Mari Menjadi Konsumen Medis yang Cerdas

Pernah nggak terima resep dari dokter yang tulisannya rapi atau diketik? Kayaknya jarang ya… seinget aku sih gitu, mungkin juga sekarang udah nggak, tapi terkhir berurusan sama dokter pas hamil Damai hampir 2 tahun lalu sih masih kayak gitu. Ini suka jadi bercandaan waktu kecil, kalo ada yang tulisannya jelek pasti dibilang tulisan dokter, atau berbakat jadi dokter. Emang mesti jelek ya tulisan dokter, biar nggak bisa dibaca pasiennya?

Seperti aku pernah posting soal cara baca resep, sebenernya tulisan resep itu harus sangat jelas dan mudah dimengerti selain oleh petugas apoteker juga oleh pasien. Kenapa? Tentu saja karena pasien berhak tahu apa yang akan dia konsumsi. Selama ini kita terbiasa taken 4 granted apa aja yang disuggest sama dokter, mengingat dokterlah yang punya ilmunya, sementara kita buta sama sekali. Tapi pernah nggak terpikir bahwa dokter juga manusia biasa yang punya kemungkinan lalai, salah, khilaf dll.

Beberapa tahun lalu saya berobat sama dokter langganan keluarga, dari bayi saya udah periksa sama keluarga dokter itu(hampir semua anggota keluarganya dokter). Tau nggak, pas nulis resep lamaaa banget, aku perhatiin kok nulisnya lama2 jadi garis panjang, taunya dia ketiduran, ngantuk banget kali ya praktek di mana2. Untung aja sekarang udah ada pembatasan tempat praktek, yang sebenernya akan lebih bagus lagi kalau pembatasan jumlah pasien(ini belakangan aja bahasnya ya..)

Pernah denger tentang detailer? Ini sebutan untuk sales obat yang suka mendatangi para dokter praktek untuk menawarkan produknya. Menurut cerita beberapa kenalan ayng berprofesi sebagai dokter, mereka diiming-imingi bonus bila dapat ‘menjual’ obat mereka dalam jumlah tertentu. Bahkan katanya ada yang bonus liburan ke eropa. Wah, nggak heran kalau ada dokter yang mati2an memberi obat merek tertentu buat pasiennya. Rujukan untuk tindakan tertentu seperti periksa lab, tes ini itu juga katanya memberi dokter sejumlah komisi, bener nggak ya?

Lepas dari prasangka-prasangka itu, menurut aku memang yang paling baik adalah kita sebagai konsumen yang mesti cukup cerdas untuk mengkritisi segala tindakan medis yang kita terima. Untuk itu kita harus membekali diri dengan pengetahuan medis juga agar tidak salah melangkah atau ‘diarahkan’ ke tempat yang salah.

Berikut ini beberapa hal berkaitan dengan personal medic yang perlu kita kuasai.
1. Kita perlu tahu pasti kondisi yang menuntut kita untuk segera pergi ke dokter. Kondisi kegawatdaruratan itu seperti apa sih? Coba inget2 sedikit ya… apa aj sih gejala yang bikin kita ke dokter? Gejala lho ya, belum tau penyakitnya nih ceritanya… pilek, batuk, panas, muntah, buang2 air? Itu semua gejala yang pada dasarnya masih bisa ditreat di rumah. Berapa lama toleransinya? Wah, panjang nih kalau bahas satu persatu… jalan jalan ke www.mayoclinic.com ya untuklebih lengkapnya. Yang jelas kalau batuk pilek itu self limiting disease karena itu adalah gejala infeksi virus yang akan sembuh sendiri seiring meningkatnya daya tahan tubuh. Jadi batuk pilek itu sebenernya nggak ada obatnya. Panas? Kalau ada batuk pilek, biasanya panas diperlukan untuk melawan virus dalam tubuh. Kalau sampai 72 jam masih panas, singkirkan kemungkinan infeksi saluran kemih dengan memeriksa urin di laboratorium. Jadi kalau belum 72 jam ditreat di rumah aja. Muntah, batuk dan diare adalah mekanisme tubuh untuk mengeluarkan benda asing dalam tubuh, jadi jangan berusaha distop dengan obat2an tapi biarkan saja sambil memperbaiki nutrisi dan banyak minum. Obat2an apapun belum perlu, kecuali panas tinggi bisa diberikan parasetamol.

2. Ketika periksa ke dokter, berkomunikasilah dengan baik dengan dokter. Tanyakan diagnosa penyakitnya, dalam bahasa medis lebih baik agar kita bisa browsing dan mencari tahu lebih lanjut. Akan lebih baik lagi bila sebelum ke dokter kita sudah mencari info mengenai gejala yang kita alami agar bisa berdiskusi dengan dokter.

3 Bila diberi resep, tanyakan dengan detail setiap jenis obat yang diresepkan, apa fungsinya, kandungannya, cara kerjanya, efeksampingnya, reaksinya dengan obat yang lain,kontraindikasinya dst.

4. Selalu minta obat generik. mengapa? Kandungan di dalam obat sama saja, hanya kemasan dan merek yang membuat obat jadi lebihmahal.

5. Jangan pernah mau diberikan atau diresepkan obat dalam bentuk puyer karena hal ini berpotensi polifasmasi. Polifarmasi dalam bentuk puyer ini harus dihindari karena obat bisa bereaksi satu sama lain, dalam pengemasan bisa bereaksi dengan udara dan tidak ditimbang lagi. Pemberian puyer jika terpaksa perlu dilakukan dengan cara2 yang benar, yakni sesaat sebelum diminum baru dihancurkan dan jangan dihancurkan bersama2 dengan obat lain, harus satu persatu.

6. Waspadai pemberian antibiotik. Antibiotik diguakan untuk membunuh bakteri. Ada atau tidaknya bakteri yang perlu dibunuh harus melalui uji laboratorium. Pemberian antibiotik harus sesuai dengan jenis kumannya dan untukitu juga perlu adanya uji lab.

Mari kita hargai dokter yang telah belajar dengan susah payah dengan menjadikannya teman diskusi yang setara. Kita bantu dokter juga untuk menjadi rasional dan mengabdi pada kepentingan pasien dengan tulus.
Kalau mau jajan makanan aja kita rewel, makanan ini isinya apa, bikinnya gimana dst, jajan medis yang berkaitan juga dengan nyawa jgua harus lebih kritis agar kita terhindar dari kesalahan medis yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

(  kayaknya masih mau diedit deh)

Leave a Reply