Archive for July, 2006

Di Kantor Hari Minggu

Saturday, July 29th, 2006

Hari ini aku dapat jadwal masuk kantor. Sementara Mas Fredy masih di Solo. Jadinya aku ke gereja barito jam 7.30 tadi. Damai ke gereja juga lho, ikut sama mbah. Pinter deh, nggak rewel, bahkan susunya pun baru diminum di rumah.

Kantor sepi. sendiri di lantai 3, ekbis ada 2 orang. Untungnya mas Kus nyetel musik cukup keras dari bawah, jadinya aku terhibur juga di atas.

Nunggu rapat redaksi jam 2 nanti, sementara aku melengkapi pekerjaan2ku yang kemarin.
Mungkin hari ini hanya merah 2 kali. tadi jam 10 dan agak siangan nanti sesudah rapat. Mudah2an nggak terlalu sore nanti dari kantor, kangen Damai nih… untung besok libur, bisa main seharian dan bacakan banyak cerita serta nyanyi untuknya.

Damai, Lahir - 3 bulan

Saturday, July 29th, 2006

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Kendati
terlahir tidak terlalu besar, Damai, bidadari kecilku tumbuh cukup
pesat. Di bulan pertama ia naik 1 kg dan di bulan berikutnya 1,5 kg.
naik dua persentil dari BB lahirnya.

Kata
teman dan kerabat yang menengok, tangisnya seperti bukan bayi baru
lahir. Hisapannya kuat sekali. Ketika pulang ke rumah esok harinya,
saat belum dibedong, ia tidur miring dan meliuk, kepala dan kakinya
melengkung ke belakang. Damai sering tersenyum dalam tidurnya.

Sebenarnya
aku tidak terlalu ingat bagaimana aku dan suamiku melewati
minggu-minggu pertama. Yang teringat adalah  Damai sering sulit tidur
hingga harus digendong sampai larut malam. Itu pekerjaan suamiku,
tapi aku sering tidak tega kalau ia harus masuk pagi keesokan
harinya. Sementara putingku masih sakit, aku super bingung bagaimana
membuat Damai tidur nyenyak. Sementara air susuku membludak sepanjang
hari dan tak bisa menyusui karena sakit. Akhirnya aku beli pompa dan
masalah sedikit bisa  teratasi (walau kini aku merasa pompa itu tidak
berguna karena lebih efektif dan aman dengan tangan).  Beberapa kali
samiku hampir kecelakaan karena mengantuk. Yang membuatku bingung,
Damai tidak mau basah sedikitpun, jadi kalau pipis langsung nangis
dan susah tidur lagi. Akhirnya dengan berat hati, dia aku pakaikan
diaper saat usianya belum genap sebulan, dengan resiko, aku lebih
sering bangun (hampir setiap jam) untuk melihat diapernya. Aku
khawatir kalau Damai pup dan aku tidak tahu sampai pagi (memang ini
kan bahayanya…). Singkatnya, kesulitan tidur agak teratasi.

Saat
1,5 bulan, Damai mulai merespon orang-orang di sekitarnya, mulai
tertawa kalau diajak bicara. Waktu 2 bulan kurang 2 hari Damai
tengkurap, berguling tiga kali ke arahku waktu tengah malam. Sejak
saat itu, aku tak berani meninggalkannya sendiri di atas tempat
tidur.

Oiya,
waktu 3 Juni(hari ulang tahunku) Damai memberikan kado yang indah,
dia mulai tersenyum padaku, terharu dan bangga, Damai makin pintar.

17
Juli, pas Damai 3 bulan, aku dapat hadiah istimewa, Damai sudah tidak
kesulitan dengan berat tubuhnya, walau gendut, berguling tengkurap
dan telentang bukan hal yang sulit baginya, kepalanya pun main kuat
diangkat, bahkan dengan nekat dan gaya pamernya, ia mencoba bertumpu
pada dua tangannya dan dadanya diangkat. Aduuh… Damai, mama dan
papa sangat tahu bagaimana kamu bekerja keras untuk ini semua(terharu
saat menuliskan ini…)

Hari-hari
berikutnya makin indah, setiap hari ada saja yang baru. Setiap sore
Damai tidak mau lagi minum dotnya, mungkin tahu mamanya hampir
pulang. Kalau sedang minum dari dot dan lihat mama pulang, seketika
itu juga kegiatan minum dot berhenti, dia tahu sumbernya datang. Tapi
kan mama harus mandi dulu sayang…. sabar ya…

Putri
cantik kami makin besar, kami berusaha memberi yang terbaik, jadi
orang tua yang bijaksana dan rasional, mudah-mudahan Damai tidak
kecewa sama kami saat dia besar nanti.

Aku menjadi Mama!

Tuesday, July 25th, 2006

Sejak awal aku tahu kalau hamil, aku sudah bertekad ingin melahirkan normal seorang anak sehat yang beratnya jangan sampai 3 kg. Waktu itu aku takut bayiku terlalu besar dan sulit lahir normal. Aku jaga makan, sedikit sekali makan manis, sedapat mungkin tidak makan bervetsin(walau kalau jajan tidak mungkin), sayur-buah-susu jadi favorit. Jenis kelamin? terhegemoni dengan dugaan banyak orang jadi ingin laki2 ( ingin seperti delon, charles bonar sirait arau pierce brosnan, Hah??). Hasil usg bilang perempuan, jadi kami siapkan 2 nama saja.

Kehamilanku tidak terlalu merepotkan, cuma biduran tiap malam, agak pusing dan mual tanpa muntah dan ngidam. Aku berhenti latihan nyanyi dan baru mulai lagi di usia kehamilan 6 bulan. Aku ingin bisa nyanyi malam paskah dulu baru melahirkan(kok ngatur ya?).

Puji Tuhan semua diatur olehNya dengan sangat sempurna. Aku nyanyi bersama vox populi dimalam paskah meski dengan perut kencang dan badan makin pegal2. Aku tidak tahu mulasnya akan seperti apa, jadi malamnya aku masih nekat makan2 di tempat Mas Mayan hingga jam 2 pagi. Hari minggu paskah itu aku masih pergi ke pasar karena ingin masak soto. Malamnya aku merasa mulas tapi tidak sakit. Mas Fredy tersayang mencoba memperhatikan frekwensinya. Pukul 2 pagi mulasnya sudah 5 menit sekali dan kami memutuskan pergi ke bidan. Sampai di sana ternyata aku belum bukaan. Kami putuskan untuk kembali ke rumah dan menunggu tanda2 berikutnya. sampai pagi aku tidak tidur disertai rasa mulas. Mas Fredy sudah siap berangkat kerja atas permintaanku karena kupikir aku masih akan melahirkan malam hari. Untungnya ia tidak tega dan tetap disampingku sambil mengajak bercanda. Walau sakit sekali, aku masih mau tertawa.

Karena takut tidak bisa jalan, kami memutuskan ke bidan lagi pukul setengah tiga siang. Aku sudah bukaan lima. setelah jalan-jalan setengah jam, bidan bilang sudah bisa lahir. Ketubanku rasanya dipecahkan, lalu aku diminta miring ke kiri lalu ke kanan. Di sini, kesakitan makin terasa. Untuk menguranginya, kubayangkan saja aku jadi mama yang menggendong bayi. Sebelum mas Fredy sempat masuk ke dalam, putri kecil kami terlahir dengan berat 2,9 kg dan panjang 47cm. Di hari Senin 17 April 2006, pukul 16.21 WIB, aku menjadi Mama.

Aku masih dijahit ketika si kecilku melihat papanya. Nama Marcella Maharani Damai Gayatri pun menjadi miliknya. Doa kami mengiringi hadirnya ke bumi. Putri kecil kami… biarlah ia menjadi pembawa damai.

Kembali ke Kantor

Tuesday, July 25th, 2006

Kembali ke kantor jadi hal yang menyenangkan sekaligus menyedihkan buatku. Menyenangkan karena aku kembali dengan rutinitas yang dulu, bertemu teman-teman, suasana pekerjaan dan kesibukan kerja(kadang tidak sibuk juga, kadang sibuuuk sekali). Menyedihkan tentu karena aku harus meninggalkan bidadari kecilku di rumah. Damai yang sudah sangat cerewet sekarang ini membuat aku kangen ingin cepat sampai rumah. Tapi anehnya, kok jam terasa cepat ya di kantor, apa karena aku baru masuk selama 2 minggu, atau karena kegiatan memerah asi yang mengambil cukup banyak waktu kerjaku sehingga tiba2 saja sudah waktu memerah dan tiba-tiba harus memerah lagi.

Yang jelas, aku kembali mengasah otakku, membaca berita, browsing sana sini cari berbagai macam hal, baca koran dan majalah lagi, yang kalau di rumah rasanya tak ingin kulakukan karena tak rela meninggalkan Damai, walaupun dia tidur.

Selama liburan yang panjang aku merasa lemot, sering salah ucap, bicara tidak terstruktur dan salah memilih kata. Mudah-mudahan dengan kembali ke kantor semua jadi normal kembali. Kehidupan sebagai wanita bekerja yang biasa, tentu plus status baru sebagai seorang ibu. (Ada cerita sendiri soal ini…)