<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>
Kendati
terlahir tidak terlalu besar, Damai, bidadari kecilku tumbuh cukup
pesat. Di bulan pertama ia naik 1 kg dan di bulan berikutnya 1,5 kg.
naik dua persentil dari BB lahirnya.
Kata
teman dan kerabat yang menengok, tangisnya seperti bukan bayi baru
lahir. Hisapannya kuat sekali. Ketika pulang ke rumah esok harinya,
saat belum dibedong, ia tidur miring dan meliuk, kepala dan kakinya
melengkung ke belakang. Damai sering tersenyum dalam tidurnya.
Sebenarnya
aku tidak terlalu ingat bagaimana aku dan suamiku melewati
minggu-minggu pertama. Yang teringat adalah Damai sering sulit tidur
hingga harus digendong sampai larut malam. Itu pekerjaan suamiku,
tapi aku sering tidak tega kalau ia harus masuk pagi keesokan
harinya. Sementara putingku masih sakit, aku super bingung bagaimana
membuat Damai tidur nyenyak. Sementara air susuku membludak sepanjang
hari dan tak bisa menyusui karena sakit. Akhirnya aku beli pompa dan
masalah sedikit bisa teratasi (walau kini aku merasa pompa itu tidak
berguna karena lebih efektif dan aman dengan tangan). Beberapa kali
samiku hampir kecelakaan karena mengantuk. Yang membuatku bingung,
Damai tidak mau basah sedikitpun, jadi kalau pipis langsung nangis
dan susah tidur lagi. Akhirnya dengan berat hati, dia aku pakaikan
diaper saat usianya belum genap sebulan, dengan resiko, aku lebih
sering bangun (hampir setiap jam) untuk melihat diapernya. Aku
khawatir kalau Damai pup dan aku tidak tahu sampai pagi (memang ini
kan bahayanya…). Singkatnya, kesulitan tidur agak teratasi.
Saat
1,5 bulan, Damai mulai merespon orang-orang di sekitarnya, mulai
tertawa kalau diajak bicara. Waktu 2 bulan kurang 2 hari Damai
tengkurap, berguling tiga kali ke arahku waktu tengah malam. Sejak
saat itu, aku tak berani meninggalkannya sendiri di atas tempat
tidur.
Oiya,
waktu 3 Juni(hari ulang tahunku) Damai memberikan kado yang indah,
dia mulai tersenyum padaku, terharu dan bangga, Damai makin pintar.
17
Juli, pas Damai 3 bulan, aku dapat hadiah istimewa, Damai sudah tidak
kesulitan dengan berat tubuhnya, walau gendut, berguling tengkurap
dan telentang bukan hal yang sulit baginya, kepalanya pun main kuat
diangkat, bahkan dengan nekat dan gaya pamernya, ia mencoba bertumpu
pada dua tangannya dan dadanya diangkat. Aduuh… Damai, mama dan
papa sangat tahu bagaimana kamu bekerja keras untuk ini semua(terharu
saat menuliskan ini…)
Hari-hari
berikutnya makin indah, setiap hari ada saja yang baru. Setiap sore
Damai tidak mau lagi minum dotnya, mungkin tahu mamanya hampir
pulang. Kalau sedang minum dari dot dan lihat mama pulang, seketika
itu juga kegiatan minum dot berhenti, dia tahu sumbernya datang. Tapi
kan mama harus mandi dulu sayang…. sabar ya…
Putri
cantik kami makin besar, kami berusaha memberi yang terbaik, jadi
orang tua yang bijaksana dan rasional, mudah-mudahan Damai tidak
kecewa sama kami saat dia besar nanti.