

Pengenalan
ASI awal yang benar adalah bayi yang baru lahir dibersihkan dengan
cukup dilap badannya. ”Jangan hilangkan selaput putih yang ada di
kepalanya,” kata Utami. Kalau ibu khawatir sang bayi akan masuk angin,
kepala mungil tersebut ditutupi topi dan punggungnya ditutup selimut.

Reaksi
bayi atas inisiasi dini berlainan. Ada yang tidak lama sudah bisa mulai
menghisap puting ibunya. Tapi ada juga yang sudah dipaksa-paksa tetap
tidak mau. Ada bayi yang akhirnya tidak bisa atau bahkan tidak mau
mengonsumsi ASI.

Pemadangan berikut yang bisa disaksikan usai acara Media Gathering
‘ASI adalah Solusi: respons lembaga peduli ASI terhadap kenaikan Harga
Susu’ yang diselenggarakan oleh Mercy Corps Indonesia, Sentra Laktasi
Indonesia (Selasi), Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dan Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia (AIMI), pekan lalu, di Jakarta, adalah bayi yang
baru lahir dimandikan dulu dan ditimbang, baru kemudian ditaruh di dada
ibunya.

Reaksinya lamban sekali. Bahkan, ada yang hampir satu
jam baru sang bayi mulai mencari-cari puting ibunya. Itu yang berhasil.
Tidak jarang ibu dan orang-orang di sekitarnya sampai putus asa, sang
bayi tidak bereaksi. Ini termasuk kelompok bayi yang gagal mengenal ASI
pertamanya.

Padahal, ASI pertama yang keluar dari ibu adalah
kolostrum, yang sangat kaya nutrisi dan dibutuhkan bayi untuk tahan
dari infeksi.

Kalori ASI
Menurut
rekomendasi WHO, ASI eksklusif diberikan kepada bayi sejak lahir hingga
enam bulan pertama kehidupannya.  Selama itu, tak perlu makanan dan
minuman tambahan sebab ASI mengandung zat-zat yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan secara lengkap. Setelah itu ASI tetap diberikan dengan
tambahan makanan tambahan yang tepat hingga usia 2 tahun.

”Setelah
usia dua tahun, kebutuhan gizi anak dapat dicukupi dengan variasi
makanan lokal tanpa harus bergantung pada susu sapi,” ujar Dr
Fransiska E Mardiananingsih, MPH dari Mercy Corps Indonesia.

Utami menganggap kenaikan harga susu dan langkanya susu formula di sejumlah kota beberapa waktu lalu ada blessing in disguise (hikmah) tersendiri, yaitu relaktasi (kembalilah menyusui).

Lulusan
FK Unpad itu mengungkapkan, dari 500 ml ASI yang diberikan seorang ibu
ke anaknya yang berumur 2 tahun masih dapat memenuhi energi anak
sebanyak 31 persen, protein 38 persen, vitamin A 45 persen, dan vitamin
C 95 persen.

”Bayangkan bagaimana kalau bayi berusia satu
tahun, atau malah enam bulan. Kita bicara masalah gizi,” ujar
Sekretaris Selasi itu.

Utami menambahkan, kebutuhan kalori per
hari yang dipenuhi dari 500 ml ASI untuk bayi usia 6-8 bulan sebanyak
70 persen, usia 9-11 bulan sebesar 55 persen, dan usia 12-23 bulan
sebanyak 40 persen. Di Indonesia, lanjutnya, susu formula lebih sering
menyebabkan bayi mencret.

Utami lalu mengutip sejumlah
penelitian ilmiah yang menyebutkan, ASI mengurangi 6-8 kali risiko
kanker pada anak (limphoma maligna, leukimia, hodgkin, dan
neuroblastoma), dan mengurangi 2-5 kali kematian akibat penyakit
pernapasan. ASI juga mencegah terjadinya alergi, termasuk eczema,
alergi makanan dan alergi pernapasan selama masa anak-anak. ”Dan, anak
ASI 16x lebih jarang dirawat di rumah sakit,” ujarnya. Ia
menceritakan, Rafa, cucunya, kini berusia 15 bulan, yang mendapatkan
inisiasi dini dan ASI eksklusif selama enam bulan penuh belum pernah
sakit apa pun.

”Jadi, kalau mau donasi, hangan belikan susu formula, tapi makanan untuk ibunya,” tegas Utami.

Pendiri
YOP dan dokter anak, dr Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPaed,
Purnamawati mengemukakan, terjadi kelirumologi dalam pemberian makan
pada batita. Paham yang selama ini dianut ibu-ibu tapi keliru di
antaranya adalah:

* bila batita susah makan maka perlu diberi vitamin dan penambah nafsu, serta perbanyak minum susu
* beri formula sesuai usia untuk anak lebih dari setahun
* semakin komplit dan mahal susu formula, semakin baik untuk anak
* tidak tega memberikan susu yang tidak mahal.

”Susu
bukan lagi makanan utama bagi anak di atas usia 1 tahun melainkan hanya
salah satu asupan kalsium. Kita bisa memperoleh kalsium dari banyak
sumber seperti ikan, telur, keju, yoghurt, tahu, dan brokoli,”  kata
Purnamawati lulusan FK UI ini menegaskan.

”Menurut saya, kalau mengacu pada gizi seimbang, tidak perlu panik tanpa susu,” kata Ir Kresnawan MSc dari Depkes.

Di
akhir presentasinya Utami menunjukkan gambar seorang ibu dari Dhaka,
Srilanka, yang memegang dua anak kembarnya, laki-laki-dan perempuan.
Dia hanya mampu memberikan susu formula pada satu anak, dan dia pilih
anak perempuannya karena dia menganggap anak laki-laki lebih kuat.
Sedangkan bayi laki-laki cukup diberi ASI.

Pada gambar tampak di
tangan kanan dia memegang anak laki-laki (yang badannya subur dan
sehat) sementara di tangan kiri seorang bayi berbadan kecil dan kering
(yang perempuan). Satu jam setelah pengambilan foto tersebut oleh WHO,
bayi yang di tangan kiri meninggal dunia.

Leave a Reply