Kelanjutannya Resep Dokter dan Obat-obatan dari Dokter

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Hmm, masih soal resep dokter nih.
Menurutku ini menarik, mengingat masa kecilku sangat akrab dengan
resep dokter dan obat-obatan.

Seminar Pesat awal bulan kemarin
dihadiri oleh seorang dokter dari WHO, Dr Syahjahan, kalau nggak
salah tulis namanya. Beliau berasal dari Bangladesh, sebuah negara
kecil yang tadinya kupikir tidak berbeda jauh dengan Indonesia dalam
hal kesehatan.

Ternyata… wow…. nggak nyangka,
mereka jauh lebih maju dan care sama masyarakatnya soal obat-obatan.

Beberapa hal yang aku simpulkan adalah
:

  • soal resep nih, ternyata resep itu
    SEHARUSNYA dapat dibaca oleh semua orang, tentu saja terutama adalah
    pasien. Mengapa? Karena pasien perlu tahu apa yang akan
    dikonsumsinya. Pasien perlu tahu jelas diagnosa penyakitnya, mengapa
    harus diberi obat tertentu, cara kerjanya, efek sampingnya, cara
    pakainya dan lain-lain sejelas-jelasnya. Pasien berhak bertanya dan
    dokter wajib menjelaskannya pada pasien. Jadi tidak ada tuh yang
    rahasia. kan ngeri juga kalau pasien tidak tahu apa yang akan masih
    ke dalam tubuhnya. Lagipula di jaman komputer ini, sepertinya akan lebih praktis bukan bila ditulis dengan komputer?

  • soal obat yang diberikan : pasien
    memiliki hak untuk memilih obat berdasarkan asas fungsi yang tepat,
    dosis yang tepat dan aman serta harga yang paling ekonomis. Misalnya
    saja parasetamol untuk pain killer atau pereda demam, menurut
    pengalaman, dokter memberikan merek seperti tempra, panadol atau
    sejenisnya lah tanpa bertanya kita mau obat yang mana.
    Ngomong-ngomong, menurut yang aku baca dan pelajari, isinya sama,
    hanya berbeda di kemasan dan tentu saja merek. Bayangkan saja,
    parasetamol sirup hanya 3500 sementara tempra? Kalau lihat di
    medicastore.com harganya 30 ribuan lho, ukuran yang sama. jauh
    banget ya…

  • Jangan pakai obat dewasa untuk
    anak-anak. Pernah nggak ngalamin dapet obat yang perintahnya minum
    obat ½ atau ¼ atau sebagianlah pokoknya? Aku pernah,
    dan sekarang tersadar… kenapa harus begitu ya… apa itu bukan
    untuk takaran anak2, lha, kalau kita patahkan apakah bisa mematahkan
    menjadi bagian yang sama? Pusing!

  • ini penting, soal POLIFARMASI :
    apa tuh? Polifarmasi dapat diartikan secara sederhana adalah
    beberapa obat yang diberikan bersamaan. Untuk pengalamanku (bukan
    anakku) puyer adalah bentuk polifarmasi yang benar-benar lazim tapi
    sungguh membahayakan. Kenapa? Bayangkan, beberapa obat ditumbuk
    menjadi satu dan dibagi-bagi dalam kertas puyer tanpa ditimbang lagi
    dan tidak memperhitungkan soal kontaminasinya dengan udara. Rasanya
    bisa gila kalau terus mengingat-ingat masa kecil yang sarat dengan
    polifarmasi ini. Bersyukur sih sampai sekarang aku baik-baik saja,
    tapi tidak bisa dibayangkan bagaimana berat kerja organ tubuhku
    bagian dalam terutama hati dengan pengobatan model begini. Di pesat,
    dr. Wati memberi contoh resep yang cuma ada /R, tapi di setiap /R
    bisa ada 4-7 baris tulisan(obatlah pastinya). jadi ketika ditotal,
    seorang bayi 7 bulan di kasus itu mendapat sekitar 13 obat. Waks!
    gila! emang sakitnya apa?

Menjadi lebih miris ketika dr Sahjahan
ditanya soal apakah negaranya  atau dirinya pernah memberikan
polifarmasi seperti ini. Beliau katakan belum pernah, tapi Bangladesh
pernah seperti itu sekitar 20 tahun lalu. Haaa! Gila, Bangladesh gitu
lho…. Dan orang tua2 di sana tidak serta merta membawa anak yang
panas, batuk atau pilek, bahkan diare ke dokter. Mereka belajar untuk
treatment di rumah, karena semua GEJALA itu tidak membutuhkan obat.
Gejala lho… bukan penyakit. Di sana, mereka akan mepertanyakan
kalau dokter memberi obat lebih dari 3, siapa tahu dokter tidak
benar-benar tahu penyakit yang diderita pasiennya. Oiya, di
Bangladesh, obat2an yang ada itu generik, artinya pasien nggak akan
bingung dengan merek seperti di sini. Itu bagian dari pendidikan
juga kan buat masyarakat.

Nah, aku ingat nih, dulu kalau ke
dokter pasti ditanya, sakit apa, kalau aku bilang pilek lalu ditanya
ada batuk nggak, tenggorokan sakit nggak, panas nggak dst dan jumlah
obat yang diberikan sebayak jumlah keluhan plus ANTIBIOTIK. Untuk
penyakit apapun pasti antibiotik nempel di resepnya. Padahal setelah
aku bayayk belajar, aku baru tahu, penyakit karena infeksi virus bisa
sembuh sendiri seiring meningkatnya daya tahan tubuh, tanpa harus
diberi AB.

Fuih…. mengerikan nian kondisi yang
ada, dimana pasien kurang pengetahuan dan para dokter masih banyak
yang ceesan sama para detailer obat. Ada lho, detailer yang
mengiming2i hadiah buat dokter yang mampu melariskan obatnya dalam
jumlah tertentu… gila ya…

Nah, lesson learnednya…. belajar terus biar punya banyak pengtahuan dan bisa diskusi dengan berimbang dengan dokter, bukan menggurui lho… mereka kan yang punya ilmunya, kita hanya mencoba menjadi konsumen yang bijak dan rasional. Terus, jangan lupa, resepnya difotokopi atau minta kopinya suapa dapat diarsip dan kalau belum yakin tentunya kita bisa cari dulu dari sumber2 terpercaya atau untuk second opinion.

Ok deh, mari belajar manjadi konsumen medis yang bijak agar bisa dance two to tango sama para dokter…

One Response to “Kelanjutannya Resep Dokter dan Obat-obatan dari Dokter”

  1. Lee Says:

    Bu, kalau obat botol, misal obat flu, kalau udah dibuka masih boleh di pakai berapa lama dari di bukanya botol itu ya bu… thanks

Leave a Reply