Archive for October, 2006

Belajar Dari Masalah Kulitnya Damai

Tuesday, October 31st, 2006

Seminggu libur kemarin aku belajar banyak hal dari masalah kulit yang dialami Damai.
Awalnya ku lihat di bahu kiri damai ada gelambung berair sepeti tersundut rokok. Aku pikir itu bagian dari biang keringat karena hawa panas yang menyengat(ah, bersyukur sudah mulai gerimis…) jadi tidak kuapa-apakan, hanya sering mengelap keringat Damai. Beberapa hari kemudian gelembung itu pecah. Kupikir sudah selesai persoalan, ternyata jumat malam aku lihat leher bagian belakang muncul 3 gelembung besar-besar. Wah, aku langsung berniat bawa Damai ke dokter esok harinya. Malam itu di kepalaku berkecamuk antara membawa Damai ke dokter atau tidak. Aku ragu karena sepertinya ini masalh kulit biasa dan Damai sama sekali nggak rewel atau panas, tapi kok bisa tambah banyak tiba2.

Besoknya aku putuskan untuk nggak ke dokter karena aku takut Damai dikasih obat macam-macam yang gak perlu sementara aku belum browsing dan cari tahu tentang masalah kulit itu. Aku telpon bidan yang kasih imunisasi simultan buat damai pas enam bulan kemarin. Katanya itu infeksi virus dan perlu dipecah lalu dioles lactacyd dan diberi salep antibiotik setelah mandi. Aku kok jadi tambah ragu, kalau virus kenapa salepnya AB?

Aku pergi ke warnet dan browsing di mayoclinic, nggak terlalu tepat, sepertinya, tapi dari gambar yang ada sepertinya yang itu semacam biang keringat yang menjadi gelembung berisi air. Jadi tidak serius dan tidak perlu treatment apa2 cukup dibersihkan dan selalu kering. Selanjutnya aku cari tahu tentang lactacyd. Dari sebuah milis aku nemu tanggapan seorang dokter tentang lactacyd :

Lactacyd itu bukan anti
      bakteri. Lactacyd itu adalah suatu asam lactat dalam bentuk cairan maupun
      sabun, yang berguna untuk menurunkan ph (keasaman kulit), sehingga
      memungkinkan bakteri yang sehat (flora normal) untuk tumbuh dengan
      optimal. Dengan adanya flora normal yang tumbuh optimal, maka kulit secara
      tidak langsung sulit untuk ditembus oleh kuman kuman yang patogen
      (berbahaya).

Sabun yang kita gunakan, itu
      ada yang mengandung alkali (membuat ph naik), memang ini penting untuk
      membersihkan kotoran tapi tidak menguntungkan untuk flora normal. Demikian
      juga detergen, banyak mengandung alkali.

Karena nama dokter itu familiar, aku jadi berani mutusin pake lactacyd itu. Tapi bisa jadi aku yang salah ambil kesimpulan karena mungkin masalahnya berbeda. (dan sekarang makin yakin kalo aku terburu2 menyimpulkan)

Hari senin, aku chat dengan dr Ian, katanya yang dialami Damai itu namanya Impetigo. Cukup mandi pakai pk yang dibuat warna pink kemudian gelambung yang sudah dipecahkan itu dioles salep betadine. Kalau sudah kering tidak perlu lagi diapa-apakan.

Menurutnya ini treatment paling aman. Lactacyd itu isinya kuman baik, tapi pertahanan kulit bayi masih lemah, jadi nambahin kuman ke kulit, sementara pk berwarna pink itu sama dengan antiseptik ringan. Nah, walaupun sebabnya infeksi bakteri, karena ringan maka tidak perlu salep AB golongan keras seperti Chloramfecort-H yang sempat aku pakein dua kali.

Untuk salep AB yang mengandung steroid ini ini, kalau dipakai terus bisa menyebabkan rusaknya pertahanan kulit dan membuat bayi gampang kena infeksi.

Untunglah hari senin aku sudah masuk kantor, jadi aku bisa browsing dan bertanya ke dr Ian. Malamnya aku lihat semuanya sudah kering, jadi hari ini Damai tidak lagi pakai pk dan salepnya. Ah, leganya…

Sungguh nggak mudah ya berpikir rasional dan nggak panik. Aku bisa mengerti sekarang bagaimana para orang tua yang anaknya demam, batuk, pilek berhari hari menjadi bingung dan  buru-buru mau ke dokter. Walaupun sudah sadar tata laksananya kalau berhari-hari  nggak sembuh  dengan treatment sendiri pasti jadi khawatir. Ah… mudah-mudahan masalah kulit yang sebenarnya sederhana ini cukup menyiapkan aku kalau aku dipercaya dapat masalah kesehatan selanjutnya(mudah-mudahan nggak lah ya….).

Jadi, kali ini aku belajar tentang macam-macam penyakit kulit(karena browse macam2…) dan tentu saja menjadi orang tua yang lebih bijaksana dan rasional.

For I know I’ll Never Find Another You

Thursday, October 19th, 2006

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

There’s a new world somewhere, they
call it promise land

And I’ll be there someday, if you will
hold my hand

I still need you there beside me, no
matter what I do

For I khow I’ll never find another you

 

There is always someone for each of us
they say,

And you’ll be my someone forever and a
day.

I could search the whole world over,
until my life is trough

But I know I’ll never find another
you

 

It’s a long, long, journey, so stay by
my side.

When I walk to the storm you’ll be my
guide,

If they gave me a fortune, my pleasure
would be small,

I could lose it all tomorrow, and never
mind at all.

But if I should lose your love, dear, I
don’t know what I’d do,

For I know I’ll never find another you

 

 

For I know I’ll never find another you

Kalimat itulah yang aku dan papanya
Damai pilih untuk menghiasi halaman muka buku upacara pernikahan
kami.

 

Entah kenapa, tiba-tiba jadi
sentimentil gini. Tidak kutemukan apa penyebabnya, hanya ingin saja
menyimak lagu itu kembali.

Dan aku menikmatinya…

Dini hari tadi, ketika aku sedang menyusui
damai yang terbangun, sambil memandangi papanya yang sedang bekerja
di depan komputer, rasa bahagia tak terkira membuncah di dadaku.
Memiliki mereka sungguh kesempatan dan
karunia berharga yang diberikan-Nya padaku.
Mengingatkanku kembali untuk bersyukur.

Papa, Damai…mama sayang kalian.

 

Harapan Lama yang Baru

Thursday, October 19th, 2006

Setiap hari raya tiba, apapun itu, dalam pikirku selalu menyelinap suatu harapan yang sama.
Kehidupan yang makin damai. Hmmmh, rasanya sulit juga kalau diminta mendeskripsikannya. Yang paling sederhana adalah hidup tanpa ancaman, apapun bentuknya dan dari manapun.

Mengapa muncul di hari raya? Pastinya karena di kepalaku, yang mudah-mudahan masih representatif, orang-orang menghormati hari raya dan selalu tersentuh untuk memperbaharui diri menjadi lebih baik. Kalau setiap orang berusaha jadi lebih baik, rasanya kok dunia yang baik tidak mustahil bisa terwujud.

Kendatipun banyak yang menganggap memperbaiki diri setelah hari raya sebagai euforia saja dan sehat musiman(kalau nggak mau dibilang sakit musiman), aku kok tetap punya harapan di situ.

Yah… kalau mau dibilang sih, perbaikan diri tidak perlu nunggu hari raya, namun kadang kita membutuhkan momentum yang menguatkan niat, betul tidak?

Ah… apapun, cita-citaku untuk hidup di dunia yang damai, betapapun sulitnya berusaha tetap kunyalakan, tentu saja salah satunya dengan belajar untuk selalu lebih baik.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 H
Mohon maaf lahir dan batin.

mengatasnamakan keluarga,
Sil-Fred-Damai

Breastfeeding family

Sunday, October 15th, 2006

Hari ini adalah hari terakhir masa ASI eksklusifnya Damai, artinya mulai besok Damai sudah berkenalan dengan solid food walaupun masih sedikit. Sungguh lega rasanya berhasil melewati enam bulan pertama ini. Setidaknya, sebagian kecil upaya untuk memberikan yang terbaik untuk bidadariku sudah kulakukan. Kerja keras masih belum selesai, masih sangat panjang untuk bisa membawa Damai menjadi anak yang sehat dan cerdas serta sesuai dengan harapan keluarga terutama aku dan papanya.

Hingga enam bulan ke depan, aku masih harus bekerja keras mempertahankan produksi ASI, karena masih merupakan makanan yang utama untuk Damai. Dengan semangat dari orang-orang di sekitarku, aku yakin bisa melewatinya nanti.

Hari ini, aku hendak berbagi tentang pemberian ASI eksklusif untuk Damai yang bukan saja melibatkan papanya, tapi juga kedua orang tuaku, mbah kung dan mbah putrinya Damai.
Sungguh aku merasa sangat beruntung memiliki mereka semua di sekitarku. Cita-cita memberikan ASI eksklusif dapat kuwujudkan hingga saat ini. produksi Asi yang naik turun sempat kualami, namun dengan dukungan mereka plus milis sehat, semua kembali lancar.

Ibu dan bapakku tidak berpendidikan tinggi, namun mereka sangat terbuka terhadap pengetahuan baru yang terus berkembang. Mereka menyadari bahwa zaman sudah berubah dan makin maju, maka aku tidak mendapatkan halangan dalam menyampaikan niatku memberikan ASI ekslusif bagi Damai, bahkan untuk pemberian makanan padat, mereka tidak mengintervensi sama sekali, bahkan membantu aku dengan support yang tidak terhingga.

Seminggu sebelum masuk kembali ke kantor setelah cuti melahirkan, aku menabung stok Asi di freezer. Waktu itu aku hitung baik-baik jangan sampai kurang. hari pertama aku masuk, Damai minum sekitar 300cc (5 X 60 cc). Hasil perahan di kantor awalnya sekitar 350 cc. Aku lega, karena masih cukup, ditambah hasil perahan malam.
Setiap malam aku memindahkan kira-kira 6 botol kaca ke refrigerator sehingga ASI mencair. keesokan harinya bapak atau ibuku menurunkan satu-persatu saat Damai ingin minum. Awalnya masih suka dihangatkan, namun belakangan, karena jarak minumnya Damai sudah terpola, ASI diturunkan kira-kira 1 jam sebelum Damai minum, sehingga tidak perlu dipanaskan lagi.
Yang selalu rajin mengambilkan susu adalah bapakku, dan ibuku yang memberikan pada Damai. Dari hari ke hari, damai minum makin banyak, sementara perahanku justru berkurang. Stok ASI sebanyak 42 botol kaca, berkurang sedikit demi sedikit hingga menjadi 12 botol saja.
Aku berusaha tidak patah semangat, perah terus walau hanya keluar 5 cc. Entah mengapa,   saat sedang sedikit itu, Damai pun minum sedikit, sehingga aku kembali bisa mengumpulkan sampai 28 botol di lemari es. Saat ini, keadaan mulai aman, kataku. tapi aku tetap harus kerja keras, karena aku sama sekali tidak berminat dengan susu formula.

Bapak dan ibuku sungguh memberi dukungan dan bantuan yang tidak terhingga besarnya. Mereka bisa dengan bangga mengatakan bahwa Damai hanya minum ASI saja sampai 6 bulan kalau ada yang bertanya Damai makan apa sampai begitu gemuk.
Anjuran untuk segera memberi makan pun tidak mereka hiraukan. Ah, sungguh aku beruntung memiliki mereka… Terima kasih ya mbah

Dan seseorang yang menjadi pendukung terbaik adalah Mas Fredy, papanya Damai.
Sejak awal ia mendukung aku. Ketika ia kasihan melihatku menangis di awal meyusui karena luka di putingku, ia menghormati keputusanku untuk tetap menyusui. Ia rela bangun tengah malam untuk menemaniku memerah, memijatku, mengambilkan minum dan perlengkapan lain yang kubutuhkan. Ia juga mau mencuci botol-botol susu, bahkan merebusnya. Kalaupun mengantuk berat, ia hanya mengatakan,”Mama, papa temani sambil bobo ya…” Aku tentu tak keberatan karena aku tahu pasti ia sangat lelah.

Ia selalu mengatakan, enam bulan itu tidak lama dan tidak akan terasa. Ia juga selalu bilang kalau aku pasti bisa melakukannya. Dan ia benar, aku berhasil melewatinya.
Ah, sungguh beruntungnya aku memilikinya di sampingku. Terima kasih papathe best breastfeeding father

Hari-hari menjelang MPASI pun tidak lagi membuatku khawatir karena aku memiliki mereka, yang terbaik….

Mempersiapkan MPASI untuk Bidadariku

Friday, October 13th, 2006

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Empat hari lagi bidadari kecilku makan
makanan padat. Tidak terasa, sudah hampir setengah tahun dia mewarnai
hari-hari kami.

Fase ASI eksklusif hampir aku lewati
dan masuk fase baru yang lebih rumit, yaitu memberikan makanan
pendamping ASI.

ASI tetap makanan utama, namun Damai
harus mulai belajar untuk makan makanan padat. Jadi kegiatan memerah
tetap harus dilakukan kalau nggak mau Damai minum susu formula,
karena demand yang berkurang bisa membuat produksi makin
turun.

Sejak satu setengah bulan lalu, aku
sudah merancang menu, walau baru menuliskannya sejak tiga minggu lalu.
Aku memang nggak bisa serba mendadak. Kepikiran melulu soal makan
ini. Apa mbahnya bisa ya, sambil momong juga menyiapkan makan ini.
Apa aku perlu cari orang untuk membantu. Tapi siapa? Waduh, aku sulit
sekali menyerahkan hal yang rumit ini pada orang lain, bahkan ibuku
sekalipun. Atau harus berhenti kerja? Ah, pikiran-pikiran semacam ini
yang sempat menghambat produksi ASI-ku.

Sebenarnya serumit apa sih, sampai aku
begitu senewen?

Inginnya nih, Damai makan makanan yang
bervariasi dengan penyajian yang mengajari dia untuk mengenal rasa
asli bahan makanan, yaitu terpisah-pisah, tidak seperti nasi tim
campur seperti yang banyak dikenal selama ini(atau seperti juga yang
banyak diberikan para ibu pada anaknya, mungkin aku dulu juga…).
Selain itu, Damai tidak perlu kenal gula dan garam dulu karena bisa
memperberat kerja ginjalnya (lagipula, kalau sudah terlanjur suka
manis dan asin bahaya untuk masa depannya). Aku juga ingin memberikan variasi makanan yang baik dan sesuai dengan piramida makanan (yang ini bisa aku set dengan menunya). Aku ingin memantau reaksinya terhadap makanan yang baru termasuk ekspresinya setiap kali ia makan(ini yang tidak mungkin untuk ibu bekerja kan?)

Sebenarnya, aku tidak perlu terlalu
khawatir karena bapak dan ibuku adalah dua orang yang sangat terbuka
tehadap hal-hal baru. Yang mereka tahu, anaknya disekolahkan supaya
pintar dan pasti akan memberikan yang paling baik juga untuk anaknya.
Itu yang ingin kulakukan… memberikan yang terbaik untuk Damai.

Kami, aku dan papanya sudah mulai
kembali seperti saat aku hamil dulu: makan nasi merah, sayur dan lauk
kukus, meminimalkan gula (minum tehnya sekarang tawar nih…) dan
garam. Lebih sering makan oatmeal dan sedapat mungkin tidak jajan
(walau dua hari ini aku jajan terus karena tidak sempat masak di
rumah).

Pengkondisian bagi kami sangat penting,
maka aku perlu siap-siap sejak dini.

Hand out tentang feeding yang aku dapat
di pesat sudah mulai dibaca bapak, jadwal makan juga sudah jadi untuk
dua bulan. Hmmmh…. semoga semua lancar….

Keuntungan Memberikan ASI Eksklusif

Tuesday, October 10th, 2006

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Memberi asi eksklusif memberikan banyak
sekali keuntungan untukku.

Yang pertama, sejak mulai merencanakan,
aku pun sibuk dengan berbaghai persiapan, salah satunya botol kaca
untuk stock asi. Karena aku beli 100 botol, aku mengajak beberapa
teman dari milis sehat untuk join. Nah, dari ajakan itu aku jadi
punya banyak teman baru. Ada yang sampai bisa ketemuan ada yang
nggak. Ada yang dapat botolnya ada juga yang nggak.

Kedua, karena punya banyak teman itu,
aku punya banyak tempat curhat ketika baru melahirkan dan masih super
bingung dengan macam-macam hal.

Ketiga, sampai sekarang terus semangat
untuk belajar karena merasa kok teman-temanku pada pinter2 ya,
hehe…

Keempat, punya teman cari dsa bareng,
ke klinik laktasi bareng, memantau perkembangan anak sama2(karena
hari lahir yang berdekatan)

Kelima, Damaiku tetep lengket sama aku

Keenam, berat tubuhku cepet susut lagi

Ketujuh, Papanya juga tambah sayang
dooong…

Kedelapan, Damaiku sehaaat terus…

Kesembilan, Damaiku cepat besar dan
pintar…

Kesepuluh, aku masih punya banyak
keuntungan lain yang bakalan menuh2in kalau ditulis, hehehehe….

Sang Mahadaya

Tuesday, October 3rd, 2006

Ada yang terlewat diceritakan di sini, yaitu tentang MAHADAYA.

Sang Mahadaya begitu aku suka menyebut Damaiku. Wujud harapan kami, papa
mamanya yang berharap ia bisa memiliki banyak kemampuan yang berguna bagi
orang lain.

Marcella adalah seorang bangsawan yang akhirnya wafat sebagai martir yang
telah melayani banyak orang yang miskin dan melarat. Ia pun dianugerahi gelar
santa. Begitulah harapan untuk Damai, menjadi pribadi yang rela melayani
sesama dengan segala talenta yang dimilikinya.

Maharani… ini nama pilihan papanya Damai, Sang Putri, katanya, ingin agar
Damai menjadi perempuan yang anggun seperti seorang putri dan berwibawa
seperti bangsawan.

Damai.. papanya juga yang pilih nama ini, representasi dari perasaan kami
berdua karena saling menemukan dan memutuskan untuk hidup bersama. Tujuan
hidup kami yang utama… hidup damai…

Gayatri… nama ini aku yang pilih, asal katanya adalah gayee di bahasa sansekerta
yang artinya bernyanyi, sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari hidupku.
Damai sudah menemani mamanya bernyanyi sejak dalam kandungan. Aku berharap
dengan nyanyiannya, Damai akan menggembirakan banyak orang di sekitarnya dan
tentu saja akhirnya membawa kedamaian…

 

Siap-siap MPASI(Makanan Pendamping Air Susu Ibu)

Monday, October 2nd, 2006

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Empat belas hari lagi Damaiku makan
solid food. Aku sudah siap-siap (kalau tidak mau dikatakan senewen)
sejak bulan lalu. Aku ikut pesat lepasan yang kebetulan tentang
feeding. Dapat banyak ilmu dan penguatan di situ. Minggu lalu  aku
sudah mulai membuat jadwal makan untuk Damai. Sedikit demi sedikit
aku lengkapi. Aku koreksi bila ada yang kurang tepat. Maklum,
sumberku ada banyak dan tidak semua seragam.

Aku mengkategorikan makanan-makanan
yang sudah bisa diperkenalkan di awal MPASI dan yang baru bisa
diperkenalkan selanjutnya. Aku melakukannya secermat mungkin. Aku
sadar, Damai punya potensi alergi karena mamanya alergi, maka
pengenalan makannya pun harus bertahap dan hati-hati.

Perlengkapan makan sudah lengkap, hanya
aku mau beli lagi sendok makan yang lebih lentur dan lembut untuk
mulut Damai. Rasanya aku 90% sudah siap tempur. Oiya, pengetahuan
yang aku transfer ke mbah belum terlalu banyak. Tadi pagi
terburu-buru jadi lupa mau memberikan artikel feeding ke mbahkung
untuk dibaca. Nanti malam aku ingat-ingat deh supaya semua makin
lancar.

Sungguh rumit kalau dibayangkan, sama
seperti ketika akan mulai ASI eksklusif terutama ketika mulai masuk
kerja. ternyata tidak serumit memberi MPASI lho.

Bayangkan saja, kita harus tahu betul
komposisi yang ada di setiap bahan makanan yang kita berikan untuk
bayi kita. Mumpung masih bayi, kita bisa atur supaya ia suka sayur
dan buah, tidak suka manis dan asin berlebih. Semua demi kesehatan
kan… lagipula, rasa yang enak itu hanya beberapa menit di mulut,
tapi kalau sudah jadi penyakit akan lama di tubuh.

Aku dan papanya juga makin serius untuk
memperbaiki makanan kami karena nanti kalau Damai 1 tahun kan
makanannya sama dengan papa mamanya.

Tubuh Damai Mulai Dapat Ujian

Monday, October 2nd, 2006

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Akhirnya Damai kenalan juga sama virus.
Hmm, seminggu kemarin hidungnya meler terus. Segala senjata aku
siapkan. Balsam transpulmin, tetes hidung breathy, nasal aspirator
dan teko listrik untuk merebus air. Di samping itu semua yang
terpenting adalah   mengingatkan bapak dan mamak bahwa cold dan flu
adalah bagian dari proses belajarnya daya tahan tubuh anak. Ternyata
mereka sangat terbuka, bahkan bapak bilang bahwa ini hal biasa, Damai
kan baru sekali ini dan itu hal yang wajar. Ahh… leganya aku, tidak
harus berdebat. Rupanya informasi dan sharing pengetahuan sejak aku
hamil tentang kesehatan anak cukup mereka pahami. Dan aku makin sadar
kalau dulu aku pusing sedikit diajak ke dokter pasti karena mereka
sangat sayang padaku, hanya tidak cukup memiliki pengetahuan mengenai
tata laksana yang tepat bila anak sakit.

Awalnya aku agak tidak terima, kok ASI
eksklusif bisa kena pilek. Tapi aku sadar, sehari seebelumnya Damai
kami ajak ke mal dan banyak yang dia pegang dan cium. Uh… sakti
juga virusnya. Padahal selama ini mbahnya sudah tiga kali pilek Damai
tidak pernah tertular. Yah… ternyata Damai memang harus segera
belajar, hehehe… supaya makin kuat badannya.

Melernya Damai tidak lama, bahkan
nyaris tidak rewel. Itu kuncinya, asal behaviornya masih oke, orang
tua tidak perlu panik. ASI memang cihuy..!

Panas, pilek, batuk adalah hal yang
sangat biasa dialami anak-anak dan sebagian besar disebabkan oleh
infeksi virus, yang mana virus ini hanya dapat dikalahkan oleh daya
tahan tubuh. Jadi, tentu tidak ada obatnya.

Cukup minum ASI yang banyak(karena
Damai maih ASI eksklusif), cukup istirahat dan buat kondisi yang
humid di dalam kamar. Puji Tuhan, semua bisa dilewati dengan baik
oleh Damai dan tentu papa mamanya. Sama  sekali nggak khawatir tuh
(hehe… khawatir juga sih ada tetangga yang cerewet kasih komentar
soal anak sakit kok didiemin… padahal nggak didiemin kan?)

Setelah ini aku masih harus banyak
belajar agar lebih rasional dan bijaksana. Mudah-mudahan Damai selalu
sehat.

Produsen Susu

Monday, October 2nd, 2006

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Hari Jumat yang lalu aku dapat telpon
dari produsen susu. Yang bicara seorang perempuan. Pertama ia tanya
kabar Damai, sudah bisa apa dan sebagainya. Ia pun bertanya Damai
minum susu tambahan apa. Dengan bangga, aku katakan ASI saja yang
diminum Damai. Nampaknya ia berusaha mengatakan bahwa bekerja bisa
menjadi alasan memberikan susu tambahan, namun aku segera memotong
dengan tegas, bahwa hanya ASI yang paling baik dan aku tidak
kesulitan untuk memerah sepanjang aku di kantor. Akhirnya ia menyerah
dan beralih ke hal lain.

Selanjutnya ia tanya kabarku dan
tentunya apa kau masih minum susu produksi perusahaannya. Susu yang
dimaksud adalah susu untuk ibu menyusui sebagai kelanjutan susu ibu
hamil yang  dulu pernah aku konsumsi hingga usia kandungan enam
bulan.

Aku katakan aku tidak lagi minum susu
itu karena terlalu manis dan aku merasa kebutuhan giziku telah cukup
dengan makan seimbang. Ia pun bertanya aku minum susu apa. Kujawab,”
Susu segar!” Ia hampir saja mendongeng tentang AA dan DHA kalau
saja tidak aku potong dengan mengatakan kalau AA dan DHA itu sendiri
telah dibuat secara alami dan susu hanya memenuhi kebutuhan
kalsiumku.

Selanjutnya ia tidak banyak bicara dan
segera menyelesaikan pembicaraan.

Ah, seandainya dari dulu aku bisa
bersikap tegas seperti ini, pasti telepon2 itu sudah berhenti. Kalau
saja aku masih lemah dan masih berpura2 minum susunya hanya karena
tidak tega untuk berargumentasi dengan kenyataan yang sebenarnya, aku
pasti akan ditelpon lagi untu promosi susu formula lanjutan dan
sebagainya.

Sebagai seorang karyawan, itu memang
pekerjaannya, menawarkan produk dan menjaga konsumen tetap pada
keputusan semula untuk mengkonsumsi produk itu. Namun di sisi lain
ada pengetahuan yang disampaikan secara tidak benar dan menyesatkan.
Entah apa yang terjadi kalau yang menerima telepon itu adalah
orang-orang yang belum terbuka matanya seperti aku waktu hamil dulu.
Mengkonsumsi susu ibu hamil itu bukan suatu kewajiban dan
kekhawatiran anak akan kekurangan zat gizi yang bisa mengganggu
pertumbuhannya pun harus disingkirkan seandainya kita makan seimbang
menurut piramida makanan. Makan seimbang inilah yang menjamin
kebutuhan gizi ibu dan bayi. Susu diperlukan untuk kebutuhan kalsium
ibu dan bayi. Kalau hanya demikian maka susu segar rasa tawar lah
yang paling tepat karena tambahan rasa manis yang ada pada susu ibu
hamil bisa jadi tidak mendukung keadaan ibu. Belum lagi proses
perubahan susu cair menjadi bubuk sedikit banyak telah mengurangi zat
gizi yang baik yang ada di dalam susu.

Bagaimana ya sebenarnya pengetahuan si
karyawan perusahaan itu. Seandainya ia tahu yang sebenarnya, apakah
ia tega “menyesatkan” konsumen, dan kalau belum tahu, sungguh
sayang ya, karena pasti di perusahaan itu ada dokter ahli gizinya…

Rumit memang kalau bicara kesehatan
berkaitan dengan bisnis