Mempersiapkan MPASI untuk Bidadariku

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Empat hari lagi bidadari kecilku makan
makanan padat. Tidak terasa, sudah hampir setengah tahun dia mewarnai
hari-hari kami.

Fase ASI eksklusif hampir aku lewati
dan masuk fase baru yang lebih rumit, yaitu memberikan makanan
pendamping ASI.

ASI tetap makanan utama, namun Damai
harus mulai belajar untuk makan makanan padat. Jadi kegiatan memerah
tetap harus dilakukan kalau nggak mau Damai minum susu formula,
karena demand yang berkurang bisa membuat produksi makin
turun.

Sejak satu setengah bulan lalu, aku
sudah merancang menu, walau baru menuliskannya sejak tiga minggu lalu.
Aku memang nggak bisa serba mendadak. Kepikiran melulu soal makan
ini. Apa mbahnya bisa ya, sambil momong juga menyiapkan makan ini.
Apa aku perlu cari orang untuk membantu. Tapi siapa? Waduh, aku sulit
sekali menyerahkan hal yang rumit ini pada orang lain, bahkan ibuku
sekalipun. Atau harus berhenti kerja? Ah, pikiran-pikiran semacam ini
yang sempat menghambat produksi ASI-ku.

Sebenarnya serumit apa sih, sampai aku
begitu senewen?

Inginnya nih, Damai makan makanan yang
bervariasi dengan penyajian yang mengajari dia untuk mengenal rasa
asli bahan makanan, yaitu terpisah-pisah, tidak seperti nasi tim
campur seperti yang banyak dikenal selama ini(atau seperti juga yang
banyak diberikan para ibu pada anaknya, mungkin aku dulu juga…).
Selain itu, Damai tidak perlu kenal gula dan garam dulu karena bisa
memperberat kerja ginjalnya (lagipula, kalau sudah terlanjur suka
manis dan asin bahaya untuk masa depannya). Aku juga ingin memberikan variasi makanan yang baik dan sesuai dengan piramida makanan (yang ini bisa aku set dengan menunya). Aku ingin memantau reaksinya terhadap makanan yang baru termasuk ekspresinya setiap kali ia makan(ini yang tidak mungkin untuk ibu bekerja kan?)

Sebenarnya, aku tidak perlu terlalu
khawatir karena bapak dan ibuku adalah dua orang yang sangat terbuka
tehadap hal-hal baru. Yang mereka tahu, anaknya disekolahkan supaya
pintar dan pasti akan memberikan yang paling baik juga untuk anaknya.
Itu yang ingin kulakukan… memberikan yang terbaik untuk Damai.

Kami, aku dan papanya sudah mulai
kembali seperti saat aku hamil dulu: makan nasi merah, sayur dan lauk
kukus, meminimalkan gula (minum tehnya sekarang tawar nih…) dan
garam. Lebih sering makan oatmeal dan sedapat mungkin tidak jajan
(walau dua hari ini aku jajan terus karena tidak sempat masak di
rumah).

Pengkondisian bagi kami sangat penting,
maka aku perlu siap-siap sejak dini.

Hand out tentang feeding yang aku dapat
di pesat sudah mulai dibaca bapak, jadwal makan juga sudah jadi untuk
dua bulan. Hmmmh…. semoga semua lancar….

Leave a Reply