Ha? Selamat ya…!
Hari ini seorang teman mengundang untuk menghadiri syukuran pernikahannya. Ternyata dia sudah menikah sejak 7 November yang lalu. Senang…. tapi kaget. Terakhir bertemu, dia masih merasa jauh dari keputusan itu. Yah… temanku ini dikenal sebagai pria menye-menye, yang sulit hidup tanpa perempuan… Dia pernah mengalami masa pacaran panjang yang diakhiri penghianatan. Dia pun terpuruk. Hilang semangat hidup, sama sekali… hari-harinya gelap, matanya sayu. Jangankan lawakan yang biasanya selalu identik dengannya, senyum pun sulit… sampai-sampai, aku merasa marah padanya, karena tidak menyadari keberuntungannya. Menurutku, lebih cepat tahu lebih baik, paling tidak itu hal positif yang bisa dipikir. Itu tiga tahun yang lalu… ketika kami tinggal bersama selama enam bulan di satu rumah penduduk di sebuah dusun kecil di Sulawesi.
Kembali ke Jakarta pun menurutku tak mengubah banyak hal… ia kembali pada gaya lamanya yang mempersiapkan calon-calon yang dapat dipilihnya untuk mendampingi kesehariannya yang tidak jelas. Dia memang selalu butuh wanita, katanya. Sungguh sangat tidak bisa dibayangkan, dia mengambil keputusan menikah. Tapi hari ini dari mulutnya, aku yakin, bahwa keputusannya tidak salah. Dua tahun dia menjalin hubungan dan memantapkan diri untuk menikah. Aku yakin… ada proses pendewasaan yang hebat di belakangnya… proses yang tidak kuketahui karena tak lagi bersua. Hari ini kalimat-kalimat yang kudengar darinya bukan lagi kalimat-kalimat yang sama seperti yang pernah mewarnai hari-hari kami. Aku senang sekali dan berharap keluarganya selalu bahagia. Dia pasti bersyukur pernah melewati kenakalan maupun kesakitan yang amat sangat hingga kini bisa saling berbangga dengan istrinya karena saling memiliki.
Benar begitu kan? Kita selayaknya bersyukur pernah melewati semua hal di belakang kita, karena apa yang kita peroleh sekarang adalah buah semua itu. Tidak ada satu pun yang kita lewati tidak bermakna… semua pasti punya peran untuk terwujudnya hal-hal yang kita peroleh sekarang… selamat mensyukuri!