Waspadai Promosi Susu Formula
Lagi-lagi aku posting soal susu formula. Hhh… gerah soalnya, banyak misleading dari para produsen dan parents taken 4 granted aja, mudah kena pengaruh promosi media. Memang susah mengubah mindset yang selama ini 4 sehat 5 sempurna untuk jadi makan seimbang, even tanpa susu asal kebutuhan kalsium terpenuhi semua anak akan tumbuh dengan baik. Di atas 1 tahun, susu diperlukan hanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium yang sebenarnya juga bisa didapat daribahan makanan lain, jadi bukan nutrisi utama. Yan utama adalah asupan makanannya. Hiks… gemes kalo udah ngomong yang kayak gini.
Sebenarnya artikel di bawah ini bicara tentang pemasaran susu formula baby, tapi kalau didiskusikan memang ujung2nya ke sufor usia 1 + juga, gimana nggak, produsennya sama kok. Kalo di bawah 1 tahun ya ASI aja, kenapa harus tambah formula. Cuma sedikit kok seharusnya ibu2 yang ga bisa kasih asi. ASI sedikit bukan masalah, karena ada manajemennya yang bisa dipelajari, yang jelas ASI keluar kan? Kalau anak nggak mau menyusu jangan segera menyimpulkan anaknya mau weaning, siapa tau nursing strike, dan ini harus diatasi. Jadi sufor itu hanya digunakan dalam keadaan sangat darurat… amat sangat darurat, selama asi masih menetes semua bisa diupayakan.
Kasihan bangsa ini, punya cairan emas di tubuh tapi memberi cairan lain yang kualitasnya jauh di bawah cairan emas itu. Dan ini bukan masalah punya duit atau nggak punya duit. Kalau memang kaya raya, harusnya tetap memberi yang terbaik sama anaknya kan?
Waspadai Promosi Susu Formula
Dewasa ini makin banyak pilihan produk dan merek susu formula untuk bayi berusia
di bawah enam bulan. Meski begitu, sebaiknya orangtua yang memiliki bayi pada
usia tersebut harus ekstra hati-hati saat hendak memutuskan memilih susu
formula.
Sudah sangat sering diulas oleh dokter anak maupun ahli gizi anak bahwa
satu-satunya makanan terbaik untuk bayi berusia 0 hingga 6 bulan adalah air susu
ibu (ASI). Bahkan para ahli sangat menyarankan agar para ibu memberikan ASI
eksklusif atau tak memberi asupan makanan apa pun kepada bayi kecuali ASI selama
enam bulan pertama sejak bayi lahir.
"Sayangnya, pemberian ASI eksklusif ini belum jadi gaya hidup keluarga di
berbagai lapisan masyarakat. Padahal, menyusui merupakan cara terbaik dan paling
ideal dalam pemberian makanan bayi baru lahir dan bagian tak terpisahkan dari
proses reproduksi," kata Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia DKI Jakarta (IDAI
Jaya) dr Badriul Hegar SpA (K) (Kompas, 1 April 2006).
Ada berbagai macam alasan yang dikemukakan para ibu untuk tidak memberikan ASI
eksklusif, misalnya karena sang ibu bekerja sehingga tidak sempat menyusui bayi
secara teratur. "Saya sengaja memberi susu formula sejak awal, karena nanti
setelah cuti hamilnya habis kan saya enggak bisa memberi ASI secara teratur
lagi," ujar Dewi (31), pialang saham, yang baru saja melahirkan anak pertamanya
sebulan lalu.
Belum terbiasanya masyarakat memberikan ASI eksklusif kepada bayi ini menjadi
celah pemasaran yang bisa dimanfaatkan produsen susu formula. Selain itu, para
produsen juga memberi iming-iming berbagai vitamin dan zat gizi tambahan ke
dalam produk mereka, seperti DHA dan AA, yang sering diklaim dapat membantu
perkembangan otak bayi.
Ada dalam ASI
Menurut dr IG Ayu Pratiwi Surjadi SpA,MARS, anggota Satuan Tugas ASI IDAI Jaya,
DHA (docosahexaenoic acid) dan AA (arachidonic acid/asam arakidonat) memang
sangat dibutuhkan bayi, khususnya dalam dua tahun pertama perkembangannya. "Otak
manusia sebenarnya sudah terbentuk 90 persen saat lahir. Setelah kelahiran
kemudian terjadi mielinisasi dan sinaptogenesis dalam otak," papar dokter yang
akrab dipanggil Tiwi ini.
Proses mielinisasi adalah pembentukan selaput mielin atau selimut serabut saraf
yang membutuhkan laktosa atau zat gula dari susu. Sementara proses
sinaptogenesis adalah proses pembentukan susunan sistem saraf pusat yang
membutuhkan DHA dan AA.
"Namun, zat-zat tersebut baru aktif bila ada enzim yang menyertai. Laktosa baru
aktif dalam proses mielinisasi jika ada enzim laktase yang menyertai, sementara
DHA/AA baru aktif dalam sinaptogenesis saat ada enzim lipase karena DHA/AA pada
dasarnya adalah asam lemak," ungkap Tiwi.
Tiwi menambahkan, baik laktosa maupun DHA/AA hanya hadir lengkap dengan
enzim-enzimnya dalam ASI. "Susu formula jenis apa pun, semahal apa pun, meski
dibuat semirip mungkin dengan ASI, tetap saja tak ada enzimnya. Jadi,
satu-satunya nutrisi terbaik untuk bayi memang hanya ASI," katanya.
Tiwi menambahkan, akibat gencarnya promosi susu formula, banyak anggota
masyarakat yang mengira DHA/AA tak terkandung dalam ASI. "Jadi, tolong tekankan
DHA/AA yang terbaik itu justru ada di dalam ASI. Komponen apa pun yang
dipromosikan ada di dalam susu formula, semuanya sudah ada di ASI," kata Tiwi.
Mitos dan promosi
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Husna Zahir juga mengatakan,
pihaknya sama sekali tidak merekomendasikan pemberian susu formula kepada bayi.
"Susu formula hanya diberikan dalam kondisi-kondisi tertentu yang sangat
darurat. Di luar itu, pemakaian susu formula hanya pemborosan belaka,"
tandasnya.
Husna juga mengungkapkan adanya mitos bahwa bayi sehat adalah bayi yang gemuk.
Sementara bayi yang diberi ASI eksklusif memang cenderung tidak menjadi gemuk.
"Mereka kemudian menambahkan susu formula agar bayinya gemuk. Padahal, bayi
sehat tidak harus gemuk. Itu cuma mitos," ujar Husna.
Husna mengingatkan, kondisi bayi baru lahir masih sangat rentan sehingga harus
ekstra hati-hati saat memberi zat makanan dari luar.
"Klaim-klaim dari produsen bahwa susu formulanya dapat memberi berbagai dampak
positif bagi bayi perlu dipertanyakan lebih lanjut. Misalnya, informasi dosis
atau jumlah yang tepat supaya dampak tersebut akan terjadi. Selama ini banyak
orang merasa aman apabila sudah mengonsumsi susu tersebut karena termakan
promosi," tambah Husna.
Di atas semuanya, ia juga menyarankan agar masyarakat waspada terhadap
penawaran-penawaran susu formula di tempat-tempat pelayanan kesehatan. "Sekarang
ini banyak rumah bersalin yang menawarkan susu formula kepada orangtua bayi yang
baru lahir. Itu sebenarnya melanggar kode etik," katanya.
Kode etik yang dimaksud Husna adalah Kode Internasional Pemasaran Produk
Pengganti ASI (International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes) yang
dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1981 lalu.
"Pemasaran produk susu formula untuk bayi berusia di bawah enam bulan seharusnya
diatur secara tegas. Kalau perlu ada pelarangan promosi susu formula di
tempat-tempat pelayanan medis resmi," ujarnya tegas.
Sumber: Kompas