Archive for July, 2007

Happy World Breastfeeding Week!

Tuesday, July 31st, 2007

Tanggal 1-7 Agustus diperingati sebagai hari menyusui sedunia. Di hari2 ini  warga dunia diingatkan kembali soal karunia alamiah yang dimiliki seorang ibu, yaitu menyusui begitu melahirkan bayinya. Di Indonesia sendiri, tema yang diusung tahun in adalah 1 jam pertama yang begitu berarti menyelamatkah kehidupan. Ya di 1 jam pertama bayi berhak mendapatkan inisiasi dini, bagaimana dia mendapatkan kemampuan menyusu secara alami dan optimal. Begitu lahir, bayi mampu menyusu sendiri pada ibunya. Dan kemampuan ini akan berkurang bila bayi dimandikan dahulu atau dipisahkan beberapa waktu dari sang ibu. Mari, cintai anak2 kita, beri hak mereka atas ASI.

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=91206
Rabu, 4 Agustus 2004
Cegah Hilangnya Refleks Menyusu
Bayi Jangan Langsung Dimandikan Setelah Lahir
Penelitian di Swedia baru-baru ini memperlihatkan bayi yang diletakkan di dekat puting ibunya segera setelah lahir memiliki respon menyusui yang lebih baik, dibandingkan bayi yang dibersihkan lebih dahulu. Kondisi itu sangat menguntungkan sang bayi karena tidak saja mendapatkan kolostrum dari ASI –yang kaya zat gizi untuk kekebalan tubuhnya– tetapi juga melatih refleks menyusunya dengan benar.

Dalam sebuah tayang video disajikan bagaimana bayi baru lahir itu diletakkan di samping puting ibunya mampu menggerakkan tangan dan kakinya untuk mendapatkan puting ibunya. Begitu didapat, bayi dengan cepat membuka lebar mulutnya, lalu menyusui tanpa dibantu tangan ibunya. Setelah 10 menit bayi kemudian dibersihkan, kemudian diletakkan kembali ke dada ibunya. Refleks menyusunya sangat cepat dengan menggunakan tenaganya sendiri.

Sementara bayi yang dibersihkan setelah lahir, lalu diletakkan disamping puting ibunya tidak memperlihatkan respon atas puting ibunya. Meski sudah diletakkan diatas puting, bibir si bayi hanya diam saja. Keinginan menyusu dari bayi baru terjadi 10 jam kemudian, itupun harus dipandu sang ibu karena bayi kesulitan mendapatkan puting ibunya sambil menangis.

"Jika begitu lahir bayi langsung dimandikan, refleks menyusu ini langsung hilang 50 persen. Jika bayi lahir dengan operasi Caesar dan langsung dimandikan, refleks itu 100 persen hilang," kata Ketua Sentra Laktasi Indonesia, dr Utami Roesli mengomentari tayang yang menarik itu dalam sebuah diskusi tentang ASI, di Jakarta, Jumat (30/7) sehubungan dengan peringatan peringatan Pekan ASI Dunia 2004 yang jatuh pada 1-7 Agustus.

Penelitian terbaru itu, menurut dr Utami Roesli, seharusnya bisa mematahkan prosedur persalinan yang selama ini langsung membersihkan bayi segera setelah dilahirkan. "Bila melihat efek yang luar biasa pada bayi, kenapa kita tidak mencoba mempraktekkannya. Tetapi memang usaha ini bukan perkara mudah, karena bukan saja terkait dengan kebiasaan yang sudah mengakar masyarakat, tetapi juga harus berhadapan dengan produsen susu formula yang melakukan praktek gelap di rumah sakit," katanya.

Beberapa rumah sakit memberikan susu formula pada bayi yang baru lahir sebelum ibunya mampu memproduksi ASI. Hal itu menyebabkan bayi tidak terbiasa menghisap ASI dari puting susu ibunya, dan akhirnya tidak mau lagi mengonsumsi ASI atau sering disebut dengan "bingung puting".

"Menghisap susu dari botol itu lain dengan menghisap puting susu ibu. Bayi harus belajar sejak awal dan ibu juga harus belajar menyusui, karena ketrampilan itu memang harus dipelajari oleh keduanya," ujar dr Utami Roesli.

Sejak lahir, seorang bayi harus diajari menyusu dengan cara memasukkan seluruh areola payudara (daerah berwarna cokelat di payudara ibu) ke dalam mulut bayi. Jika bayi hanya mengisap puting susu saja, ASI yang keluar hanya sedikit. "Gudang ASI terletak di bawah daerah cokelat itu. Jika yang diisap hanya putingnya saja, ASI yang keluar hanya sedikit. Sedangkan, kalau dari daerah cokelat itu, ASI yang keluar akan banyak sekali," jelas Utami.

Jika ASI di gudang itu habis, pabrik ASI (alveoli) akan segera memproduksi lagi. Alveoli berbentuk bulat dan bergerombol seperti buah anggur. Alveoli dikelilingi otot yang disebut myoepithel. Otot inilah yang memompa ASI keluar dari alveoli menuju gudang ASI.

Namun, kinerja myoepithel sangat tergantung pada hormon oksitosin yang dikirim otak. Jika oksitosin keluar, otot pun bekerja. Sedangkan, oksitosin bisa keluar jika ibu merasa tenang dan disayang oleh suami serta mendapat dukungan dari orang-orang di sekelilingnya. "Makanya hormon ini disebut hormon kasih sayang. Dan di sinilah ayah memegang peranan penting," tegas Utami.

Macetnya proses pemberian ASI ini disebabkan beberapa hal. Misalnya, bayi yang tidak bisa mengisap, posisi menyusui yang salah, ibu merasa tidak nyaman, atau suami dan lingkungan tidak mendukung. "Tidak ada cerita seorang ibu tidak bisa menyusui atau ASI yang tidak cukup.

Perhatikan saja seekor marmut yang kecil bisa menyusui 12 ekor anaknya. Bayi gajah yang besar juga bisa disusui dengan cukup oleh induknya. Mereka tidak memerlukan susu hewan lain untuk memenuhi kebutuhan susu. ASI diproduksi berdasarkan jumlah yang dikeluarkan," ungkap Utami.

Dua Persen

Ia memperkirakan jumlah ibu yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya sampai berumur enam bulan saat ini masih rendah, yaitu kurang dari dua persen dari jumlah total ibu melahirkan. "Itu antara lain terjadi karena pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI masih rendah, tatalaksana rumah sakit yang salah, dan banyaknya ibu yang mempunyai pekerjaan di luar rumah," ucapnya.

ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. ASI eksklusif adalah makanan terbaik yang harus diberikan kepada bayi, karena di dalamnya terkandung hampir semua zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi.

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=91206

Rabu, 4 Agustus 2004

Cegah Hilangnya Refleks Menyusu

Bayi Jangan Langsung Dimandikan Setelah Lahir

Penelitian di Swedia baru-baru ini memperlihatkan bayi yang diletakkan di dekat puting ibunya segera setelah lahir memiliki respon menyusui yang lebih baik, dibandingkan bayi yang dibersihkan lebih dahulu. Kondisi itu sangat menguntungkan sang bayi karena tidak saja mendapatkan kolostrum dari ASI –yang kaya zat gizi untuk kekebalan tubuhnya– tetapi juga melatih refleks menyusunya dengan benar.

Dalam sebuah tayang video disajikan bagaimana bayi baru lahir itu diletakkan di samping puting ibunya mampu menggerakkan tangan dan kakinya untuk mendapatkan puting ibunya. Begitu didapat, bayi dengan cepat membuka lebar mulutnya, lalu menyusui tanpa dibantu tangan ibunya. Setelah 10 menit bayi kemudian dibersihkan, kemudian diletakkan kembali ke dada ibunya. Refleks menyusunya sangat cepat dengan menggunakan tenaganya sendiri.

Sementara bayi yang dibersihkan setelah lahir, lalu diletakkan disamping puting ibunya tidak memperlihatkan respon atas puting ibunya. Meski sudah diletakkan diatas puting, bibir si bayi hanya diam saja. Keinginan menyusu dari bayi baru terjadi 10 jam kemudian, itupun harus dipandu sang ibu karena bayi kesulitan mendapatkan puting ibunya sambil menangis.

"Tidak ada yang bisa menggantikan ASI karena ASI didesain khusus untuk bayi, sedangkan susu sapi komposisinya sangat berbeda sehingga tidak bisa saling menggantikan," jelasnya.

Menurut dia, ada lebih dari 100 jenis zat gizi dalam ASI antara lain AA, DHA, Taurin dan Spingomyelin yang tidak terdapat dalam susu sapi. Beberapa produsen susu formula mencoba menambahkan zat gizi tersebut, tetapi hasilnya tetap tidak bisa menyamai kandungan gizi yang terdapat dalam ASI. "Lagi pula penambahan zat-zat gizi tersebut jika tidak dilakukan dalam jumlah dan komposisi yang seimbang maka akan menimbulkan terbentuknya zat yang berbahaya bagi bayi," katanya.

Ditegaskan, ASI sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak. "Menurut penelitian, anak-anak yang tidak diberi ASI mempunyai IQ (Intellectual Quotient) lebih rendah tujuh sampai delapan poin dibandingkan dengan anak-anak yang diberi ASI secara eksklusif. Karena itu, mengkonsumsi ASI bagi bayi merupakan hak anak yang hakiki," ujarnya.

Anak-anak yang tidak diberi ASI secara eksklusif juga lebih cepat terjangkiti penyakit kronis seperti kanker, jantung, hipertensi dan diabetes setelah dewasa. Kemungkinan anak menderita kekurangan gizi dan mengalami obesitas (kegemukan) juga lebih besar.

Selain pada anak, pemberian ASI juga sangat bermanfaat bagi ibu. ASI, selain dapat diberikan dengan cara mudah dan murah juga dapat menurunkan resiko terjadinya pendarahan dan anemia pada ibu, serta menunda terjadinya kehamilan berikutnya.

Hal lain yang jauh lebih penting adalah timbulnya ikatan bathin (bonding) yang kuat antara ibu dan anak. "Ibu juga tidak perlu susah-susah melakukan diet untuk mengecilkan perut setelah melahirkan, karena hisapan anak pada puting susu ibu merangsang keluarnya hormon yang dapat mengencangkan dinding-dinding perut ibu kembali," katanya. (T-1)

ASI..ASI..ASI!

Thursday, July 19th, 2007

http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=300561&kat_id=150

Selasa, 17 Juli 2007
Hadiah Berharga Pertama Bagi Kehidupan
    Konsep pemberian makan bayi usia 0-6 bulan adalah ASI, ASI, dan ASI.

      

 

Sebentuk
bayi mungil yang masih merah, rambut basah, dan mata merem tampak
tengkurang di atas dada ibunya. Cukup lama dia di sana tanpa aktivitas
yang berarti. Pemandangan seperti itu yang terkadang membuat dokter dan
suster atau bidan tidak tahan sehingga cepat-cepat mengambilnya, dan
menyerahkan pada ibunya agar disusui pertama kali.

Namun,
setelah 20 menit, tampak bayi yang baru beberapa menit itu lahir mulai
menggerakkan kepalanya, lalu hidung dan mulutnya mulai mengendus-endus
dada ibunya ke arah kanan. Dia mencoba mencari-cari sumber air susu ibu
(ASI). Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC dari Sentra Laktasi Indonesia
(Selasi) memindahkannya menjauhi arah kanan. Tak lama kemudian sang
bayi ‘merangkak’ kembali ke arah kanan mencari puting ibunya.

Pemandangan
itu bukan rekayasa. Melainkan salah satu video rekaman yang
menggambarkan bagaimana bayi yang baru lahir bila diletakkan di dada
ibunya akan mencari sumber ASI. Bayi tersebut lahir dari seorang ibu di
pedalaman di sebuah desa di Bantul, DIY.

Dan benar. Tak sampai
satu jam, sang bayi bisa menyusu ASI dengan lahap. Pemandangan tersebut
membuat trenyuh siapa pun yang menyaksikan. ”Jadi, beri waktu bayi
yang baru lahir satu jam pertama kehidupannya untuk mengenal dan
mendapatkan ASI,” tutur Utami.

Itulah yang disebut inisiasi
dini, yaitu menyusui langsung setelah bayi lahir. Sayang, tidak jarang
bayi yang lahir langsung ditimbang lalu dimandikan dan baru kemudian
diserahkan ke ibunya. Lalu sang bayi coba diberi ASI.

Pengenalan
ASI awal yang benar adalah bayi yang baru lahir dibersihkan dengan
cukup dilap badannya. ”Jangan hilangkan selaput putih yang ada di
kepalanya,” kata Utami. Kalau ibu khawatir sang bayi akan masuk angin,
kepala mungil tersebut ditutupi topi dan punggungnya ditutup selimut.

Reaksi
bayi atas inisiasi dini berlainan. Ada yang tidak lama sudah bisa mulai
menghisap puting ibunya. Tapi ada juga yang sudah dipaksa-paksa tetap
tidak mau. Ada bayi yang akhirnya tidak bisa atau bahkan tidak mau
mengonsumsi ASI.

Pemadangan berikut yang bisa disaksikan usai acara Media Gathering
‘ASI adalah Solusi: respons lembaga peduli ASI terhadap kenaikan Harga
Susu’ yang diselenggarakan oleh Mercy Corps Indonesia, Sentra Laktasi
Indonesia (Selasi), Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dan Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia (AIMI), pekan lalu, di Jakarta, adalah bayi yang
baru lahir dimandikan dulu dan ditimbang, baru kemudian ditaruh di dada
ibunya.

Reaksinya lamban sekali. Bahkan, ada yang hampir satu
jam baru sang bayi mulai mencari-cari puting ibunya. Itu yang berhasil.
Tidak jarang ibu dan orang-orang di sekitarnya sampai putus asa, sang
bayi tidak bereaksi. Ini termasuk kelompok bayi yang gagal mengenal ASI
pertamanya.

Padahal, ASI pertama yang keluar dari ibu adalah
kolostrum, yang sangat kaya nutrisi dan dibutuhkan bayi untuk tahan
dari infeksi.

Kalori ASI
Menurut
rekomendasi WHO, ASI eksklusif diberikan kepada bayi sejak lahir hingga
enam bulan pertama kehidupannya.  Selama itu, tak perlu makanan dan
minuman tambahan sebab ASI mengandung zat-zat yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan secara lengkap. Setelah itu ASI tetap diberikan dengan
tambahan makanan tambahan yang tepat hingga usia 2 tahun.

”Setelah
usia dua tahun, kebutuhan gizi anak dapat dicukupi dengan variasi
makanan lokal tanpa harus bergantung pada susu sapi,” ujar Dr
Fransiska E Mardiananingsih, MPH dari Mercy Corps Indonesia.

Utami menganggap kenaikan harga susu dan langkanya susu formula di sejumlah kota beberapa waktu lalu ada blessing in disguise (hikmah) tersendiri, yaitu relaktasi (kembalilah menyusui).

Lulusan
FK Unpad itu mengungkapkan, dari 500 ml ASI yang diberikan seorang ibu
ke anaknya yang berumur 2 tahun masih dapat memenuhi energi anak
sebanyak 31 persen, protein 38 persen, vitamin A 45 persen, dan vitamin
C 95 persen.

”Bayangkan bagaimana kalau bayi berusia satu
tahun, atau malah enam bulan. Kita bicara masalah gizi,” ujar
Sekretaris Selasi itu.

Utami menambahkan, kebutuhan kalori per
hari yang dipenuhi dari 500 ml ASI untuk bayi usia 6-8 bulan sebanyak
70 persen, usia 9-11 bulan sebesar 55 persen, dan usia 12-23 bulan
sebanyak 40 persen. Di Indonesia, lanjutnya, susu formula lebih sering
menyebabkan bayi mencret.

Utami lalu mengutip sejumlah
penelitian ilmiah yang menyebutkan, ASI mengurangi 6-8 kali risiko
kanker pada anak (limphoma maligna, leukimia, hodgkin, dan
neuroblastoma), dan mengurangi 2-5 kali kematian akibat penyakit
pernapasan. ASI juga mencegah terjadinya alergi, termasuk eczema,
alergi makanan dan alergi pernapasan selama masa anak-anak. ”Dan, anak
ASI 16x lebih jarang dirawat di rumah sakit,” ujarnya. Ia
menceritakan, Rafa, cucunya, kini berusia 15 bulan, yang mendapatkan
inisiasi dini dan ASI eksklusif selama enam bulan penuh belum pernah
sakit apa pun.

”Jadi, kalau mau donasi, hangan belikan susu formula, tapi makanan untuk ibunya,” tegas Utami.

Pendiri
YOP dan dokter anak, dr Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPaed,
Purnamawati mengemukakan, terjadi kelirumologi dalam pemberian makan
pada batita. Paham yang selama ini dianut ibu-ibu tapi keliru di
antaranya adalah:

* bila batita susah makan maka perlu diberi vitamin dan penambah nafsu, serta perbanyak minum susu
* beri formula sesuai usia untuk anak lebih dari setahun
* semakin komplit dan mahal susu formula, semakin baik untuk anak
* tidak tega memberikan susu yang tidak mahal.

”Susu
bukan lagi makanan utama bagi anak di atas usia 1 tahun melainkan hanya
salah satu asupan kalsium. Kita bisa memperoleh kalsium dari banyak
sumber seperti ikan, telur, keju, yoghurt, tahu, dan brokoli,”  kata
Purnamawati lulusan FK UI ini menegaskan.

”Menurut saya, kalau mengacu pada gizi seimbang, tidak perlu panik tanpa susu,” kata Ir Kresnawan MSc dari Depkes.

Di
akhir presentasinya Utami menunjukkan gambar seorang ibu dari Dhaka,
Srilanka, yang memegang dua anak kembarnya, laki-laki-dan perempuan.
Dia hanya mampu memberikan susu formula pada satu anak, dan dia pilih
anak perempuannya karena dia menganggap anak laki-laki lebih kuat.
Sedangkan bayi laki-laki cukup diberi ASI.

Pada gambar tampak di
tangan kanan dia memegang anak laki-laki (yang badannya subur dan
sehat) sementara di tangan kiri seorang bayi berbadan kecil dan kering
(yang perempuan). Satu jam setelah pengambilan foto tersebut oleh WHO,
bayi yang di tangan kiri meninggal dunia.

Berita Pers Soal ASI dan Makanan Seimbang

Monday, July 16th, 2007

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
A:link { color: #0000ff }
–>

Berita
Pers

DAPAT
DITERBITKAN SEGERA

Pemberian
ASI Eksklusif Dan Makanan Seimbang

Sebagai
Solusi Kenaikan Harga Susu   

JAKARTA,
12 Juli 2007
– Empat lembaga peduli air susu ibu (ASI)
menyampaikan keprihatinan mereka terhadap terganggunya asupan nutrisi
bayi dan anak karena kenaikan harga susu. Hal ini tidak perlu terjadi
kalau saja masyarakat memiliki pemahaman yang benar dan tepat
mengenai kebutuhan nutrisi bayi dan anak. Mercy Corps, Sentra Laktasi
Indonesia (Selasi), Yayasan Orangtua Peduli (YOP) dan Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia (AIMI) mengajak masyarakat untuk memenuhi
kebutuhan gizi bayi dan anak secara sempurna dengan memberikan ASI
setidaknya hingga usia 2 tahun dan makanan sehat seimbang. Dengan hal
tersebut, penambahan susu sapi dalam konsumsi sehari-hari bukan
menjadi hal yang utama.      

Dr.
Fransiska Mardiananingsih, MPH dari Mercy Corps menyatakan, “Terlepas
dari promosi pemberian ASI yang terus dilakukan Departemen Kesehatan
dan berbagai lembaga non-pemerintah, akses kepada informasi yang
tepat mengenai ASI dan makanan seimbang memang perlu diperluas.
Karena itu kami menghimbau masyarakat untuk menyebarluaskan informasi
dan memberikan dukungan yang diperlukan orang tua, khususnya para
ibu, untuk memberikan ASI secara tepat.”

Dr.
Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC dari Selasi menjelaskan, “Yang
terbaik adalah tetap memberikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6
bulan dan setelah itu diberikan dengan makanan pendamping ASI hingga
usia 2 tahun atau lebih. Teknik relaktasi adalah solusi bagi para ibu
untuk kembali menyusui bayinya.”

 

Pendiri
YOP dan dokter anak, Dr. Purnamawati S. Pujiarto, SpAK, MMPaed
menambahkan, “Peran serta masyarakat sangat diperlukan untuk
mendukung pemberian nutrisi seimbang tanpa susu formula bagi bayi dan
anak. Yang terutama, berikan makanan buatan rumah dengan bahan segar
alami yang ada di sekeliling kita. Susu bukan lagi merupakan makanan
utama bagi anak di atas usia 1 tahun, melainkan hanya salah satu
asupan kalsium. Kita bisa memperoleh kalsium dari banyak sumber
seperti ikan, telur, keju, yoghurt, tahu, brokoli.”

Wakil
Ketua AIMI, Rahmah Housniati menegaskan, “Kami yakin apabila para
ibu memberikan ASI, maka kenaikan harga susu ini tidak akan
berpengaruh sama sekali. Inilah yang kami alami saat ini.”

Ke-4
lembaga peduli ASI sangat mengharapkan masyarakat dapat memperoleh
informasi yang tepat mengenai ASI dan makanan seimbang, serta
memberikan ASI dan makanan seimbang yang mudah, sehat dan terjangkau
untuk pemenuhan gizi anak. 

- Selesai -

Untuk
informasi lebih lanjut, silakan hubungi:


Mercy
Corps

Dr.
Fransiska Mardiananingsih, MPH

Jl.
Kemang Selatan I no. 3 Jakarta 12730

Tel:
(021) 719 4948

Email:
fningsih@id.mercycorps.org 

Sentra
Laktasi Indonesia

dr.
Utami Roesli, SpA,MBA, IBCLC

Jl.
Tebet Utara 1F No. 12 Jakarta Selatan

Tel:
(021) 8379 5168

Email:
tamiroes@gmail.com 

Yayasan
Orang Tua Peduli

dr.
Purnamawati S Pujiarto SpAK,MMPed 

Komplek
PWR Jl. Taman Margasatwa No. 60

Jakarta
12540

Tel:
(021) 780 0271

Email:
purnamawati.spak@cbn.net.id

Asosiasi
Ibu Menyusui Indonesia

Rahmah
Housniati

Graha
MDS Lantai 4, Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati Blok B1/34, Jl. RS
Fatmawati No. 39

Jakarta
12150

Tel:
(021) 7279 0165

Email:
kontak@aimi-asi.org 

Kampanye ASI da Makanan Home Made nih ceritanya…

Monday, July 16th, 2007

KORAN TEMPO
Minggu, 15 Juli 2007

 

Laporan Utama

 

Saatnya Kembali ke Alam

 

"Susu boleh (dikonsumsi), tapi tidak perlu."

 

Sejak dini Sisilia Pujiastuti membiasakan
putrinya, Damai Gayatri, mengkonsumsi hampir semua makanan alami. Sisil
menyusui sendiri bayinya tanpa susu formula dan makanan olahan. Ia
memilih beras merah sebagai sumber serat. Ikan, telur, dan daging
sumber protein. Buah serta sayuran sebagai sumber vitamin.

Untuk camilan si kecil yang kini 15 bulan, Sisil juga tidak
memberikan biskuit seperti orang tua masa kini lazimnya. Sebagai
gantinya, pekerja perusahaan swasta di Jakarta Selatan itu memberikan
buah dan sayuran rebus. "Dia doyan karena tidak pernah merasakan
enaknya biskuit," ujarnya seraya tergelak.

Lantaran telah terbiasa, Damai juga suka makan ikan. Padahal
ibunya bukan pencinta makanan laut. Tapi Sisil berusaha menyukai ikan
untuk memberikan contoh kepada anaknya. "Kami harus konsisten," ujar
Sisil. Makanan olahan pabrik yang diberikan sejauh ini hanyalah pasta
dan keju, yang dikonsumsi sesekali sebagai variasi.

Pendeknya, semuanya diusahakan alami. Berkat ketekunan ibunya,
Damai tumbuh sehat. Paling banter terserang pilek yang biasanya hanya
beberapa hari. Selain putrinya sehat, Sisil juga tak pusing ketika
harga susu formula melonjak. Anggaran belanja tak guncang oleh kenaikan
harga susu.

Langkah Sisil ini sejalan dengan anjuran dokter Utami Roesli.
Menurut Utami, tubuh manusia sejatinya butuh makanan dengan gizi yang
seimbang antara karbohidrat, vitamin, protein, dan mineral. Utami
menganjurkan agar masyarakat tidak terpaku pada prinsip empat sehat
lima sempurna yang mewajibkan susu dalam asupan makanan sehari-hari.

"Susu hanyalah salah satu sumber protein dan kalsium," ujar
dokter spesialis anak itu. Tapi bukan satu-satunya. Dengan gizi
seimbang, kata Utami, tubuh manusia sejatinya tidak butuh susu sapi,
apalagi susu yang mahal. Alam telah menyediakan banyak sumber vitamin,
protein, dan mineral. Telur, makanan berbahan dasar kedelai seperti
tempe dan tahu, daging, serta ikan adalah sumber protein yang baik.

Akan halnya kebutuhan kalsium, yang selama ini diyakini banyak
terkandung dalam susu, ada dalam semua sayuran berwarna hijau. Ikan
teri dan ikan-ikan kecil yang disebut Utami sebagai "ikan balita", yang
bisa dimakan berikut tulangnya, juga tidak boleh diabaikan. Di balik
tampilannya yang kurang menarik dan anggapan makanan murahan, teri dan
ikan balita sangat kaya protein serta kalsium, bisa diandalkan untuk
memasok kalsium.

Utami tidak menganjurkan para ibu mengencerkan susu untuk
mengakali mahalnya harga. Cara ini akan membuat asupan protein untuk
anak berkurang. Ia juga melarang pemberian air tajin. Air tajin, yang
tampangnya memang mirip susu itu, penuh karbohidrat, bukan protein.
Akibatnya, kata Utami, anak akan jadi bodoh karena gizi yang diberikan
justru tidak seimbang.

Menu keluarga dengan gizi seimbang sudah bisa dikonsumsi
anak-anak berusia dua tahun atau lebih, selepas masa menyusu yang
dianjurkan oleh pakar kesehatan dan Al-Quran. Setelah usia dua tahun,
kata Utami, anak-anak dan orang dewasa tidak perlu lagi minum susu.
Apalagi susu hasil olahan pabrik, yang kandungan protein dan kalsiumnya
banyak berkurang akibat proses produksi. "Sapi yang sudah bisa makan
rumput saja nggak mau minum susu induknya, kenapa malah diberikan kepada anak manusia?"

Akan halnya anak-anak dalam masa menyusui dianjurkan agar
kembali ke air susu ibu (ASI). ASI adalah makanan dan pembentuk otak
paling baik bagi bayi. Khasiatnya tidak tergantikan oleh apa pun. ASI
mengandung semua bahan pembentukan otak: lemak ikatan panjang yang
menjadi cikal-bakal AA dan DHA, talin, kolesterol, serta laktosa
lengkap beserta lipase yang berfungsi menyerap semua bahan pembentuk
otak itu. Sedangkan susu formula, kata Utami, tidak memiliki lipase.
Inilah perbedaan mencolok antara ASI dan non-ASI.

Soal kasus banyaknya ibu yang tidak bisa menyusui karena
beberapa alasan seperti bayi tidak bisa menyusu pada ibunya atau
minimnya ASI bisa diatasi dengan kemauan keras. Caranya, memberikan ASI
sedini mungkin begitu bayi lahir. Secara alami bayi sudah bisa mencari
puting ibunya begitu ia lahir. "Persis seperti anak kucing," kata
Utami.

Urusan memberi peneng, menimbang, dan mendata bayi setelah
kelahiran akan menjauhkan bayi dari ibunya. Akibat yang lebih fatal:
membuat bayi tidak tahu bagaimana cara menyusu. Utami menyarankan agar,
begitu lahir, bayi diletakkan di atas perut ibunya dan segera disusui.

Alam telah menyediakan semua bahan penting bagi tubuh manusia.
Belum lagi keuntungan tambahan seperti jaminan bayi tidak tersedak, dan
"hemat energi". Tidak perlu meluangkan tenaga untuk menyeduh susu
dengan air yang suhunya mesti disesuaikan dengan suhu tubuh. Dengan
sederet keuntungan itu, kata Utami, tidak ada alasan untuk tidak
kembali ke alam.

Indah Suksmaningsih, pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia, menganggap tindakan kembali ke alam ini merupakan jalan
keluar yang tidak hanya ampuh untuk menghindari guncangan kantong
akibat harga susu, tapi juga efektif melawan kedigdayaan produsen susu
yang sedikit-banyak mempengaruhi perekonomian keluarga. "Jangan
menyerahkan hidup kepada pasar." ENDRI KURNIAWATI

Press Release AIMI Menyikapi Kenaikan Harga Susu

Wednesday, July 4th, 2007

Saya copy paste saja, mudah2an sudah mendapat jalan untuk dimuat di media.

Untuk dimuat secepatnya

Jakarta, 4 Juli 2007

Untuk informasi hubungi:
Rahmah Housniati (Nia)
(021) 7071 9988
0815 900 3357
nia@…
kontak@…
www.aimi-asi.org

Saatnya ‘Kembali’ ke Air Susu Ibu (ASI)

Menyikapi kenaikan harga susu formula yang kian meningkat, kami dari
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) ingin mengajak kembali
masyarakat untuk ‘kembali’ menyusui bayi dengan Air Susu Ibu (ASI),
karena ASI adalah standar pemberian nutrisi yang terbaik bagi bayi.

Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997 dan
2002, lebih dari 95% ibu pernah menyusui bayinya, namun menyusui dalam
1 jam pertama cenderung menurun 8% pada tahun 1997 menjadi 3,7% pada
tahun 2002. Cakupan ASI eksklusif 6 bulan juga menurun dari 42,4% pada
tahun 1997 menjadi 39,5% pada tahun 2002. Sedangkan penggunaan susu
formula justru meningkat lebih dari 3 kali lipat selama 5 tahun dari
10,8% tahun 1997 menjadi 32,5 % pada tahun 2002.

Hal ini sangat meresahkan dan mengkhawatirkan kami, karena terlihat
pada data tersebut, peningkatan penggunaan susu formula juga
meningkatkan resiko leukemia dan limfoma pada anak, diabetes, gangguan
pencernaan dan diare, pneumonia, asma dan eksim, meningitis, remati,
osteoporosis, kanker payudara dan kanker indung telur, kolesterol yang
lebih rendah dan obesitas pada masa kanak-kanak maupun remaja.

Berbeda dari susu formula yang berasal dari susu sapi, ASI merupakan
suatu spesifik spesies yang khusus hanya dibuat untuk bayi manusia,
bahkan hanya untuk bayi sang Ibu, bahkan lebih jauh lagi, ASI yang
keluar setiap tetesnya memiliki kandungan berbeda yang khas yang
persis sempurna sesuai dengan kebutuhan bayi seorang ibu pada saat
itu. Komposisi yang terkandung dalam susu formula tidak pernah
berubah, semuanya disamaratakan bagi setiap bayi dan pada tingkatan
umur yang sama, walaupun kebutuhan bayi yang satu dengan yang lain
amatlah berbeda. Kandungan lemak (AA, DHA), karbohidrat, protein,
vitamin, mineral, enzym, hormone dan yang paling penting zat antibodi
yang terkandung dalam ASI tidak akan didapatkan dalam susu formula
manapun.

Besar harapan kami, pihak media dapat membantu mensosialisasikan
pentingnya ASI eksklusif kepada masyarakat dengan memberikan informasi
bahwa selama ini kita sering ‘melupakan’ bahwa ada yang jauh lebih
baik, aman dan higienis dibandingkan susu formula dan tentunya tidak
mengalami kenaikan harga seperti susu formula.