SAY NO TO PUYER!

May 9th, 2008 by freddybear

Puyer, selama ini dianggap sediaan obat yang umum digunakan terutama bagi
anak-anak. Namun, pernahkah kita teliti, berapa banyak obat dalam satu jenis
puyer (padahal di dalam resep seringkali ada lebih dari satu puyer), apa saja
jenisnya, fungsi masing-masing, interaksi satu sama lain dan  proses
pembuatannya?

Mudah-mudahan tulisan-tulisan di bawah bisa sedikit membuka mata kita, demi
kebaikan anak-anak kita.

Oiya, ini link dari FDA soal bagaimana memberikan obat pada
anak .http://www.fda.gov/FDAC/features/196_kid.html
di sini tidak disebut soal puyer… setahu saya memang di negara lain tidak
memberi obat dalam bentuk puyer.

Salam,
Sisil

BERITA PERS

Dapat Segera Diterbitkan

Pengobatan Tidak Rasional Marak Di Indonesia

JAKARTA, 3 Mei 2008 – Penggunaan obat yang tidak rasional masih marak di
Indonesia, dan masalah ini menjadi tanggung jawab banyak pihak, dari pembuat
kebijakan, asosiasi profesi tenaga kesehatan, industri farmasi, dokter,
apoteker, hingga media massa dan pasien. Kerja sama dan dukungan semua pihak
mutlak diperlukan untuk memperbaiki kualitas pola pengobatan menjadi rasional
sebagaimana dianjurkan Badan Kesehatan Dunia WHO.

Menurut WHO, pengobatan yang rasional adalah pemberian obat yang sesuai
kebutuhan pasien, dalam dosis yang sesuai dan periode waktu tertentu, serta
dengan biaya serendah mungkin baik bagi pasien maupun komunitasnya. Pola
pengobatan yang tidak mengikuti kaidah-kaidah di atas adalah pola pengobatan
tidak rasional.

Demikian topik utama seminar Puyer: Quo Vadis? yang diselenggarakan Yayasan
Orang Tua Peduli (YOP) bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
wilayah Jakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) hari
ini di Aula FK-UI Salemba. Seminar yang diharapkan menjadi titik balik dunia
kedokteran Indonesia untuk menata kembali pola pemberian obat agar menjadi
rasional ini dihadiri konsumen kesehatan, dokter umum, farmasis, mahasiswa
tingkat akhir dan staf pengajar FK-UI.

Para pakar dari berbagai kalangan hadir sebagai panelis: Prof. Dr. dr. Rianto
Setiabudi, Sp.FK (Farmakologi FK-UI); dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K),
MMPed (YOP); Dra. Ida Z. Hafiz, Apt. Msi (Farmasi FK-UI); Prof. dr. Effionora
Anwar, M.S., Apt. (Farmasi FMIPA-UI); Huzna Zahir (Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia); dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad (K) (IDI wilayah DKI Jakarta);
Prof. dr. Mardiono Marsetio, Sp.M (K) (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran);
dan dr. Zunilda S. Bustami, MS, Sp.FK (Farmakologi UI). Dr. Dra. Delina Hasan
Apt, M.Kes bertindak selaku moderator diskusi terbuka di akhir acara.

Topik yang dibahas meliputi praktik peresepan yang baik, konsep pengobatan
rasional, puyer dari perspektif farmasi, serta praktik pengobatan di negara
lain. Pemaparan para ahli ini dilengkapi testimoni pekerja dan konsumen
kesehatan mengenai pengalaman pengobatan dalam praktik sehari-hari.

Contoh pola pengobatan tidak rasional adalah pemberian beberapa obat sekaligus
pada saat bersamaan dalam kondisi yang tidak perlu (polifarmasi), pemberian
antibiotika yang berlebihan, serta tingginya tingkat pemakaian obat yang
sebenarnya tidak dibutuhkan. Salah satu contoh polifarmasi adalah pemberian
puyer atau racikan (compounding) yang berisi beberapa obat sekaligus untuk
anak-anak dengan gangguan kesehatan ringan harian seperti demam, batuk-pilek
atau diare.

Polifarmasi beresiko memicu interaksi obat. Suatu analisis terhadap sejumlah
resep untuk pasien anak-anak yang masuk di suatu apotek di Jakarta Selatan
pada tahun 2005 menunjukkan bahwa 53% diantaranya merupakan pemberian obat
secara polifarmasi (lebih dari 4 obat) dan 12% diantaranya memicu timbulnya
interaksi obat yang tidak diinginkan (sumber: Media Penelitian dan
Pengembangan Departemen Kesehatan).

Di beberapa negara berkembang, persentase peresepan antibiotika yang
sebenarnya tidak perlu diberikan berkisar antara 52% sampai 62%. Data yang
terekam dari Indonesia berdasarkan survei yang dilakukan YOP mencatat
sedikitnya 47% antibiotika yang diberikan sebenarnya tidak diperlukan.
Penggunaan antibiotika yang tidak tepat ini akan menimbulkan masalah baru,
yaitu resistensi kuman.

Menurut Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK dari Farmakologi FK-UI,
pemberian resep racikan (puyer) di luar negeri saat ini hanya tinggal 1%.
Sementara di Indonesia, resep puyer untuk anak masih sering sekali dijumpai.
Dalam satu hari, apotek di salah satu rumah sakit swasta di Tangerang bisa
membuat rata-rata 130 resep puyer.

“Peresepan obat racikan membawa risiko dan berbagai dampak negatif bagi pasien
dan petugas farmasi. Kontrol kualitas sangat sulit dilaksanakan dalam
pembuatan puyer karena tingginya kemungkinan kesalahan manusia. Selain itu,
stabilitas obat tertentu dapat menurun bila bentuk aslinya digerus, sedangkan
toksisitas obat dapat meningkat,” jelas Rianto lebih lanjut.

Profesi kedokteran ditantang untuk mau dan mampu melakukan audit profesi dan
audit kerasionalan dalam memberikan resep sehingga dampak negatifnya dapat
dihindari, seperti meningkatnya biaya pengobatan yang tidak efisien serta
terjadinya efek obat yang tidak diharapkan.

Kurangnya informasi terhadap bukti ilmiah baru tentang obat dan farmakoterapi
tampaknya dihadapi kalangan profesional kesehatan di negara-negara
berkembang, termasuk Indonesia. Ironisnya, kelemahan ini dimanfaatkan
duta-duta farmasi sebagai peluang. Dengan gencar, para dokter dibanjiri
informasi mengenai produk obat mereka. Sayang, informasi ini umumnya tidak
seimbang, cenderung dilebih-lebihkan, dan berpihak pada kepentingan
komersial.

-Selesai-

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Yayasan Orang Tua Peduli

Komplek PWR, Jalan Taman Margasatwa No. 60, Jakarta 12540

Tel: (021) 780 0271

dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K), MMPed (purnamawati.spak@cbn.net.id)

dr. Yoga Pranata, S.Ked (doyogh@gmail.com)

LATAR BELAKANG
Seminar “Puyer: Quo Vadis?”

Seminar “Puyer: Quo Vadis?” dilaksanakan atas dasar keprihatinan beberapa
pihak akan maraknya pengobatan tidak rasional di Indonesia. Dalam technical
briefing seminar WHO awal tahun 2004 perihal Kebijakan Obat Esensial
dikemukakan bahwa di negara berkembang, jumlah obat yang diresepkan yang
sebenarnya tidak perlu diberikan mencapai 39% – 59%. Hal ini mencerminkan
tingginya uang untuk membeli obat yang sebenarnya tidak perlu alias
pemborosan.

K. Holloway dalam technical briefing seminar WHO 2004 di Geneva menyatakan
bahwa dari 30% – 60% pasien yang memperoleh antibiotika, hanya 10% – 25% saja
yang benar-benar memerlukannya. Sementara obat-obatan ini jika diberikan
kepada pasien memiliki efek samping yang tidak diinginkan.

Yayasan Orangtua Peduli (YOP) mengadakan dua penelitian cross sectional dengan
mengumpulkan resep yang dikirim melalui e-mail ke mailing list SEHAT atau
resep dan kwitansi yang dikirim ke YOP. Resep yang ditelaah adalah resep
untuk anak dengan 4 kondisi yaitu batuk, pilek, demam (ISPA); demam, diare
akut (dengan atau tanpa muntah); dan batuk tanpa demam lebih dari 1 minggu.
Dari 160 anggota mailing list, temuan kunci penelitian tersebut adalah
sebagai berikut:

* Jumlah obat. Median jumlah obat yang diresepkan adalah 5 (dengan rentang 2 –
11 obat). Batuk merupakan kondisi yang jumlah obat dalam peresepannya paling
tinggi yaitu 11 obat. Tingkat peresepan puyer mencapai 55,4% pada diare akut,
72,6% pada demam, 77,4% pada ISPA, dan 87% pada batuk.
* Antibiotika. Tingkat pemberian antibiotika paling tinggi pada anak demam
yaitu 87% disusul dengan diare 75%, ISPA 54,5%, dan pada anak batuk tanpa
demam sebesar 47%.
* Generik. Tingkat peresepannya sangat rendah yaitu 0% pada kasus demam, 5%
pada diare akut, 7% pada ISPA dan 10,5% pada batuk tanpa demam.
* Steroid. Obat yang mengandung steroid diberikan pada anak batuk sebesar
60,9%, pada ISPA sebesar 50,9%; sebesar 53,5% pada demam dan bahkan pada
diare 18,5%. Tingginya tingkat pemberian steroid sangat memprihatinkan,
terlebih karena tidak sesuai tata laksana (guideline) penanganan
penyakit-penyakit tersebut dan steroid yang diberikan merupakan steroid yang
cukup “keras”.
* Suplemen. Peresepan multivitamin, ensim, “perangsang nafsu makan” atau
“imunomodulator” cukup tinggi yaitu 21,9% pada ISPA, pada demam 34,9%, pada
batuk 2,4% dan paling tinggi pada diare yaitu 61,9%.
* Biaya. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli obat-obatan pada ISPA berkisar
antara Rp 15.000 – Rp 747.000 (median Rp 117.500); demam Rp 20.800 – Rp
137.000 (maksimum Rp 326.000); diare akut Rp 56.000 – 161.000 (maksimum Rp
349.000). Analisis biaya pada peresepan pediatri di Jakarta menunjukkan
tingginya biaya ketika dokter tidak bekerja sesuai tata laksana. Apalagi
mengingat biaya bukan sekedar rupiah, tetapi juga harm atau potential harm
yang ditimbulkan.

Penelitian menunjukkan adanya dua hal yang berperan dalam pengobatan tidak
rasional, yakni keterbatasan pengetahuan petugas profesional kesehatan
mengenai bukti-bukti ilmiah terkini, sehingga tidak jarang tetap meresepkan
obat yang tidak diperlukan (misalnya antibiotika dan steroid untuk penyakit
infeksi virus). Kedua, keyakinan dan perilaku pasien sangat berperan dalam
penetapan obat yang diberikan.

Salah satu contoh pengobatan tidak rasional adalah pemberian campuran berbagai
obat yang diracik dan dijadikan “puyer” (obat bubuk) atau dimasukkan ke dalam
kapsul atau sirup oleh petugas apotek (lazim disebut compounding).? Peresepan
obat puyer untuk anak di Indonesia sangat sering dilakukan karena beberapa
faktor:

* Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan anak secara lebih tepat
* Biayanya bisa ditekan menjadi lebih murah
* Obat yang diserahkan kepada pasien hanya satu macam, walaupun mengandung
banyak komponen

Menurut Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK dari Farmakologi FK-UI,
peresepan obat puyer membawa risiko untuk pasien dan berbagai dampak negatif
lainnya. Di negara maju, praktik ini sudah sangat berkurang karena:

1. Kemungkinan kesalahan manusia dalam pembuatan obat racik puyer ini tidak
dapat diabaikan, misalnya kesalahan menimbang obat, atau membagi puyer dalam
porsi2 yang tidak sama besar. Kontrol kualitas sulit sekali dapat
dilaksanakan untuk membuat obat racikan ini.
2. Stabilitas obat tertentu yang dapat menurun bila bentuk aslinya digerus,
misalnya bentuk tablet salut selaput (film coated), tablet salut selaput
(enteric coated), atau obat yang tidak stabil (misalnya asam klavulanat) dan
obat yang higroskopis (misalnya preparat yang mengandung enzim pencernaan)
3. Toksisitas obat dapat meningkat, misalnya preparat lepas lambat bila
digerus akan kehilangan sifat lepas lambatnya.
4. Waktu penyediaan obat lebih lama. Rata-rata diperlukan 10 menit untuk
membuat satu resep racikan puyer, 20 menit untuk racikan kapsul, sedangkan
untuk mengambil obat yang sudah jadi hanya perlu kurang dari 1 menit.
Kelambatan ini berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pasien terhadap layanan
di apotek.
5. Efektivitas obat dapat berkurang karena sebagian obat akan menempel pada
blender/mortir dan kertas pembungkus. Hal ini terutama terjadi pada obat-obat
yang dibutuhkan dalam jumlah kecil, misalnya puyer yang mengandung
klopromazin.
6. Pembuatan obat puyer menyebabkan pencemaran lingkungan yang kronis di
bagian farmasi akibat bubuk obat yang beterbangan ke sekitarnya. Hal ini
dapat merusak kesehatan petugas setempat.
7. Obat racikan puyer tidak dapat dibuat dengan tingkat higienis yang tinggi
sebagaimana halnya obat yang dibuat pabrik karena kontaminasi yang tak
terhindarkan pada waktu pembuatannya.
8. Pembuatan obat racikan puyer membutuhkan biaya lebih mahal karena
menggunakan jam kerja tenaga di bagian farmasi sehingga asumsi bahwa harganya
akan lebih murah belum tentu tercapai.
9. Dokter yang menulis resep sering kurang mengetahui adanya obat sulit dibuat
puyer (difficult-to compound drugs) misalnya preparat enzim.
10. Peresepan obat racik puyer meningkatkan kecenderungan penggunaan obat
irasional karena penggunaan obat polifarmasi tidak mudah diketahui oleh
pasien.

Untuk rumah sakit yang ingin mencapai standar internasional, khususnya dalam
melindungi keselamatan pasien, maka penulisan resep dan pembuatan obat
racikan ini perlu dihapus. Kelak diharapkan semua kebutuhan obat untuk anak
dapat dipenuhi berdasarkan obat formulasi pabrik.
Peran Organisasi Profesi Kedokteran dan Kebijakan Pemerintah

Ada 3 agenda tindakan untuk meningkatkan penggunaan obat yang rasional.
Pertama, pendekatan edukasi: konsep obat esensial dan aplikasinya serta
pendidikan preskripsi yang rasional kepada mahasiswa kedokteran. Selain itu
rumah sakit pendidikan punya tanggung jawab etis terhadap masyarakat untuk
mempromosikan peresepan yang rasional melalui contoh konkret dari para staf
pengajarnya. Sayangnya, justru rumah sakit pendidikan di Indonesia adalah
tempat mengajarkan peresepan yang tidak rasional.

Agenda kedua adalah skim manajerial: melalui siklus pengadaan obat. Daftar
Obat Esensial Nasional (DOEN) yang diimplementasikan secara konsisten dan
diikuti dengan baik oleh setiap tingkat pelayanan kesehatan sangat penting
artinya. Estimasi pengadaan obat harus didasarkan pada morbiditas (angka
kesakitan), bukan atas dasar penggunaan sebelumnya. Agenda ketiga, intervensi
regulasi.
Peran Dokter dan Industri Farmasi

Suatu penelitian skala besar di beberapa negara maju menunjukkan sedikitnya
tiga alasan mengapa para dokter cenderung abusive dalam pola peresepannya:

* Kurangnya kepercayaan diri (lack of confidence). Dokter sering kurang
percaya diri untuk menyatakan bahwa penyakit pasien disebabkan infeksi virus
dan tidak memerlukan antibiotika. Dokter juga khawatir pasien akan pindah ke
dokter lain yang justru akan memberikan antibiotika. Saat pasien sembuh ia
akan menganggap antibiotikanya lah yang menyembuhkan. Padahal, setiap
penyakit memiliki pola perjalanan penyakit. Saat berobat ke dokter kedua,
penyakitnya diambang kesembuhan. Jadi, sama sekali tidak ada hubungan dengan
antibiotika yang diberikan.
* Desakan pasien (patient pressure). Tidak sedikit pasien yang meminta
antibiotika atau menuntut obat cespleng. Di lain pihak, tidak sedikit pasien
yang bersikap pasif, tidak bertanya atau mencari informasi perihal pengobatan
yang diberikan.
* Desakan perusahaan (company pressure).

Peran Apoteker

Seorang apoteker di Kanada menceritakan tugasnya di sana, yang antara lain
meliputi:

1. Pengecekan apakah resep dari dokter tidak salah untuk penyakit tertentu dan
apakah dosisnya sudah tepat. Kalau resepnya salah, apoteker harus menghubungi
dokter, sehingga kalau ada kesalahan, masih bisa diperbaiki.
2. Pengecekan kemungkinan interaksi obat. Setiap pasien mempunyai arsip di
komputer apotek berisi obat-obat yang pernah dipakainya. Jadi kalau
obat/resep baru bisa menyebabkan interaksi obat, apoteker harus
memberitahukan dokter yang bersangkutan untuk mengganti obat, bila perlu.
3. Mengawasi apakah pasien adalah pengguna obat yang berlebihan atau
drug’s/narcotic’s abuser. Walaupun pasien pindah ke apotek lain, kalau
membeli obat jenis narkotika, riwayat pemakaian obat narkotika dapat
diketahui sebab pemakaian obat narkotika disimpan di komputer sentral yang
bisa di akses setiap apotek.
4. Konseling. Memberikan konsultasi kepada pelanggan adalah tugas yang sangat
penting bagi apoteker.
5. Dari segi ekonomi, apoteker dianjurkan mengganti obat bermerek yang
dianjurkan dokter dengan obat generik.

Peran Pasien

Era informasi ini telah menggulirkan pergeseran di berbagai aspek kehidupan
termasuk aspek kesehatan khususnya di sisi pengetahuan dan kesadaran
kesehatan. Khalayak umum dengan mudah memperoleh akses ke pengetahuan
kesehatan. Kemudahan ini seperti mengisi kehausan ilmu kaum muda Indonesia
yang sudah semakin menyadari haknya dan sudah mulai memposisikan dirinya
sebagai konsumen.

Hal ini tercermin dari semakin meningkatnya upaya masyarakat dalam membekali
diri dengan pengetahuan kesehatan. Mereka juga mencermati iklim layanan
kesehatan baik di luar Indonesia dimana konsumen terbukti berhasil membantu
mewujudkan iklim layanan kesehatan yang lebih baik dan rasional. Mereka juga
gencar mencari dan berbagi informasi perihal siapa-siapa saja dokter yang
rasional. Mereka bisa saja mengunjungi dokter dengan membawa artikel dan
pedoman yang diperoleh dari berbagai sumber, seperti internet, atau sudah
memahami tatalaksana pemberian obat yang tepat (evidence-based medicine/EBM)
dan pedoman (guidelines) yang ada.

Lalu bagaimana dokter menyikapi fenomena dan kondisi seperti ini? Penerapan
pedoman dalam praktek sehari-hari, cepat atau lambat, akan membantu
mengangkat citra profesionalisme dokter sebagai tenaga medis.
Peran Media Massa

Media massa memainkan peranan sangat besar sebagai sarana sosialisasi
pengetahuan dan kebijakan baru bagi masyarakat. Sayangnya, banyak media massa
yang tanpa disadari telah dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung
jawab untuk menyesatkan masyarakat dengan informasi yang tidak seimbang dan
tidak tepat.
Peran Institusi Pendidikan Kedokteran dan Farmasi

Dokter, perawat, dan farmasis merupakan sumber bagi orang awam ketika
membutuhkan informasi tentang obat. Sebagai konsekuensi, profesi ini dituntut
untuk selalu memperbaharui ilmu yang mereka miliki dengan menghadiri berbagai
konferensi, pelatihan, dan seminar tentang kedokteran termasuk penggunaan
obat yang rasional. Kurangnya pengetahuan mengenai penggunaan obat yang
rasional dapat mencerminkan kualitas pelayanan. Diperlukan program tentang
penggunaan obat yang rasional yang meliputi pelatihan dalam praktek peresepan
dan dispensing yang tepat dan sistem yang mengatur pengawasan (monitoring)
secara berkala terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mempromosikan
penggunaan obat yang rasional.

Institusi kedokteran dan farmasi juga berperan dalam menyelenggarakan berbagai
pendidikan berkelanjutan untuk tetap mempertahankan kompetensi yang dimiliki
para dokter dan farmasis.

Suryawati dan Santoso tahun 1997 melakukan pelatihan untuk mahasiswa
kedokteran yang akan menjalani magang klinik untuk mengenali klaim yang
berlebihan atau indikasi yang diperluas tanpa didukung dasar ilmiah, infomasi
yang salah tentang efek samping, rekomendasi yang tidak tepat untuk dosis dan
penggunaan obat, informasi yang salah tentang profil farmakodinamik dan
farmakokinetik, dan kurangnya informasi tentang peringatan dan pencegahan.
Pelatihan ini terbukti efektif bahkan hingga 12 bulan setelahnya, pelatihan
ini terbukti merupakan metode yang berguna untuk membekali mahasiswa dengan
pengetahuan dan ketrampilan agar dapat menilai informasi tentang obat dan
iklan secara kritis.
Penutup

Jelas sekali terlihat bahwa masalah penggunaan obat yang rasional bukan hanya
tanggung jawab satu atau dua pihak saja (lihat diagram di bawah ini).
Diperlukan kerja sama yang saling mendukung antar berbagai pihak.

Akhirnya, mari bergandengan tangan memperbaiki pola layanan kesehatan di
Indonesia dengan menjunjung tinggi dua warisan filosofis. Pertama, warisan
dari jaman Roma ketika Hippocrates mengingatkan para dokter untuk senantiasa
mendahulukan kepentingan pasien. Kedua, warisan dari jaman Yunani ketika
Galen meminta dokter untuk senantiasa menjunjung tinggi “Primum non no cere”
atau Above all do not harm (harm di sini maknanya sangat filosofis).

Semoga profesi dokter bukan hanya mampu bertahan melainkan semakin berjaya dan
profesional atas dasar etika tinggi, kompetensi dan transparansi. Semoga
semua pihak dapat bergandengan tangan memberikan yang terbaik bagi masyarakat
Indonesia umumnya, dan buat anak-anak Indonesia khususnya. Semua anak,
termasuk anak Indonesia, berhak memperoleh layanan kesehatan yang terbaik.

-Selesai-

Bolehkah Makanan Bayi Diberi Perasa?

September 5th, 2007 by freddybear

Bolehkah Makanan Bayi Diberi Perasa?

  18-Juli-2007

  Oleh: dr Handrawan Nadesul

  Makanan bayi tentu saja tidak boleh disamakan dengan makanan orang
  dewasa. Selain saluran pencernaan bayi belum siap menerima segala
  jenis menu orang dewasa, susunan gigi-geligi, dan sejumlah organ yang
  terkait dengan pengolahan (metabolisme) makanan yang dikonsumsi belum
  tentu sudah cukup matang untuk menerimanya. Termasuk segala jenis
  perasa dalam makanan. Masih bolehkah bayi menerimanya?

  KALAU ditanya apakah boleh, jawabannya tentu saja sebaiknya tidak.
  Lebih baik tidak menambahkan segala sesuatu sehingga menambah beban
  tubuh bayi, selain kemungkinan tidak menyehatkan.

  Beban memikul asupan garam dapur (NaCl) yang melebihi kemampuan
  ginjal bayi yang belum kuat memikulnya. Fungsi ginjal bayi belum
  cukup matang untuk menyisihkan kelebihan mineral dalam garam dapur.
  Maka segala jenis menu dengan kandungan garam dapur, apalagi yang
  berlebihan, sebaiknya dijauhkan dari menu harian bayi.

  Natrium sudah mencukupi dari bukan garam dapur
  Tubuh memang membutuhkan mineral natrium yang dapat diperoleh dari
  garam dapur. Namun tak perlu mengonsumsi khusus garam dapur jika
  natrium yang terkandung dalam bahan makanan alami sudah mencukupi.
  Hampir semua produk laut, secara alami sudah mengandung unsur
  natrium, tanpa perlu menambahkan garam dapur sekalipun. Maka semakin
  beragam menu bayi (setelah mulai diberikan nasi tim), semakin kecil
  kemungkinan tubuh bayi terancam kekurangan unsur mineral natriumnya.
  Betul. Tubuh tidak boleh sampai kekurangan natrium yang melakukan
  perannya pada otot dan jantung juga. Sama halnya seperti akibat yang
  ditimbulkan pasca diare, tubuh mengalami kekurangan unsur natrium
  yang ekstrim, sehingga bisa saja terjadi renjatan (syok). Maka esktra
  natrium dari larutan gula-garam atau oralit pada kasus diare memang
  suatu keharusan. Kekurangan natrium berpengaruh buruk pada tekanan
  darah juga. Namun kelebihan natrium dalam tubuh, sebagaimana terjadi
  pada budaya makan serba asin, sama tidak menyehatkannya.

  Tubuh rata-rata orang modern, akibat budaya makan asin, cenderung
  kelebihan natrium dalam tubuhnya sehingga berisiko meninggikan
  tekanan darah. Darah tinggi orang dengan budaya makan asin, terjadi
  akibat natrium dalam darah melebihi normal.

  Membentuk bukan lidah asin
  Lidah seseorang dibentuk sejak kecil. Jika dari bayi tidak dibiasakan
  mengonsumsi cita rasa asin (banyak takaran garam dapurnya),
  seterusnya lidah tidak terbiasa menerima rasa asin. Ambang asin lidah
  terbentuk lebih rendah, sehingga menolak dan merasa tidak nyaman
  menerima menu yang terlampau asin.

  Sebaliknya apabila sejak bayi lidahnya sudah dibentuk cita rasa asin,
  menu yang dipilih akan cenderung lebih asin dari rata-rata menu
  normal. Keadaan begini yang dinilai tidak menyehatkan karena akan
  terbawa sampai sepanjang hayat.

  Membiasakan bayi cenderung menerima menu yang lebih asin, atau
  membubuhi garam dapur lebih banyak, akan melahirkan orang dewasa yang
  lidahnya menagih asin. Kebutuhan garam dapurnya mungkin tiga atau
  empat kali lipat lebih besar dari orang normal.

  Normal, dalam budaya makan asin, tubuh menerima kelebihan garam dapur
  rata-rata lebih dari tiga kali lipatnya. Kelebihan garam ini yang
  harus tubuh buang lewat ginjal, selain harus memikul akibat
  meningginya tekanan darah.

  Orang yang berdomisili di pedalaman, suku Eskimo, Indian, Dayak, yang
  menu hariannya tanpa garam dapur, tidak ditemukan kasus-kasus darah
  tinggi. Demikian pula suku-suku berumur di atas seratus tahun
  (centenarian), menu hariannya sepi dari garam dapur. Dan itu yang
  sesungguhnya menyehatkan tubuh.

  Waspadai camilan
  Kita tahu hampir semua camilan dan jajanan cenderung membubuhi garam
  dapur yang melebihi kebutuhan tubuh. Sehari tubuh hanya membutuhkan
  natrium kurang dari 5 gram garam dapur. Kalau dihitung, asupan garam
  dapur rata-rata orang dengan budaya makan asin sekitar 15 Gram
  seharinya. Dan itu berasal dari hampir semua menu di luar rumah. Menu
  restoran, khususnya restoran China, aneka camilan, dan jajanan, garam
  dapurnya cenderung melebihi kebutuhan tubuh.

  Maka seberapa bisa, mengolah menu sendiri di rumah yang ditakar garam
  dapurnya. Pemerintah Singapura membatasi pemakaian garam dapur pada
  semua restorannya, sehingga memang cenderung lebih tawar dibanding
  menu restoran di Indonesia. Dan cara menyehatkan itu yang menjadi
  program nasionalnya.

  Kita tahu garam dapur dalam kecap, kendati namanya kecap manis,
  kandungan garam dapurnya juga melebihi kebutuhan tubuh. Padahal
  kebiasaan makan orang kita cenderung tiada hari tanpa kecap. Maka
  dari itu, jangan mulai membiasakan bayi berkenalan dengan serba kecap
  kalau tidak mau nantinya terbiasa menyukai yang serba asin. Apalagi
  kecap asin. Sekadar saus tomat dan sambal botol pun sudah lebih dari
  sekadar asin.

  Garam sodium rendah
  Ya, ada baiknya cita rasa asin, yang memang menambah gurih cita rasa
  makanan, bisa disiasati dengan membubuhi bukan garam dapur (NaCl),
  melainkan memilih jenis garam yang kadar natriun (sodium)-nya rendah
  saja (low sodium salt).

  Gula pasir juga tidak menyehatkan
  Ya, selain garam dapur, manis dari gula pasir tidak lebih menyehatkan
  daripada manis dari madu atau gula merah (gula jawa). Maka kalau pun
  perlu diberikan manis juga, biarkan manis itu berasal dari bahan
  alami.

  Air tebu sebagai bahan pembuat gula pasir memang pilihan yang
  menyehatkan. Namun ketika air tebu diolah dan dicampurkan bahan
  kimiawi untuk membentuk kristal gula pasir, itulah yang menjadikannya
  tidak menyehatkan lagi. Maka lebih baik memilih gula merah (dari
  enau, atau kelapa) yang proses pengolahannya tidak menambahkan bahan
  kimiawi apa pun, selain lebih baik memilih madu.

  Soal kaldu, sebetulnya tidak mengapa kalau diberikan untuk bayi.
  Namun mitos hebatnya kaldu untuk bayi harus dihapus, oleh karena
  kandungan kaldu hanyalah didominasi oleh kandungan lemak.
  Lebih penting memberikan daging ayam, atau daging sapinya ketimbang
  hanya memberikan kaldu ayam, atau kaldu daging sapinya. Tidak juga
  cukup hanya memberi ceker ayam, yang juga karena mitos, anak
  kehilangan kesempatan mendapat protein dari daging ayamnya. Ceker
  ayam hanya berisi urat dan lemak belaka, kecil saja proteinnya.
  Padahal yang bayi butuhkan justru protein pada dagingnya.

Cuti Melahirkan dan Memberi ASI Eksklusif

August 28th, 2007 by freddybear

Ga sempat nulis apa2 nih, baca aja ya…

Cuti Melahirkan dan Memberi ASI Eksklusif

Akida M Widad

SALAH satu dampak kehidupan modern adalah pada pengaturan peran dalam keluarga.
Dahulu, pengaturan peran adalah ayah sebagai kepala keluarga yang bertugas
antara lain memimpin keluarga dan mencari nafkah, ibu bertanggung jawab untuk
urusan dalam rumah, serta anak-anak sebagai anggota keluarga yang disiapkan
untuk berkembang di masa depan.

KEHIDUPAN modern sedikit menggeser pengaturan tersebut. Kini, para ibu dituntut
untuk tidak berperan dalam urusan domestik belaka, tetapi juga urusan di luar
rumah, seperti bekerja, tanpa melupakan peran keibuan yang tak tergantikan,
yaitu hamil, melahirkan, dan menyusui.

Dalam suatu keluarga, kelahiran anak membuat ritme kehidupan sehari-hari yang
sebelumnya sudah berlangsung tak dapat dipertahankan apa adanya. Harus ada
strategi khusus dan beberapa kompromi agar segalanya dapat berjalan baik. Dalam
hal ini, untuk kepentingan ibu hamil dan melahirkan, pemerintah memberikan
kelonggaran berupa cuti hamil dan melahirkan selama tiga bulan yang biasanya
mulai diambil pada masa akhir kehamilan kira-kira 1,5 bulan sebelum melahirkan
sampai kira-kira 1,5 bulan sesudah melahirkan. Setelah cuti selesai, diharapkan
ibu bersangkutan dapat kembali bekerja dan beraktivitas seperti biasanya. Aturan
ini juga dianut lembaga-lembaga swasta di Indonesia.

Mari kita evaluasi lagi tentang cuti tiga bulan tersebut.

Untuk seorang perempuan yang melahirkan, cuti itu sudah memadai. Kondisi fisik
sesudah melahirkan bahkan sudah dapat pulih jauh sebelum tiga bulan. Jadi, jika
cuti tersebut didasarkan pada pemulihan kondisi fisik ibu, jelas waktu tersebut
cukup. Namun, bagaimana jika ditinjau dari bayi yang baru dilahirkan?

Bayi yang baru lahir menuntut perhatian ekstra besar dan perawatan yang
hati-hati. Untuk keperluan nutrisinya, Organisasi Kesehatan Dunia
merekomendasikan agar bayi baru lahir mendapat ASI eksklusif (tanpa tambahan
apa-apa) selama enam bulan. ASI atau air susu ibu adalah nutrisi terbaik bagi
bayi dengan kandungan gizi paling sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan
optimal. Dalam tulisannya yang terdapat pada situs Food and Drug Administration
(FDA) Amerika Serikat, Rebecca D Williams menyebutkan ASI mengandung sedikitnya
100 macam zat yang tidak terdapat dalam susu formula.

Sekitar 80 persen sel penyusun ASI adalah sel makrofag, yaitu sel yang mampu
membunuh bakteri, fungi, dan virus. Untuk perkembangan kecerdasan, ASI
mengandung berbagai nutrisi paling tepat untuk mendukung perkembangan kecerdasan
bayi. Selain semua yang telah disebutkan di atas, memperoleh ASI merupakan hak
asasi setiap bayi sebagaimana Konvensi Hak-hak Anak tahun 1990 telah menegaskan
bahwa tumbuh kembang secara optimal merupakan salah satu hak anak.

Tak ada jadwal khusus yang bisa diterapkan untuk pemberian ASI pada bayi.
Artinya, ibu harus siap setiap saat bayi membutuhkan ASI. Akibatnya, jika ibu
diharuskan kembali bekerja penuh sebelum bayi berusia enam bulan, pemberian ASI
eksklusif ini tidak bisa berjalan sebagaimana seharusnya.

Jika para ibu ingin mempertahankan pemberian ASI eksklusif pada bayi selama enam
bulan, setidaknya ada dua pilihan yang dapat digunakan. Pertama, mengambil kerja
paruh waktu sesudah masa cuti tiga bulan selesai. Artinya, ibu tetap dapat
beraktivitas di luar rumah dan memperoleh penghasilan dengan baik, tetapi masih
sempat menyisakan waktu untuk bayi. Untuk berjaga-jaga jika bayi membutuhkan ASI
saat ibu tak ada di rumah, ASI dapat dipompa keluar dan disimpan dalam botol
untuk selanjutnya diberikan kepada bayi.

Namun, ini bukan cara yang bisa diterapkan begitu saja. Selain tidak mudah untuk
memompa ASI, ibu yang bersangkutan harus ketat mengatur dietnya agar produksi
ASI-nya melimpah sehingga bisa dipompa ke luar. Ambil rata-rata bayi 2-3 bulan
dengan berat badan rata-rata 5,5 kilogram membutuhkan minum sebanyak 700-800
mililiter (ml) per hari. Jika ibu meninggalkan rumah rata-rata enam jam per
hari, maka ia harus memompa ASI sekitar 400 ml mengingat jadwal pemberian ASI
adalah sesuka bayi atau kapan saja.

Ini bukan tugas mudah, tetapi setidaknya lebih baik daripada tidak ada pilihan
sama sekali. Jika ibu harus tetap bekerja seperti biasa (artinya meninggalkan
rumah seharian penuh), maka tugas memompa ASI menjadi jauh lebih berat.

Kondisi fisik dan mental yang lelah karena harus bekerja sepanjang hari dan
terjebak macet dalam perjalanan pergi pulang kantor ditambah diet yang kurang
memadai jelas berakibat pada kelancaran produksi ASI. Jangankan untuk dipompa,
pemberian ASI secara langsung saja sudah semakin sulit dipertahankan.

Pilihan kedua adalah cuti hamil diberikan selama enam bulan. Memang, jangka
waktu cuti ini bisa saja mula-mula dianggap terlalu lama oleh beberapa pihak,
terutama pemberi kerja. Namun, jika kita berpikir ke depan, ke generasi yang
akan datang, harga yang dibayarkan pada cuti enam bulan ini akan sepadan.

Selama enam bulan pertama dalam kehidupannya, bayi mendapat perawatan langsung
dari tangan ibu yang telah melahirkannya. Ibu pulalah orang yang paling dapat
memahami bahwa bayi mempunyai hak-hak yang harus dihargai secara utuh, tanpa
dibebani kewajiban apa pun, termasuk kewajiban bersikap manis, menurut, dan
tidak rewel.

Setelah usianya hampir enam bulan, saat bayi barangkali sudah dapat duduk dan
interaksinya dengan lingkungan sekelilingnya juga semakin baik dan berkembang,
ibu bisa bersiap-siap beraktivitas kembali seperti semula. Bandingkan jika cuti
hamil dan melahirkan hanya selama tiga bulan. Dalam usia belum dua bulan bayi
dipaksakan siap ditinggal ibunya sepanjang hari. Mungkin bayi dengan terpaksa
harus dititipkan kepada orang lain-pembantu, pengasuh, baby sitter-yang
kadang-kadang bahkan belum kita kenal dengan baik.

PEMBERIAN ASI eksklusif dari berbagai segi akan sangat menguntungkan. Selain
bagi bayi, ASI bagi ibu dapat mengurangi risiko perdarahan setelah melahirkan,
mempercepat pemulihan kesehatan ibu, menunda kehamilan, dan mengurangi risiko
terkena kanker payudara. Lebih daripada itu dari sudut pandang psikologis, ASI
adalah sarana pendekat hubungan ibu dan bayi paling efektif.

Kedua opsi tersebut, baik kerja paruh waktu maupun cuti enam bulan, memerlukan
landasan hukum agar ibu tidak perlu bergantung pada kemurahan hati atasan untuk
mengambil cuti atau memilih kerja paruh waktu selama beberapa saat sesudah
melahirkan.

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, kita jelas tertinggal jauh. Di
Inggris ibu yang hamil dan melahirkan bisa mendapatkan cuti 40 minggu, yang
diambil mulai 11 minggu sebelum hari perkiraan lahir sampai 29 minggu setelah
melahirkan. Artinya, mungkin sekali bagi ibu di sana untuk memberikan ASI
eksklusif bagi bayinya. Contoh lain, di Denmark, ibu bisa mengambil cuti empat
atau delapan minggu sebelum melahirkan dan 14 minggu sesudah melahirkan plus 10
minggu cuti untuk merawat bayi.

Ironis sekali jika melihat kenyataan di Indonesia. Kampanye pemberian ASI
eksklusif selama enam bulan tengah mulai digalakkan dan informasi tentang
manfaat ASI eksklusif disebarluaskan merata di tengah masyarakat, bahkan
pemerintah menetapkan Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu (PP-ASI) sebagai
program nasional. Tetapi, pada kenyataannya tidak ada dukungan yang membuat
program ini tidak mustahil dilaksanakan bagi ibu bekerja. Jadi, penyebarluasan
informasi bisa saja berhasil baik, tetapi hanya sebatas informasi yang sulit
sekali diwujudkan sebagai tindakan nyata.

Selayaknya, mempersiapkan generasi yang tangguh dan cerdas di masa depan adalah
tanggung jawab semua pihak. Pemberian ASI eksklusif, bagi bangsa dan negara,
berarti menjamin ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas di masa
depan.

Akida M Widad Ibu yang Menjadi Pengajar pada Jurusan Teknik Kimia Universitas
Muhammadiyah Surakarta

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/13/swara/1426091.htm

Cuti Melahirkan dan Memberi ASI Eksklusif

August 28th, 2007 by freddybear

Ga sempat nulis apa2 nih, baca aja ya…

Cuti Melahirkan dan Memberi ASI Eksklusif

Akida M Widad

SALAH satu dampak kehidupan modern adalah pada pengaturan peran dalam keluarga.
Dahulu, pengaturan peran adalah ayah sebagai kepala keluarga yang bertugas
antara lain memimpin keluarga dan mencari nafkah, ibu bertanggung jawab untuk
urusan dalam rumah, serta anak-anak sebagai anggota keluarga yang disiapkan
untuk berkembang di masa depan.

KEHIDUPAN modern sedikit menggeser pengaturan tersebut. Kini, para ibu dituntut
untuk tidak berperan dalam urusan domestik belaka, tetapi juga urusan di luar
rumah, seperti bekerja, tanpa melupakan peran keibuan yang tak tergantikan,
yaitu hamil, melahirkan, dan menyusui.

Dalam suatu keluarga, kelahiran anak membuat ritme kehidupan sehari-hari yang
sebelumnya sudah berlangsung tak dapat dipertahankan apa adanya. Harus ada
strategi khusus dan beberapa kompromi agar segalanya dapat berjalan baik. Dalam
hal ini, untuk kepentingan ibu hamil dan melahirkan, pemerintah memberikan
kelonggaran berupa cuti hamil dan melahirkan selama tiga bulan yang biasanya
mulai diambil pada masa akhir kehamilan kira-kira 1,5 bulan sebelum melahirkan
sampai kira-kira 1,5 bulan sesudah melahirkan. Setelah cuti selesai, diharapkan
ibu bersangkutan dapat kembali bekerja dan beraktivitas seperti biasanya. Aturan
ini juga dianut lembaga-lembaga swasta di Indonesia.

Mari kita evaluasi lagi tentang cuti tiga bulan tersebut.

Untuk seorang perempuan yang melahirkan, cuti itu sudah memadai. Kondisi fisik
sesudah melahirkan bahkan sudah dapat pulih jauh sebelum tiga bulan. Jadi, jika
cuti tersebut didasarkan pada pemulihan kondisi fisik ibu, jelas waktu tersebut
cukup. Namun, bagaimana jika ditinjau dari bayi yang baru dilahirkan?

Bayi yang baru lahir menuntut perhatian ekstra besar dan perawatan yang
hati-hati. Untuk keperluan nutrisinya, Organisasi Kesehatan Dunia
merekomendasikan agar bayi baru lahir mendapat ASI eksklusif (tanpa tambahan
apa-apa) selama enam bulan. ASI atau air susu ibu adalah nutrisi terbaik bagi
bayi dengan kandungan gizi paling sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan
optimal. Dalam tulisannya yang terdapat pada situs Food and Drug Administration
(FDA) Amerika Serikat, Rebecca D Williams menyebutkan ASI mengandung sedikitnya
100 macam zat yang tidak terdapat dalam susu formula.

Sekitar 80 persen sel penyusun ASI adalah sel makrofag, yaitu sel yang mampu
membunuh bakteri, fungi, dan virus. Untuk perkembangan kecerdasan, ASI
mengandung berbagai nutrisi paling tepat untuk mendukung perkembangan kecerdasan
bayi. Selain semua yang telah disebutkan di atas, memperoleh ASI merupakan hak
asasi setiap bayi sebagaimana Konvensi Hak-hak Anak tahun 1990 telah menegaskan
bahwa tumbuh kembang secara optimal merupakan salah satu hak anak.

Tak ada jadwal khusus yang bisa diterapkan untuk pemberian ASI pada bayi.
Artinya, ibu harus siap setiap saat bayi membutuhkan ASI. Akibatnya, jika ibu
diharuskan kembali bekerja penuh sebelum bayi berusia enam bulan, pemberian ASI
eksklusif ini tidak bisa berjalan sebagaimana seharusnya.

Jika para ibu ingin mempertahankan pemberian ASI eksklusif pada bayi selama enam
bulan, setidaknya ada dua pilihan yang dapat digunakan. Pertama, mengambil kerja
paruh waktu sesudah masa cuti tiga bulan selesai. Artinya, ibu tetap dapat
beraktivitas di luar rumah dan memperoleh penghasilan dengan baik, tetapi masih
sempat menyisakan waktu untuk bayi. Untuk berjaga-jaga jika bayi membutuhkan ASI
saat ibu tak ada di rumah, ASI dapat dipompa keluar dan disimpan dalam botol
untuk selanjutnya diberikan kepada bayi.

Namun, ini bukan cara yang bisa diterapkan begitu saja. Selain tidak mudah untuk
memompa ASI, ibu yang bersangkutan harus ketat mengatur dietnya agar produksi
ASI-nya melimpah sehingga bisa dipompa ke luar. Ambil rata-rata bayi 2-3 bulan
dengan berat badan rata-rata 5,5 kilogram membutuhkan minum sebanyak 700-800
mililiter (ml) per hari. Jika ibu meninggalkan rumah rata-rata enam jam per
hari, maka ia harus memompa ASI sekitar 400 ml mengingat jadwal pemberian ASI
adalah sesuka bayi atau kapan saja.

Ini bukan tugas mudah, tetapi setidaknya lebih baik daripada tidak ada pilihan
sama sekali. Jika ibu harus tetap bekerja seperti biasa (artinya meninggalkan
rumah seharian penuh), maka tugas memompa ASI menjadi jauh lebih berat.

Kondisi fisik dan mental yang lelah karena harus bekerja sepanjang hari dan
terjebak macet dalam perjalanan pergi pulang kantor ditambah diet yang kurang
memadai jelas berakibat pada kelancaran produksi ASI. Jangankan untuk dipompa,
pemberian ASI secara langsung saja sudah semakin sulit dipertahankan.

Pilihan kedua adalah cuti hamil diberikan selama enam bulan. Memang, jangka
waktu cuti ini bisa saja mula-mula dianggap terlalu lama oleh beberapa pihak,
terutama pemberi kerja. Namun, jika kita berpikir ke depan, ke generasi yang
akan datang, harga yang dibayarkan pada cuti enam bulan ini akan sepadan.

Selama enam bulan pertama dalam kehidupannya, bayi mendapat perawatan langsung
dari tangan ibu yang telah melahirkannya. Ibu pulalah orang yang paling dapat
memahami bahwa bayi mempunyai hak-hak yang harus dihargai secara utuh, tanpa
dibebani kewajiban apa pun, termasuk kewajiban bersikap manis, menurut, dan
tidak rewel.

Setelah usianya hampir enam bulan, saat bayi barangkali sudah dapat duduk dan
interaksinya dengan lingkungan sekelilingnya juga semakin baik dan berkembang,
ibu bisa bersiap-siap beraktivitas kembali seperti semula. Bandingkan jika cuti
hamil dan melahirkan hanya selama tiga bulan. Dalam usia belum dua bulan bayi
dipaksakan siap ditinggal ibunya sepanjang hari. Mungkin bayi dengan terpaksa
harus dititipkan kepada orang lain-pembantu, pengasuh, baby sitter-yang
kadang-kadang bahkan belum kita kenal dengan baik.

PEMBERIAN ASI eksklusif dari berbagai segi akan sangat menguntungkan. Selain
bagi bayi, ASI bagi ibu dapat mengurangi risiko perdarahan setelah melahirkan,
mempercepat pemulihan kesehatan ibu, menunda kehamilan, dan mengurangi risiko
terkena kanker payudara. Lebih daripada itu dari sudut pandang psikologis, ASI
adalah sarana pendekat hubungan ibu dan bayi paling efektif.

Kedua opsi tersebut, baik kerja paruh waktu maupun cuti enam bulan, memerlukan
landasan hukum agar ibu tidak perlu bergantung pada kemurahan hati atasan untuk
mengambil cuti atau memilih kerja paruh waktu selama beberapa saat sesudah
melahirkan.

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, kita jelas tertinggal jauh. Di
Inggris ibu yang hamil dan melahirkan bisa mendapatkan cuti 40 minggu, yang
diambil mulai 11 minggu sebelum hari perkiraan lahir sampai 29 minggu setelah
melahirkan. Artinya, mungkin sekali bagi ibu di sana untuk memberikan ASI
eksklusif bagi bayinya. Contoh lain, di Denmark, ibu bisa mengambil cuti empat
atau delapan minggu sebelum melahirkan dan 14 minggu sesudah melahirkan plus 10
minggu cuti untuk merawat bayi.

Ironis sekali jika melihat kenyataan di Indonesia. Kampanye pemberian ASI
eksklusif selama enam bulan tengah mulai digalakkan dan informasi tentang
manfaat ASI eksklusif disebarluaskan merata di tengah masyarakat, bahkan
pemerintah menetapkan Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu (PP-ASI) sebagai
program nasional. Tetapi, pada kenyataannya tidak ada dukungan yang membuat
program ini tidak mustahil dilaksanakan bagi ibu bekerja. Jadi, penyebarluasan
informasi bisa saja berhasil baik, tetapi hanya sebatas informasi yang sulit
sekali diwujudkan sebagai tindakan nyata.

Selayaknya, mempersiapkan generasi yang tangguh dan cerdas di masa depan adalah
tanggung jawab semua pihak. Pemberian ASI eksklusif, bagi bangsa dan negara,
berarti menjamin ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas di masa
depan.

Akida M Widad Ibu yang Menjadi Pengajar pada Jurusan Teknik Kimia Universitas
Muhammadiyah Surakarta

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/13/swara/1426091.htm

Happy World Breastfeeding Week!

July 31st, 2007 by freddybear

Tanggal 1-7 Agustus diperingati sebagai hari menyusui sedunia. Di hari2 ini  warga dunia diingatkan kembali soal karunia alamiah yang dimiliki seorang ibu, yaitu menyusui begitu melahirkan bayinya. Di Indonesia sendiri, tema yang diusung tahun in adalah 1 jam pertama yang begitu berarti menyelamatkah kehidupan. Ya di 1 jam pertama bayi berhak mendapatkan inisiasi dini, bagaimana dia mendapatkan kemampuan menyusu secara alami dan optimal. Begitu lahir, bayi mampu menyusu sendiri pada ibunya. Dan kemampuan ini akan berkurang bila bayi dimandikan dahulu atau dipisahkan beberapa waktu dari sang ibu. Mari, cintai anak2 kita, beri hak mereka atas ASI.

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=91206
Rabu, 4 Agustus 2004
Cegah Hilangnya Refleks Menyusu
Bayi Jangan Langsung Dimandikan Setelah Lahir
Penelitian di Swedia baru-baru ini memperlihatkan bayi yang diletakkan di dekat puting ibunya segera setelah lahir memiliki respon menyusui yang lebih baik, dibandingkan bayi yang dibersihkan lebih dahulu. Kondisi itu sangat menguntungkan sang bayi karena tidak saja mendapatkan kolostrum dari ASI –yang kaya zat gizi untuk kekebalan tubuhnya– tetapi juga melatih refleks menyusunya dengan benar.

Dalam sebuah tayang video disajikan bagaimana bayi baru lahir itu diletakkan di samping puting ibunya mampu menggerakkan tangan dan kakinya untuk mendapatkan puting ibunya. Begitu didapat, bayi dengan cepat membuka lebar mulutnya, lalu menyusui tanpa dibantu tangan ibunya. Setelah 10 menit bayi kemudian dibersihkan, kemudian diletakkan kembali ke dada ibunya. Refleks menyusunya sangat cepat dengan menggunakan tenaganya sendiri.

Sementara bayi yang dibersihkan setelah lahir, lalu diletakkan disamping puting ibunya tidak memperlihatkan respon atas puting ibunya. Meski sudah diletakkan diatas puting, bibir si bayi hanya diam saja. Keinginan menyusu dari bayi baru terjadi 10 jam kemudian, itupun harus dipandu sang ibu karena bayi kesulitan mendapatkan puting ibunya sambil menangis.

"Jika begitu lahir bayi langsung dimandikan, refleks menyusu ini langsung hilang 50 persen. Jika bayi lahir dengan operasi Caesar dan langsung dimandikan, refleks itu 100 persen hilang," kata Ketua Sentra Laktasi Indonesia, dr Utami Roesli mengomentari tayang yang menarik itu dalam sebuah diskusi tentang ASI, di Jakarta, Jumat (30/7) sehubungan dengan peringatan peringatan Pekan ASI Dunia 2004 yang jatuh pada 1-7 Agustus.

Penelitian terbaru itu, menurut dr Utami Roesli, seharusnya bisa mematahkan prosedur persalinan yang selama ini langsung membersihkan bayi segera setelah dilahirkan. "Bila melihat efek yang luar biasa pada bayi, kenapa kita tidak mencoba mempraktekkannya. Tetapi memang usaha ini bukan perkara mudah, karena bukan saja terkait dengan kebiasaan yang sudah mengakar masyarakat, tetapi juga harus berhadapan dengan produsen susu formula yang melakukan praktek gelap di rumah sakit," katanya.

Beberapa rumah sakit memberikan susu formula pada bayi yang baru lahir sebelum ibunya mampu memproduksi ASI. Hal itu menyebabkan bayi tidak terbiasa menghisap ASI dari puting susu ibunya, dan akhirnya tidak mau lagi mengonsumsi ASI atau sering disebut dengan "bingung puting".

"Menghisap susu dari botol itu lain dengan menghisap puting susu ibu. Bayi harus belajar sejak awal dan ibu juga harus belajar menyusui, karena ketrampilan itu memang harus dipelajari oleh keduanya," ujar dr Utami Roesli.

Sejak lahir, seorang bayi harus diajari menyusu dengan cara memasukkan seluruh areola payudara (daerah berwarna cokelat di payudara ibu) ke dalam mulut bayi. Jika bayi hanya mengisap puting susu saja, ASI yang keluar hanya sedikit. "Gudang ASI terletak di bawah daerah cokelat itu. Jika yang diisap hanya putingnya saja, ASI yang keluar hanya sedikit. Sedangkan, kalau dari daerah cokelat itu, ASI yang keluar akan banyak sekali," jelas Utami.

Jika ASI di gudang itu habis, pabrik ASI (alveoli) akan segera memproduksi lagi. Alveoli berbentuk bulat dan bergerombol seperti buah anggur. Alveoli dikelilingi otot yang disebut myoepithel. Otot inilah yang memompa ASI keluar dari alveoli menuju gudang ASI.

Namun, kinerja myoepithel sangat tergantung pada hormon oksitosin yang dikirim otak. Jika oksitosin keluar, otot pun bekerja. Sedangkan, oksitosin bisa keluar jika ibu merasa tenang dan disayang oleh suami serta mendapat dukungan dari orang-orang di sekelilingnya. "Makanya hormon ini disebut hormon kasih sayang. Dan di sinilah ayah memegang peranan penting," tegas Utami.

Macetnya proses pemberian ASI ini disebabkan beberapa hal. Misalnya, bayi yang tidak bisa mengisap, posisi menyusui yang salah, ibu merasa tidak nyaman, atau suami dan lingkungan tidak mendukung. "Tidak ada cerita seorang ibu tidak bisa menyusui atau ASI yang tidak cukup.

Perhatikan saja seekor marmut yang kecil bisa menyusui 12 ekor anaknya. Bayi gajah yang besar juga bisa disusui dengan cukup oleh induknya. Mereka tidak memerlukan susu hewan lain untuk memenuhi kebutuhan susu. ASI diproduksi berdasarkan jumlah yang dikeluarkan," ungkap Utami.

Dua Persen

Ia memperkirakan jumlah ibu yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya sampai berumur enam bulan saat ini masih rendah, yaitu kurang dari dua persen dari jumlah total ibu melahirkan. "Itu antara lain terjadi karena pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI masih rendah, tatalaksana rumah sakit yang salah, dan banyaknya ibu yang mempunyai pekerjaan di luar rumah," ucapnya.

ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. ASI eksklusif adalah makanan terbaik yang harus diberikan kepada bayi, karena di dalamnya terkandung hampir semua zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi.

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=91206

Rabu, 4 Agustus 2004

Cegah Hilangnya Refleks Menyusu

Bayi Jangan Langsung Dimandikan Setelah Lahir

Penelitian di Swedia baru-baru ini memperlihatkan bayi yang diletakkan di dekat puting ibunya segera setelah lahir memiliki respon menyusui yang lebih baik, dibandingkan bayi yang dibersihkan lebih dahulu. Kondisi itu sangat menguntungkan sang bayi karena tidak saja mendapatkan kolostrum dari ASI –yang kaya zat gizi untuk kekebalan tubuhnya– tetapi juga melatih refleks menyusunya dengan benar.

Dalam sebuah tayang video disajikan bagaimana bayi baru lahir itu diletakkan di samping puting ibunya mampu menggerakkan tangan dan kakinya untuk mendapatkan puting ibunya. Begitu didapat, bayi dengan cepat membuka lebar mulutnya, lalu menyusui tanpa dibantu tangan ibunya. Setelah 10 menit bayi kemudian dibersihkan, kemudian diletakkan kembali ke dada ibunya. Refleks menyusunya sangat cepat dengan menggunakan tenaganya sendiri.

Sementara bayi yang dibersihkan setelah lahir, lalu diletakkan disamping puting ibunya tidak memperlihatkan respon atas puting ibunya. Meski sudah diletakkan diatas puting, bibir si bayi hanya diam saja. Keinginan menyusu dari bayi baru terjadi 10 jam kemudian, itupun harus dipandu sang ibu karena bayi kesulitan mendapatkan puting ibunya sambil menangis.

"Tidak ada yang bisa menggantikan ASI karena ASI didesain khusus untuk bayi, sedangkan susu sapi komposisinya sangat berbeda sehingga tidak bisa saling menggantikan," jelasnya.

Menurut dia, ada lebih dari 100 jenis zat gizi dalam ASI antara lain AA, DHA, Taurin dan Spingomyelin yang tidak terdapat dalam susu sapi. Beberapa produsen susu formula mencoba menambahkan zat gizi tersebut, tetapi hasilnya tetap tidak bisa menyamai kandungan gizi yang terdapat dalam ASI. "Lagi pula penambahan zat-zat gizi tersebut jika tidak dilakukan dalam jumlah dan komposisi yang seimbang maka akan menimbulkan terbentuknya zat yang berbahaya bagi bayi," katanya.

Ditegaskan, ASI sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak. "Menurut penelitian, anak-anak yang tidak diberi ASI mempunyai IQ (Intellectual Quotient) lebih rendah tujuh sampai delapan poin dibandingkan dengan anak-anak yang diberi ASI secara eksklusif. Karena itu, mengkonsumsi ASI bagi bayi merupakan hak anak yang hakiki," ujarnya.

Anak-anak yang tidak diberi ASI secara eksklusif juga lebih cepat terjangkiti penyakit kronis seperti kanker, jantung, hipertensi dan diabetes setelah dewasa. Kemungkinan anak menderita kekurangan gizi dan mengalami obesitas (kegemukan) juga lebih besar.

Selain pada anak, pemberian ASI juga sangat bermanfaat bagi ibu. ASI, selain dapat diberikan dengan cara mudah dan murah juga dapat menurunkan resiko terjadinya pendarahan dan anemia pada ibu, serta menunda terjadinya kehamilan berikutnya.

Hal lain yang jauh lebih penting adalah timbulnya ikatan bathin (bonding) yang kuat antara ibu dan anak. "Ibu juga tidak perlu susah-susah melakukan diet untuk mengecilkan perut setelah melahirkan, karena hisapan anak pada puting susu ibu merangsang keluarnya hormon yang dapat mengencangkan dinding-dinding perut ibu kembali," katanya. (T-1)

ASI..ASI..ASI!

July 19th, 2007 by freddybear

http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=300561&kat_id=150

Selasa, 17 Juli 2007
Hadiah Berharga Pertama Bagi Kehidupan
    Konsep pemberian makan bayi usia 0-6 bulan adalah ASI, ASI, dan ASI.

      

 

Sebentuk
bayi mungil yang masih merah, rambut basah, dan mata merem tampak
tengkurang di atas dada ibunya. Cukup lama dia di sana tanpa aktivitas
yang berarti. Pemandangan seperti itu yang terkadang membuat dokter dan
suster atau bidan tidak tahan sehingga cepat-cepat mengambilnya, dan
menyerahkan pada ibunya agar disusui pertama kali.

Namun,
setelah 20 menit, tampak bayi yang baru beberapa menit itu lahir mulai
menggerakkan kepalanya, lalu hidung dan mulutnya mulai mengendus-endus
dada ibunya ke arah kanan. Dia mencoba mencari-cari sumber air susu ibu
(ASI). Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC dari Sentra Laktasi Indonesia
(Selasi) memindahkannya menjauhi arah kanan. Tak lama kemudian sang
bayi ‘merangkak’ kembali ke arah kanan mencari puting ibunya.

Pemandangan
itu bukan rekayasa. Melainkan salah satu video rekaman yang
menggambarkan bagaimana bayi yang baru lahir bila diletakkan di dada
ibunya akan mencari sumber ASI. Bayi tersebut lahir dari seorang ibu di
pedalaman di sebuah desa di Bantul, DIY.

Dan benar. Tak sampai
satu jam, sang bayi bisa menyusu ASI dengan lahap. Pemandangan tersebut
membuat trenyuh siapa pun yang menyaksikan. ”Jadi, beri waktu bayi
yang baru lahir satu jam pertama kehidupannya untuk mengenal dan
mendapatkan ASI,” tutur Utami.

Itulah yang disebut inisiasi
dini, yaitu menyusui langsung setelah bayi lahir. Sayang, tidak jarang
bayi yang lahir langsung ditimbang lalu dimandikan dan baru kemudian
diserahkan ke ibunya. Lalu sang bayi coba diberi ASI.

Pengenalan
ASI awal yang benar adalah bayi yang baru lahir dibersihkan dengan
cukup dilap badannya. ”Jangan hilangkan selaput putih yang ada di
kepalanya,” kata Utami. Kalau ibu khawatir sang bayi akan masuk angin,
kepala mungil tersebut ditutupi topi dan punggungnya ditutup selimut.

Reaksi
bayi atas inisiasi dini berlainan. Ada yang tidak lama sudah bisa mulai
menghisap puting ibunya. Tapi ada juga yang sudah dipaksa-paksa tetap
tidak mau. Ada bayi yang akhirnya tidak bisa atau bahkan tidak mau
mengonsumsi ASI.

Pemadangan berikut yang bisa disaksikan usai acara Media Gathering
‘ASI adalah Solusi: respons lembaga peduli ASI terhadap kenaikan Harga
Susu’ yang diselenggarakan oleh Mercy Corps Indonesia, Sentra Laktasi
Indonesia (Selasi), Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dan Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia (AIMI), pekan lalu, di Jakarta, adalah bayi yang
baru lahir dimandikan dulu dan ditimbang, baru kemudian ditaruh di dada
ibunya.

Reaksinya lamban sekali. Bahkan, ada yang hampir satu
jam baru sang bayi mulai mencari-cari puting ibunya. Itu yang berhasil.
Tidak jarang ibu dan orang-orang di sekitarnya sampai putus asa, sang
bayi tidak bereaksi. Ini termasuk kelompok bayi yang gagal mengenal ASI
pertamanya.

Padahal, ASI pertama yang keluar dari ibu adalah
kolostrum, yang sangat kaya nutrisi dan dibutuhkan bayi untuk tahan
dari infeksi.

Kalori ASI
Menurut
rekomendasi WHO, ASI eksklusif diberikan kepada bayi sejak lahir hingga
enam bulan pertama kehidupannya.  Selama itu, tak perlu makanan dan
minuman tambahan sebab ASI mengandung zat-zat yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan secara lengkap. Setelah itu ASI tetap diberikan dengan
tambahan makanan tambahan yang tepat hingga usia 2 tahun.

”Setelah
usia dua tahun, kebutuhan gizi anak dapat dicukupi dengan variasi
makanan lokal tanpa harus bergantung pada susu sapi,” ujar Dr
Fransiska E Mardiananingsih, MPH dari Mercy Corps Indonesia.

Utami menganggap kenaikan harga susu dan langkanya susu formula di sejumlah kota beberapa waktu lalu ada blessing in disguise (hikmah) tersendiri, yaitu relaktasi (kembalilah menyusui).

Lulusan
FK Unpad itu mengungkapkan, dari 500 ml ASI yang diberikan seorang ibu
ke anaknya yang berumur 2 tahun masih dapat memenuhi energi anak
sebanyak 31 persen, protein 38 persen, vitamin A 45 persen, dan vitamin
C 95 persen.

”Bayangkan bagaimana kalau bayi berusia satu
tahun, atau malah enam bulan. Kita bicara masalah gizi,” ujar
Sekretaris Selasi itu.

Utami menambahkan, kebutuhan kalori per
hari yang dipenuhi dari 500 ml ASI untuk bayi usia 6-8 bulan sebanyak
70 persen, usia 9-11 bulan sebesar 55 persen, dan usia 12-23 bulan
sebanyak 40 persen. Di Indonesia, lanjutnya, susu formula lebih sering
menyebabkan bayi mencret.

Utami lalu mengutip sejumlah
penelitian ilmiah yang menyebutkan, ASI mengurangi 6-8 kali risiko
kanker pada anak (limphoma maligna, leukimia, hodgkin, dan
neuroblastoma), dan mengurangi 2-5 kali kematian akibat penyakit
pernapasan. ASI juga mencegah terjadinya alergi, termasuk eczema,
alergi makanan dan alergi pernapasan selama masa anak-anak. ”Dan, anak
ASI 16x lebih jarang dirawat di rumah sakit,” ujarnya. Ia
menceritakan, Rafa, cucunya, kini berusia 15 bulan, yang mendapatkan
inisiasi dini dan ASI eksklusif selama enam bulan penuh belum pernah
sakit apa pun.

”Jadi, kalau mau donasi, hangan belikan susu formula, tapi makanan untuk ibunya,” tegas Utami.

Pendiri
YOP dan dokter anak, dr Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPaed,
Purnamawati mengemukakan, terjadi kelirumologi dalam pemberian makan
pada batita. Paham yang selama ini dianut ibu-ibu tapi keliru di
antaranya adalah:

* bila batita susah makan maka perlu diberi vitamin dan penambah nafsu, serta perbanyak minum susu
* beri formula sesuai usia untuk anak lebih dari setahun
* semakin komplit dan mahal susu formula, semakin baik untuk anak
* tidak tega memberikan susu yang tidak mahal.

”Susu
bukan lagi makanan utama bagi anak di atas usia 1 tahun melainkan hanya
salah satu asupan kalsium. Kita bisa memperoleh kalsium dari banyak
sumber seperti ikan, telur, keju, yoghurt, tahu, dan brokoli,”  kata
Purnamawati lulusan FK UI ini menegaskan.

”Menurut saya, kalau mengacu pada gizi seimbang, tidak perlu panik tanpa susu,” kata Ir Kresnawan MSc dari Depkes.

Di
akhir presentasinya Utami menunjukkan gambar seorang ibu dari Dhaka,
Srilanka, yang memegang dua anak kembarnya, laki-laki-dan perempuan.
Dia hanya mampu memberikan susu formula pada satu anak, dan dia pilih
anak perempuannya karena dia menganggap anak laki-laki lebih kuat.
Sedangkan bayi laki-laki cukup diberi ASI.

Pada gambar tampak di
tangan kanan dia memegang anak laki-laki (yang badannya subur dan
sehat) sementara di tangan kiri seorang bayi berbadan kecil dan kering
(yang perempuan). Satu jam setelah pengambilan foto tersebut oleh WHO,
bayi yang di tangan kiri meninggal dunia.

Berita Pers Soal ASI dan Makanan Seimbang

July 16th, 2007 by freddybear

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
A:link { color: #0000ff }
–>

Berita
Pers

DAPAT
DITERBITKAN SEGERA

Pemberian
ASI Eksklusif Dan Makanan Seimbang

Sebagai
Solusi Kenaikan Harga Susu   

JAKARTA,
12 Juli 2007
– Empat lembaga peduli air susu ibu (ASI)
menyampaikan keprihatinan mereka terhadap terganggunya asupan nutrisi
bayi dan anak karena kenaikan harga susu. Hal ini tidak perlu terjadi
kalau saja masyarakat memiliki pemahaman yang benar dan tepat
mengenai kebutuhan nutrisi bayi dan anak. Mercy Corps, Sentra Laktasi
Indonesia (Selasi), Yayasan Orangtua Peduli (YOP) dan Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia (AIMI) mengajak masyarakat untuk memenuhi
kebutuhan gizi bayi dan anak secara sempurna dengan memberikan ASI
setidaknya hingga usia 2 tahun dan makanan sehat seimbang. Dengan hal
tersebut, penambahan susu sapi dalam konsumsi sehari-hari bukan
menjadi hal yang utama.      

Dr.
Fransiska Mardiananingsih, MPH dari Mercy Corps menyatakan, “Terlepas
dari promosi pemberian ASI yang terus dilakukan Departemen Kesehatan
dan berbagai lembaga non-pemerintah, akses kepada informasi yang
tepat mengenai ASI dan makanan seimbang memang perlu diperluas.
Karena itu kami menghimbau masyarakat untuk menyebarluaskan informasi
dan memberikan dukungan yang diperlukan orang tua, khususnya para
ibu, untuk memberikan ASI secara tepat.”

Dr.
Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC dari Selasi menjelaskan, “Yang
terbaik adalah tetap memberikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6
bulan dan setelah itu diberikan dengan makanan pendamping ASI hingga
usia 2 tahun atau lebih. Teknik relaktasi adalah solusi bagi para ibu
untuk kembali menyusui bayinya.”

 

Pendiri
YOP dan dokter anak, Dr. Purnamawati S. Pujiarto, SpAK, MMPaed
menambahkan, “Peran serta masyarakat sangat diperlukan untuk
mendukung pemberian nutrisi seimbang tanpa susu formula bagi bayi dan
anak. Yang terutama, berikan makanan buatan rumah dengan bahan segar
alami yang ada di sekeliling kita. Susu bukan lagi merupakan makanan
utama bagi anak di atas usia 1 tahun, melainkan hanya salah satu
asupan kalsium. Kita bisa memperoleh kalsium dari banyak sumber
seperti ikan, telur, keju, yoghurt, tahu, brokoli.”

Wakil
Ketua AIMI, Rahmah Housniati menegaskan, “Kami yakin apabila para
ibu memberikan ASI, maka kenaikan harga susu ini tidak akan
berpengaruh sama sekali. Inilah yang kami alami saat ini.”

Ke-4
lembaga peduli ASI sangat mengharapkan masyarakat dapat memperoleh
informasi yang tepat mengenai ASI dan makanan seimbang, serta
memberikan ASI dan makanan seimbang yang mudah, sehat dan terjangkau
untuk pemenuhan gizi anak. 

- Selesai -

Untuk
informasi lebih lanjut, silakan hubungi:


Mercy
Corps

Dr.
Fransiska Mardiananingsih, MPH

Jl.
Kemang Selatan I no. 3 Jakarta 12730

Tel:
(021) 719 4948

Email:
fningsih@id.mercycorps.org 

Sentra
Laktasi Indonesia

dr.
Utami Roesli, SpA,MBA, IBCLC

Jl.
Tebet Utara 1F No. 12 Jakarta Selatan

Tel:
(021) 8379 5168

Email:
tamiroes@gmail.com 

Yayasan
Orang Tua Peduli

dr.
Purnamawati S Pujiarto SpAK,MMPed 

Komplek
PWR Jl. Taman Margasatwa No. 60

Jakarta
12540

Tel:
(021) 780 0271

Email:
purnamawati.spak@cbn.net.id

Asosiasi
Ibu Menyusui Indonesia

Rahmah
Housniati

Graha
MDS Lantai 4, Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati Blok B1/34, Jl. RS
Fatmawati No. 39

Jakarta
12150

Tel:
(021) 7279 0165

Email:
kontak@aimi-asi.org 

Kampanye ASI da Makanan Home Made nih ceritanya…

July 16th, 2007 by freddybear

KORAN TEMPO
Minggu, 15 Juli 2007

 

Laporan Utama

 

Saatnya Kembali ke Alam

 

"Susu boleh (dikonsumsi), tapi tidak perlu."

 

Sejak dini Sisilia Pujiastuti membiasakan
putrinya, Damai Gayatri, mengkonsumsi hampir semua makanan alami. Sisil
menyusui sendiri bayinya tanpa susu formula dan makanan olahan. Ia
memilih beras merah sebagai sumber serat. Ikan, telur, dan daging
sumber protein. Buah serta sayuran sebagai sumber vitamin.

Untuk camilan si kecil yang kini 15 bulan, Sisil juga tidak
memberikan biskuit seperti orang tua masa kini lazimnya. Sebagai
gantinya, pekerja perusahaan swasta di Jakarta Selatan itu memberikan
buah dan sayuran rebus. "Dia doyan karena tidak pernah merasakan
enaknya biskuit," ujarnya seraya tergelak.

Lantaran telah terbiasa, Damai juga suka makan ikan. Padahal
ibunya bukan pencinta makanan laut. Tapi Sisil berusaha menyukai ikan
untuk memberikan contoh kepada anaknya. "Kami harus konsisten," ujar
Sisil. Makanan olahan pabrik yang diberikan sejauh ini hanyalah pasta
dan keju, yang dikonsumsi sesekali sebagai variasi.

Pendeknya, semuanya diusahakan alami. Berkat ketekunan ibunya,
Damai tumbuh sehat. Paling banter terserang pilek yang biasanya hanya
beberapa hari. Selain putrinya sehat, Sisil juga tak pusing ketika
harga susu formula melonjak. Anggaran belanja tak guncang oleh kenaikan
harga susu.

Langkah Sisil ini sejalan dengan anjuran dokter Utami Roesli.
Menurut Utami, tubuh manusia sejatinya butuh makanan dengan gizi yang
seimbang antara karbohidrat, vitamin, protein, dan mineral. Utami
menganjurkan agar masyarakat tidak terpaku pada prinsip empat sehat
lima sempurna yang mewajibkan susu dalam asupan makanan sehari-hari.

"Susu hanyalah salah satu sumber protein dan kalsium," ujar
dokter spesialis anak itu. Tapi bukan satu-satunya. Dengan gizi
seimbang, kata Utami, tubuh manusia sejatinya tidak butuh susu sapi,
apalagi susu yang mahal. Alam telah menyediakan banyak sumber vitamin,
protein, dan mineral. Telur, makanan berbahan dasar kedelai seperti
tempe dan tahu, daging, serta ikan adalah sumber protein yang baik.

Akan halnya kebutuhan kalsium, yang selama ini diyakini banyak
terkandung dalam susu, ada dalam semua sayuran berwarna hijau. Ikan
teri dan ikan-ikan kecil yang disebut Utami sebagai "ikan balita", yang
bisa dimakan berikut tulangnya, juga tidak boleh diabaikan. Di balik
tampilannya yang kurang menarik dan anggapan makanan murahan, teri dan
ikan balita sangat kaya protein serta kalsium, bisa diandalkan untuk
memasok kalsium.

Utami tidak menganjurkan para ibu mengencerkan susu untuk
mengakali mahalnya harga. Cara ini akan membuat asupan protein untuk
anak berkurang. Ia juga melarang pemberian air tajin. Air tajin, yang
tampangnya memang mirip susu itu, penuh karbohidrat, bukan protein.
Akibatnya, kata Utami, anak akan jadi bodoh karena gizi yang diberikan
justru tidak seimbang.

Menu keluarga dengan gizi seimbang sudah bisa dikonsumsi
anak-anak berusia dua tahun atau lebih, selepas masa menyusu yang
dianjurkan oleh pakar kesehatan dan Al-Quran. Setelah usia dua tahun,
kata Utami, anak-anak dan orang dewasa tidak perlu lagi minum susu.
Apalagi susu hasil olahan pabrik, yang kandungan protein dan kalsiumnya
banyak berkurang akibat proses produksi. "Sapi yang sudah bisa makan
rumput saja nggak mau minum susu induknya, kenapa malah diberikan kepada anak manusia?"

Akan halnya anak-anak dalam masa menyusui dianjurkan agar
kembali ke air susu ibu (ASI). ASI adalah makanan dan pembentuk otak
paling baik bagi bayi. Khasiatnya tidak tergantikan oleh apa pun. ASI
mengandung semua bahan pembentukan otak: lemak ikatan panjang yang
menjadi cikal-bakal AA dan DHA, talin, kolesterol, serta laktosa
lengkap beserta lipase yang berfungsi menyerap semua bahan pembentuk
otak itu. Sedangkan susu formula, kata Utami, tidak memiliki lipase.
Inilah perbedaan mencolok antara ASI dan non-ASI.

Soal kasus banyaknya ibu yang tidak bisa menyusui karena
beberapa alasan seperti bayi tidak bisa menyusu pada ibunya atau
minimnya ASI bisa diatasi dengan kemauan keras. Caranya, memberikan ASI
sedini mungkin begitu bayi lahir. Secara alami bayi sudah bisa mencari
puting ibunya begitu ia lahir. "Persis seperti anak kucing," kata
Utami.

Urusan memberi peneng, menimbang, dan mendata bayi setelah
kelahiran akan menjauhkan bayi dari ibunya. Akibat yang lebih fatal:
membuat bayi tidak tahu bagaimana cara menyusu. Utami menyarankan agar,
begitu lahir, bayi diletakkan di atas perut ibunya dan segera disusui.

Alam telah menyediakan semua bahan penting bagi tubuh manusia.
Belum lagi keuntungan tambahan seperti jaminan bayi tidak tersedak, dan
"hemat energi". Tidak perlu meluangkan tenaga untuk menyeduh susu
dengan air yang suhunya mesti disesuaikan dengan suhu tubuh. Dengan
sederet keuntungan itu, kata Utami, tidak ada alasan untuk tidak
kembali ke alam.

Indah Suksmaningsih, pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia, menganggap tindakan kembali ke alam ini merupakan jalan
keluar yang tidak hanya ampuh untuk menghindari guncangan kantong
akibat harga susu, tapi juga efektif melawan kedigdayaan produsen susu
yang sedikit-banyak mempengaruhi perekonomian keluarga. "Jangan
menyerahkan hidup kepada pasar." ENDRI KURNIAWATI

Press Release AIMI Menyikapi Kenaikan Harga Susu

July 4th, 2007 by freddybear

Saya copy paste saja, mudah2an sudah mendapat jalan untuk dimuat di media.

Untuk dimuat secepatnya

Jakarta, 4 Juli 2007

Untuk informasi hubungi:
Rahmah Housniati (Nia)
(021) 7071 9988
0815 900 3357
nia@…
kontak@…
www.aimi-asi.org

Saatnya ‘Kembali’ ke Air Susu Ibu (ASI)

Menyikapi kenaikan harga susu formula yang kian meningkat, kami dari
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) ingin mengajak kembali
masyarakat untuk ‘kembali’ menyusui bayi dengan Air Susu Ibu (ASI),
karena ASI adalah standar pemberian nutrisi yang terbaik bagi bayi.

Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997 dan
2002, lebih dari 95% ibu pernah menyusui bayinya, namun menyusui dalam
1 jam pertama cenderung menurun 8% pada tahun 1997 menjadi 3,7% pada
tahun 2002. Cakupan ASI eksklusif 6 bulan juga menurun dari 42,4% pada
tahun 1997 menjadi 39,5% pada tahun 2002. Sedangkan penggunaan susu
formula justru meningkat lebih dari 3 kali lipat selama 5 tahun dari
10,8% tahun 1997 menjadi 32,5 % pada tahun 2002.

Hal ini sangat meresahkan dan mengkhawatirkan kami, karena terlihat
pada data tersebut, peningkatan penggunaan susu formula juga
meningkatkan resiko leukemia dan limfoma pada anak, diabetes, gangguan
pencernaan dan diare, pneumonia, asma dan eksim, meningitis, remati,
osteoporosis, kanker payudara dan kanker indung telur, kolesterol yang
lebih rendah dan obesitas pada masa kanak-kanak maupun remaja.

Berbeda dari susu formula yang berasal dari susu sapi, ASI merupakan
suatu spesifik spesies yang khusus hanya dibuat untuk bayi manusia,
bahkan hanya untuk bayi sang Ibu, bahkan lebih jauh lagi, ASI yang
keluar setiap tetesnya memiliki kandungan berbeda yang khas yang
persis sempurna sesuai dengan kebutuhan bayi seorang ibu pada saat
itu. Komposisi yang terkandung dalam susu formula tidak pernah
berubah, semuanya disamaratakan bagi setiap bayi dan pada tingkatan
umur yang sama, walaupun kebutuhan bayi yang satu dengan yang lain
amatlah berbeda. Kandungan lemak (AA, DHA), karbohidrat, protein,
vitamin, mineral, enzym, hormone dan yang paling penting zat antibodi
yang terkandung dalam ASI tidak akan didapatkan dalam susu formula
manapun.

Besar harapan kami, pihak media dapat membantu mensosialisasikan
pentingnya ASI eksklusif kepada masyarakat dengan memberikan informasi
bahwa selama ini kita sering ‘melupakan’ bahwa ada yang jauh lebih
baik, aman dan higienis dibandingkan susu formula dan tentunya tidak
mengalami kenaikan harga seperti susu formula.

Sayang anak..sayang anak… Tolong bantu diisi ya…

June 21st, 2007 by freddybear

Dari Milis Sehat

Dear all,

Dalam rangka turut menyukseskan ASI eksklusif, Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) yang menaungi Milis Sehat, kembali mengadakan kuisioner utk bahan riset kami. Kami mohon partisipasi dari seluruh member untuk dapat mengisi kuisioner tsb.
Kuisioner tidak terbatas untuk para ibu menyusui saja, tetapi juga utk para ayah, calon, calon ayah, bahkan para eyang ataupun mereka yg sedang merencanakan pernikahannya.

Silahkan mengisi kuisioner dan mengirimkannya kembali melalui japri di email : anovita@cbn.net.id . Harap menuliskan judul di subject : Kuisioner ASI.
Kami harapkan juga untuk tidak mengirimkan jawaban kuisioner ke milis.

Terima kasih atas kerjasamanya.
Dengan mengisi kuisioner ini, berarti anda telah aktif membantu menyukseskan ASI eksklusif di masyarakat kita.

Salam sehat
Moderator Milis Sehat

======================================================

KUESIONER ASI

Data Pribadi

Nama : ________________

Usia : ________________

Jenis Kelamin : ________________

PENGETAHUAN

1.. Apakah Anda pernah memperoleh pendidikan/pengajaran mengenai ASI & menyusui?

1.. Ya (sebutkan dari mana) _______________________________________

2.. Tidak

2.. Tahukah Anda bahwa pada usia 0-6 bulan sebaiknya bayi hanya mengkonsumsi ASI?

a. Ya b. Tidak

3.. Menurut anda, apakah Susu Formula masa kini dapat menyamai komposisi dan keunggulan ASI?

a. Ya b. Tidak

4.. Apakah Rumah Sakit / Bersalin yang Anda kunjungi untuk memeriksakan kehamilan memiliki klinik laktasi?

a. Ya b. Tidak

5.. Apakah DSOG/Bidan Anda memberi penjelasan mengenai ASI pada saat pemeriksaan kehamilan dan menyarankan Anda untuk memberikan ASI Eksklusif?

a. Ya b. Tidak

SAAT KELAHIRAN

6.. Apa yang dilakukan DSOG / bidan / perawat anda setelah bayi Anda lahir?

1.. Memperlihatkan bayi pada Anda untuk dilihat saja (tanpa Anda pegang)

2.. Memberikan bayi pada Anda untuk dipeluk dan disusui

3.. Memandikan bayi

4.. Bukan salah satu di atas, sebutkan apa tindakannya

_____________________

7.. Kapan Anda pertama kali menyusui bayi Anda yang baru lahir?

1.. 0-30 menit setelah lahir sebelum bayi dibersihkan

2.. 30 menit - 1 jam setelah kelahiran

3.. 6 jam setelah kelahiran

4.. 6 - 24 jam setelah kelahiran

5.. Lebih dari 24 jam

8.. Apakah papan nama di box bayi Anda atau jam dinding atau kalender di Rumah Sakit / bersalin ada merek Susu Formula?

1.. Ya (sebutkan merek Susu Formulanya dan nama Rumah Sakit/Bersalinnya) ____________________________________________________

2.. Tidak

9.. Apakah bayi Anda tidur bersama dalam satu kamar dengan Anda di Rumah Sakit/ Bersalin (rooming in atau rawat gabung), termasuk di malam hari?

a. Ya b. Tidak

10.. Bila bayi Anda tidak tidur di satu kamar dengan Anda atau tidur di kamar bayi, apakah bayi Anda diberikan kepada Anda setiap kali bayi ingin menyusu, termasuk di malam hari?

a. Ya b. Tidak

11.. Apakah selama di Rumah Sakit / bersalin bayi baru lahir Anda diberikan Susu Formula atau cairan lain selain ASI?

1.. Ya (sebutkan apa yang diberikan)

____________________________________

2.. Tidak

12.. Apakah pada saat bayi pulang ke rumah, Anda dan bayi Anda dibekali contoh / sampel / hadiah dan brosur Susu Formula?

a. Ya b. Tidak

SUSU FORMULA

13.. Apakah anda pernah dihubungi oleh bagian pemasaran / produsen Susu Formula?

a. Ya b. Tidak

14.. Apa yang Anda lakukan ketika Anda dihubungi oleh produsen Susu Formula?

a. Langsung menolak

b. Mendengarkan aau menerima saja semua penjelasannya

c. Berargumentasi

d. Lainnya, sebutkan

_____________________________________________________

15.. (Bagi yang mengkonsumsi Susu Formula) Apakah Anda mengkonsumsi Susu Formula dari produsen tersebut?

a. Ya b. Tidak

16.. Pendapat Anda mengenai promosi Susu Formula saat ini:

a. Baik

b. Sedikit meresahkan namun tidak mengganggu

c. Sangat meresahkan dan menganggu

d. Lainnya, sebutkan

_____________________________________________________

17.. Pendapat Anda mengenai pelayanan kesehatan Ibu dan Anak terutama tentang Laktasi yang Anda peroleh:

a. Kurang sekali

b. Cukup memadai

c. Sangat memuaskan

IBU BEKERJA

18.. Selama Anda bekerja, apakah Anda memeras/memompa ASI dan kemudian disimpan untuk diberikan ke bayi Anda?

a. Ya b. Tidak

19.. Tahukah Anda bahwa Undang-undang Tenaga Kerja mengatur bahwa pekerja wanita patut diberi kesempatan untuk menyusui bayinya?

a. Ya b. Tidak

20.. Apakah tempat Anda bekerja memberikan waktu dan/atau kesempatan bagi Anda untuk memerah atau memompa ASI di tempat kerja?

1.. Ya, sebutkan dimana Anda memompa ASI?

____________________________

2.. Tidak

21.. Apakah di tempat Anda bekerja tersedia ruang khusus untuk memerah/memompa ASI?

1.. Ya

2.. Tidak, sebutkan tempat Anda memerah/memompa ASI selama di tempat bekerja ____________________________

Terima kasih atas waktu dan kesediaan Anda mengisi kuesioner ini -

Mohon kirimkan kuesioner ini hanya ke alamat email anovita@cbn.net.id dengan subject kuisioner asi